Analisis Syair Lagu

Bangunlah Putra Putri Pertiwi
Penyanyi: iwan fals

Sinar matamu tajam namun ragu, kokoh sayapmu semua tau
Tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan, kuat jarimu kala mencengkram

Bermacam suku yang berbeda, bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihku, yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa,putihmu suci penuh kharisma
Pulau-pulau yang berpencar, bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku,singkirkan benalu di tiangmu
Hei, jangan ragu dan jangan malu
Tunjuk kan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah
Membumbung tinggi
Bangunlah putra putri
Ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti….. garuda bukan
burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut….. dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi hayalan

A. Penggunaan Gaya Bahasa Pada Lagu Iwan Fals
Pada dasarnya gaya bahasa berhubungan erat dengan cara seorang pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasan dalam karyanya. Selain itu, Aminuddin (dalam Ali Imron, 2008 : 13) menyatakan bahwa gaya bahasa adalah cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya melalui media bahasa sehingga mewujudkan bahasa yang indah dan harmonis, meliputi aspek : (1) pengarang, (2) ekspresi, dan (3) gaya bahasa. Berdasarkan pemahaman ini, maka timbullah pendapat bahwa gaya bahasa adalah orangnya sendiri atau pengarangnya, karena melalui gaya bahasa kita dapat mengenal bagaimana sikap, pengetahuan, pengalaman dan gagasan pengarang dalam karya sastranya.
Keanekaragaman gaya bahasa akan berpengaruh terhadap penggambaran suasana penuturnya. Gambaran makna yang ditampilkan mungkin hanya menggambarkan suasana keseharian yang rutin dan sering dialami oleh pembacanya. Setiap orangh pasti mempunyai perebedaan penggunaan gaya bahasa dalam penyampaian karya sastranya. Bahkan meskipun mereka berangkat dari gagasan yang sama, bentuk penyampaiannya dalam gaya bahasa senantiasa berbeda. Dalam karya sastra hal demikian disebut individuasi, yakni keunikan dan kekhasan seseorang dalam penciptaan sebuah karya yang tidak pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Dalam pembahasan ini, akan diuraikan lebih jauh mengenai penggunaan gaya bahasa pada lagu Iwan Fals. Dalam setiap lagu Iwan fals memiliki pengungkapan gaya bahasa yang berbeda-beda.
1. Analisis
Bagian 1.
Sinar matamu tajam namun ragu,Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan goyahkan,Kuat jarimu kala mencengkram
Dari bait diatas terdapat gaya bahasa Apostrof yaitu gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanah (Tegap tubuhmu takkan goyahkan, kuat jarimu kala mencengkram).
Di dalam tuturan baik diatas juga terdapat gaya bahasa personifikasi yaitu menggambarkan benda-benda mati seperti benda hidup.
Bagian 2.
Bermacam-macam suku yang yang berbeda,Bersatu dalam cengkremmu
Angin genit mengelus merah putihku,Yang berkibat sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa,Putihmu suci penuh karisma
Pulau-pulau yang berpancar,Bersatu dalam kibarmu
Dari tutur bait diatas terdapat gaya bahasa personifikasi yaitu mempersamakan, benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berpikir, berbuat dan sebagainya seperti manusia. Pada bait diatas terdapat beberapa kata yang termasuk dalam majas personifikasi yaitu pada kata (angin genit mengelus) yaitu genit dan mengelus biasa dilakukan oleh manusia akan tetapi dalam bait ini digunakan objek adalah angin. Disamping itu juga ada kata malu-malu yang biasa dipakai untuk manusia / sifat manusia.

Bagian 3.
Terbanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu disayapmu
Berkibarlah benderaku, singkirkan benalu ditiangmu
Hei, jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu
Dari bait diatas terdapat gaya bahasa repetisi. Gaya bahasa repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai kata yang menunjukkan adanya repetisi adalah (kutu singkirkan) adalah satu bait terdapat 2 kali. Dalam bait tersebut juga terdapat kata disayapmu dan ditiangmu yaitu terdapat pengulangan awalan serta akhiran yang sama dan terdapat pengulangan kata jangan yang semua bertujuan untuk menyalurkan pada khalayak apa yang ingin disampaikan.

Bagian 4.
Mentari pagi sudah membumbung tinggi, bangunlah putra putri pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi, setelah itu kita berjanji
Bait diatas terdapat gaya bahasa personifikasi yaitu mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berpikir, berbuat dan sebagainya, seperti manusia dan gaya bahasa anti klimaks bentuk gaya bahasa yang merupakan suatu tuturan yang penting kemudian diurutkan ketuturan yang kurang penting. Dalam bait diatas yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah (mentari pagi sudah membumbung tinggi dan gaya bahasa anti klimaks adalah mulai dari kalimat Bangunlah putra putri pertiwi, mari mandi dan gosok gigi setelah itu kita berjanji).

Bagian 5
Tadi pagi esuk hari atau lusa nanti, garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut dan cobaku dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan.
Pada bait diatas terdapat gaya bahasa repetisi, yaitu perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Adapun yang menunjukkan adanya gaya bahasa repetisi antara kin (kata bukan) yang dijumpai 2 kali serta kata yang hanya beri juga terdapat 2 kali yang bertujuan untuk lebih menyakinkan.

B. Manipulasi bunyi.
Bunyi merupakan unsur yang bersifat estetik dalam puisi. Bunyi pada puisi merupakan pengungkapan secara emotif yang terjadi dalam diri pengarang dan hendak mengungkapakan serta mempertegas tanda-tanda sehingga dapat memberikan efek estetik yang ekspresif berupa penekanan terhadap makna yang akan diungkapkan dari tanda-tanda dalam puisi. Bunyi erat hubunganya dengan anasir-anasir musik, misalnya: lagu, melodi irama, dan sebagainya (Djoko Pradopo, 2000: 22). Puisi merupakan cikal bakal dari lagu, jadi dapat dikatakan bahwa lagu merupakan puisi, akan tetapi puisi bukanlah lagu, artinya lirik-lirik lagu yang belum diberikan nada-nada berupa musik merupakan bentuk puisi. Paul Verlaine (1844-1896) berkata bahwa, musiklah yang paling utama dalam puisi (De la musique avant tout chose). Para penyair romantik dan simbolis ingin menciptakan puisi yang mendekati musik: merdu bunyinya dan berirama kuat (Djoko Pradopo, 2000: 22).
Penekanan-penekanan bunyi pada lagu dapat memberikan efek ekspresif dan estetik dalam pemaknaannya pada setiap lagu. Manipulasi bunyi dimaksudkan sebagai bentuk pemanfaatan bunyi sebagai media penekanan, dalam memfokuskan penanda-penanda pada beberapa lagu, hingga membentuk suatu pemaknanan yang sama terhadap lagu tersebut, dan menjadi ciri khusus akan lagu-lagu tersebut.
Lagu-lagu ciptaan Iwan Fals mempunyai suatu ciri khusus dalam segi pencitraan dan segi pemanfaatan bunyi, berupa nada-nada atau tambahan efek musik. Lagu-lagunya mempunyai kandungan makna yang spontan akan tetapi mempunyai arti khusus dari segi pengungkapan terhadap gejolak lingkungannya.
Lagu-lagu ciptaan Iwan Fals mempunyai karakter atau style sepontan, tajam dan menyentuh, membuat pendengar tersentuh dalam pelantunan setiap lirik-lirik lagunya. Iwan Fals dalam melantunkan lagu-lagunya terkesan spontan dan sedikit memaksakan antara penggabungan antara bunyi dengan pemilihan kata atau diksi sebagai liriknya. Akan tetapi dari segi pemanfatan bunyi, Iwan Fals sanggup memanipulasi bunyi pada lagu-lagunya untuk menjadikan penekanan-penekanan di setiap lirik lagu tersebut untuk lebih memperjelas gagasan yang akan disampaikannya.
1. Analisis
Bagian 1.
Sinar matamu tajam namun ragu, kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan, kuat jarimu kala mencengkram
Data di atas merupakan bait ke-1 dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Data di atas banyak terdapat unsur bunyi fonem akhiran u serta ditambahkan sedikit unsur bunyi fonem akhiran m dan n sebagai pelengkap dan penyeimbang unsur bunyi fonem akhiran u terkesan berat dan rendah. Bunyi fonem akhiran u yang terdapat pada data di atas meliputi kata: matamu, ragu, sayapmu, tubuhmu, jarimu; dan bunyi fonem akhiran m dan n meliputi kata: tergoyahkan dan mencengkram. Bunyi fonem akhiran u mengilusatrasikan suasana hati pengarang yang prihatin, cemas melihat akan kondisi negeri ini. Bunyi fonem akhiran m dan n meskipun sedikit tetapi dapat menetralisasikan suasana hati pengarang yang sedih, cemas dan prihatin. Karena bunyi fonem akhiran m dan n menandakan kegembiraan dan keceriaan. Kajian makna pada data di atas yakni, pengarang hendak menceritakan tentang ‘burung garuda’ sebagai suatu lambang kebangsaan dari Negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ciri khusus yang digambarkan lewat data di atas tentang burung garuda.

Bagian 2.
Bermacam-macam suku yang berbeda, bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihku, yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanmam wibawa, putihmu suci penuh karisma
Pulau-pulau yang berpencar, bersatu dalam kibarmu
Bagian 2 di atas merupakan bait ke-2 dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Bagian 2 di atas pengarang masih mendominaskan unsur bunyi fonem akhiran u dalam lagunya. Selain unsur bunyi fonem akhiran u, pengarang juga menambahkan beberapa unsur bunyi fonem a, i dan m sebagai penyeimbang makna dari unsur bunyi fonem akhiran u pada data 2 di atas. Bunyi fonem akhiran u yang terdapat pada data meliputi kata: suku, bersatu, cengkrammu, putihku, malu-malu, putihmu, kibarmu, mengelus; dan bunyi fonem a, i dan m meliputi kata: bermacam-macam, berbeda, cengkrammu, angin, genit, merah, berkibar, sedikit, membara, tertanam, wibawa, suci, karisma, berpencar, kibarmu. Bagian 2 di atas banyak juga ditemukan unsur bunyi a, i dan m walaupun fonem tersebut tidak terdapat pada akhiran di suatu kata, tetapi unsur bunyi a, i dan m melekat pada bagian kata misalnya pada kata ‘cengkrammu’ mengandung unsur bunyi fonem m yang khas pada tengah kata, walaupun pada akhir kata tersebut terdapat unsur bunyi fonem u yang mempunyai hubungan bunyi dengan kata-kata yang mempunyai unsur bunyi akhiran u di awal kata ‘cengkrammu’. angin, genit, berkibar, tertanam, kibarmu mengandung unsur bunyi fonem i dan a yang berada ditengah kata. Manipulasi bunyi dimaksudkan adalah penggambaran dari pemanfaatan bunyi yang mempunyai hubungan dengan bunyi-bunyi unsur yang lainya pada lagu. Kajian makna data 2 di atas adalah pengarang hendak berkomentar tentang kesaktian dari pancasila atau burung garuda sebagai lambang dan simbol dari Negara Kesatuan Republik Indonesia serta bendera merah putih yang sebagai bendera bangsa Indonesia. Adapun pada bagian 2 di atas burung garuda dimaksudkan sebagai pengikat dari beranekaragam suku dan budaya di Indonesia dan merah putih sebagai bendera pusaka yang berdiri dan berkibar kokoh dengan karisma yang penuh wibawa dalam mempersatukan bangsa ini.

Bagian 3.
Tebanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku, singkirkan benalu di tiangmu
Hei, jangan ragu dan jangan malu
Tunjukan pada dunia Bahwa sebenarnya kita mampu
Bagian 3 di atas merupakan bait ke-3 dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Pada bagian 3 di atas untuk baris 1 dan 2 terdapat konsturksi bunyi yang sama yaitu pada kata ‘terbanglah’ baris 1 diulang pada baris ke-2 yaitu pada kata ‘berkibarlah’ dengan konstruksi bunyi yang sama walaupun kata pada baris 1 dan baris 2 tersebut tidak sama. Serupa pada kata-kata yang lainya di baris ke-1 dan baris ke-2 yaitu ‘garudaku’ dengan ‘benderaku’, ‘kutu-kutu’ dengan ‘benalu’, ‘sayapmu’ dengan ‘tiangmu’. Seperti pada bait-bait sebelumnya pada lagu “Bangunlah Putra putri Ibu Pertiwi” menggunakan unsur bunyi fonem akhiran u. Berdasarakan teori para ahli, bunyi fonem akhiran u merupakan bunyi rendah yang menandakan sebuah kesedihan. Lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi” banyak menggunakan unsur bunyi fonem akhiran u dalam liriknya. Bunyi fonem u tersebut biasanya dipakai pada partikel klitik ‘ku’ atau ‘mu’ yang melekat pada beberapa kata pada lirik lagunya. Pada data 3 unsur bunyi fonem u yakni melekat pada kata garudaku, kutu-kutu, sayapmu, benderaku, benalu, tiangmu, ragu, malu, tunjukan, mampu. Unsur bunyi fonem a pada data 3 di atas tidak banyak digunakan dalam bait ke-3 sehingga fungsi bunyi fonem a tersebut sedikit kurang terasa dalam maknanya.

Bagian 4.
Mentari pagi sudah membumbung tinggi, bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi, setelah itu kita berjanji
Bagian 4 di atas merupakan bait ke-4 dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Bagian 4 di atas banyak terdapat unsur bunyi fonem akhiran i, unsur bunyi fonem i mengandung ungkapan kegembiraan, senang. Bunyi fonem i lebih pada bunyi yang ringan. Misalnya pada kata ‘Mentari pagi’ kata ini mengandung bunyi yang ringan karena pada akhiran kata terdapat bunyi fonem i. Pada data 4 bunyi fonem i tersebut melekat pada kata Mentari pagi, tinggi, putri, pertiwi, mari mandi, gigi, berjanji. Ditinjau dari makna katanya ‘mentari pagi’ merupakan suatu tanda/ waktu dalam setiap hari, yang dimana setiap orang mulai mempersiapkan segala aktivitas pada hari itu. Pada bait tersebut lebih tercermin suatu sikap patriotisme dan sikap dorongan, semangat/ motivasi dalam memberikan konstribusi terhadap bangsa dan Negara.

Bagian 5.
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti,.. garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut,… dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan

Bagian 5 di atas merupakan bait ke-5 dari lagu Iwan fals yang berjudul ”Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Pada Bagian 5 di atas, unsur bunyi yang banyak digunakan adalah bervariasi. Bervariasi dimaksudkan penggunaan unsur bunyi dalam bait ke-5 ini semua sama antar unsur bunyi fonem u, i, a, n, dan m. Semuanya memilki porsi yang sama dalam penggunaan unsur bunyi di bait ke-5 ini. Seperti yang telah dibahas pada bagian 1-4 tentang penggunaan bunyi fonem-fonem tersebut, unsur bunyi dapat mengilustrasikan suasana hati dan ekspresi pengarang ataupun dapat menggambarkan sisi makna yang akan diungkapkan pengarang lewat lagunya. Pada baris 3 dan 4 pada bagian 5 di atas terdapat konsturksi bunyi yang diulang seperti halnya pada bagian 3. Konstruksi bunyi pada baris 3 dan 4 pada data 5 lebih banyak digunakan pengarang dalam penggunaan unsur bunyi untuk diksinya di setiap lirik adalah bunyi fonem a dan n. Berbeda dengan data 3, unsur bunyi fonem u lebih mendominasi dari pada bunyi fonem a dan n. Sedangakan pada bagian 5 di atas unsur bunyi fonem m dan n lebih mendominasi. Ditinjau dari makna yang ingin disampaikan pengarang pada bait ke-5 ini adalah tentang perlawanan pola pikir orang-orang terhadap simbol negara yang hanya berupa simbol-simbol belaka dan tidak mempuyai suatu makna dan kesaktian. Pengarang hendak memberitahukan kepada semua orang bahwa pancasila itu merupakan suatu simbol dan lambang negara yang memiliki arti khusus bagi bangsa Indonesia.

C. KAJIAN MAKNA
1. Patriotisme dan Cinta Tanah Air
Pembicaraan tentang patriotisme dan cinta tanah air dapat memberikan semangat dan dorongan untuk lebih mengenal dan menyelami rasa kebangsaan selanjutnya membina rasa kebanggaanterhadap bangsa dan negaranya. Lirik lagu Iwan Fals yang bertemakan patriotisme dan cinta tanah air dapat dijumpai dalam lirik lagu “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”.

Sinar matamu tajam namun ragu, kokoh sayapmu semua tau
Tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan, kuat jarimu kala mencengkram

Bermacam suku yang berbeda, bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihku, yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa,putihmu suci penuh charisma
Pulau-pulau yang berpencar, bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku,singkirkan benalu di tiangmu
Hei, jangan ragu dan jangan malu
Tunjuk kan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah
Membumbung tinggi
Bangunlah putra putri
Ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti….. garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut….. dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi hayalan

Pada bait pertama, yang dimaksud dengan ‘sinar matamu’, ‘kokoh sayapmu’, ‘tegap tubuhmu’, dan ‘kuat jarimu’, adalah anggota tubuh dari seekor burung garuda, yang merupakan lambang negara Republik Indonesia. Burung garuda yang dilambangkan sebagai burung perkasa, merupakan penggambaran keadaan negara Indonesia sebagai Negara yang besar kuat sebagai negara kesatuan meskipun terdiri dari bermacam-macam suku-suku bangsa. Bait kedua menunjuk pada bendera kebangsaan negara Indonesia. Warna merah yang membara merupakan lambang kewibawaan dan putih yang suci penuh
dengan kharisma. Kibar bendera tersebut dikatakandapat mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Bait pertama dan kedua ini merupakan pengantar tentang Negara kesatuan Republik Indonesia, lewat penggambaran fisik burung
garuda dan bendera Merah Putih.
Bait ketiga dan keempat merupakan anjuran dan ajakan, untuk berkarya dan membangun bangsa Indonesia. Segala rintangan dan hambatan yang digambarkan dengan “kutu” dan “benalu”, bukan suatu alas an untuk tidak berkarya. Frase “mentari pagi sudah
membumbung tinggi”, mempunyai arti bahwa sudah tiba saatnya untuk berpartisipasi
secara aktif dalam pembangunan tanpa harus menunda waktu lagi. Yang dimaksud dengan “mari mandi dan gosok gigi”, adalah suatu tindakan atau persiapan yang harus dilakukan apabila akan melakukan suatu aktivitas.
Dengan demikian, yang diperlukan dalam membangun Negara Indonesia ini adalah suatu tindakan nyata tanpa perlu banyak teori. Hal ini ditegaskan dalam bait kelima dengan kata-kata ‘garuda bukan burung perkutut, ‘sang saka bukan sandang pembalut’, dan ‘Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut’. Sila-sila dalam Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dan dasar negara kesatuan Republik Indonesia bukanlah suatu hafalan kata-kata, tetapi harus direalisasikan dengan tindakan yang nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Litik lagu ini memberikan gambaran tentang tugas seorang warga negara sebagai anggota masyarakat yang mempunyai kewajiban
membangun negaranyamelalui bidang dan keahlian masing-masing.

SKKD Bhs. Indonesia SMA

Standar Kompetensi & Kompetensi Dasar B. Indonesia SMA
A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.

Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
1. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2. guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
4. orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah;
5. sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

B. Tujuan

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis.

Pada akhir pendidikan di SMA/MA, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra.

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas X, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung
1.1 Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita dan nonberita)
1.2 Mengidentifikasi unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu cerita yang disam¬¬paikan secara langsung/melalui rekam¬an
Berbicara
2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi melalui kegiatan berkenalan, berdiskusi, dan bercerita

2.1 Memperkenalkan diri dan orang lain di da¬lam forum resmi dengan intonasi yang tepat
2.2 Mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku)
2.3 Menceritakan berbagai pengalaman dengan pilihan kata dan ekspresi yang tepat
Membaca
3. Memahami berbagai teks bacaan nonsastra dengan berbagai teknik membaca
3.1 Menemukan ide pokok berbagai teks nonsastra dengan teknik membaca cepat (250 kata/menit)
3.2 Mengidentifikasi ide teks nonsastra dari berbagai sumber melalui teknik membaca ekstensif
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam berbagai bentuk paragraf (naratif, deskriptif, ekspositif)
4.1 Menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif
4.2 Menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskriptif
4.3 Menulis gagasan secara logis dan sistematis dalam bentuk ragam paragraf ekspositif
Mendengarkan
5. Memahami puisi yang disampaikan secara langsung/tidak langsung
5.1 Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman
Mengungkapkan isi suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman
Berbicara
6. Membahas cerita pendek melalui kegiatan diskusi

6.1 Mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi
6.2 Menemukan nilai-nilai cerita pendek melalui kegiatan diskusi

Membaca
7. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan cerpen

7.1 Membacakan puisi dengan lafal, nada, tekanan, dan intonasi yang tepat
7.2 Menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi

8.1 Menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
8.2 Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

Kelas X, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami informasi melalui tuturan
9.1 Menyimpulkan isi informasi yang disampaikan melalui tuturan langsung
Menyimpulkan isi informasi yang didengar melalui tuturan tidak langsung (rekaman atau teks yang dibacakan)
Berbicara
10. Mengungkapkan komentar terhadap informasi dari berbagai sumber

10.1 Memberikan kritik terhadap informasi dari media cetak dan atau elektronik
Memberikan persetujuan/dukungan terhadap artikel yang terdapat dalam media cetak dan atau elektronik

Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai
11.1 Merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai
11.2 Merangkum seluruh isi informasi dari suatu tabel dan atau grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai
Menulis
12. Mengungkapkan informasi melalui penulisan paragraf dan teks pidato
12.1 Menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif
12.2 Menulis gagasan untuk meyakinkan atau mengajak pembaca bersikap atau melakukan sesuatu dalam bentuk paragraf persuasif
12.3 Menulis hasil wawancara ke dalam beberapa paragraf dengan menggunakan ejaan yang tepat
12.4 Menyusun teks pidato
Mendengarkan
13. Memahami cerita rakyat yang dituturkan

13.1 Menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman
13.2 Menjelaskan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman
Berbicara
14. Mengungkapkan pendapat terhadap puisi melalui diskusi

14.1 Membahas isi puisi berkenaan dengan gambaran penginderaan, perasaan, pikiran, dan imajinasi melalui diskusi
14.2 Menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat melalui diskusi
Membaca
15. Memahami sastra Melayu klasik

15.1 Mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra Melayu klasik
15.2 Menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik
Menulis
16. Mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain ke dalam cerpen

16.1 Menulis karangan berdasarkan kehidupan diri sendiri dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar)
16.2 Menulis karangan berdasarkan pengalaman orang lain dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar)

Kelas XI, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami berbagai informasi dari sambutan/khotbah dan wawancara
1.1 Menemukan pokok-pokok isi sambutan/ khotbah yang didengar
1.2 Merangkum isi pembicaraan dalam wawancara
Berbicara
2. Mengungkapkan secara lisan informasi hasil membaca dan wawancara
2.1 Menjelaskan secara lisan uraian topik tertentu dari hasil membaca (artikel atau buku)
2.2 Menjelaskan hasil wawancara tentang tanggapan narasumber terhadap topik tertentu
Membaca
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring

3.1 Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif
3.2 Membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk proposal, surat dagang, karangan ilmiah

4.1 Menulis proposal untuk berbagai keperluan
4.2 Menulis surat dagang dan surat kuasa
4.3 Melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka dan catatan kaki
Mendengarkan
5. Memahami pementasan drama
5.1 Mengidentifikasi peristiwa, pelaku dan perwatakannya, dialog, dan konflik pada pementasan drama
5.2 Menganalisis pementasan drama berdasarkan teknik pementasan
Berbicara
6. Memerankan tokoh dalam pementasan drama

6.1 Menyampaikan dialog disertai gerak-gerik dan mimik, sesuai dengan watak tokoh
6.2 Mengekpresikan perilaku dan dialog tokoh protogonis dan atau antagonis
Membaca
7. Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/novel terjemahan

7.1 Menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat
7.2 Menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan
Menulis
8. Mengungkapkan infomasi melalui penulisan resensi

8.1 Mengungkapkan prinsip-prinsip penulisan resensi
8.2 Mengaplikasikan prinsip-prinsip penulisan resensi

Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami pendapat dan informasi dari berbagai sumber dalam diskusi atau seminar
9.1 Merangkum isi pembicaraan dalam suatu diskusi atau seminar
9.2 Mengomentari pendapat seseorang dalam suatu diskusi atau seminar
Berbicara
10. Menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi atau seminar
10.1 Mempresentasikan hasil penelitian secara runtut dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar
10.2 Mengomentari tanggapan orang lain terhadap presentasi hasil penelitian
Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca cepat dan membaca intensif

11.1 Mengungkapkan pokok-pokok isi teks dengan membaca cepat 300 kata per menit
11.2 Membedakan fakta dan opini pada editorial
dengan membaca intensif
Menulis
12. Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman/ringkasan, notulen rapat, dan karya ilmiah

12.1 Menulis rangkuman/ringkasan isi buku
12.2 Menulis notulen rapat sesuai dengan pola penulisannya
12.3 Menulis karya ilmiah seperti hasil pengamatan, dan penelitian
Mendengarkan
13. Memahami pembacaan cerpen
13.1 Mengidentifikasi alur, penokohan, dan latar dalam cerpen yang dibacakan
13.2 Menemukan nilai-nilai dalam cerpen yang dibacakan

Berbicara
14. Mengungkapkan wacana sastra dalam bentuk pementasan drama

14.1 Mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama
14.2 Menggunakan gerak-gerik, mimik, dan intonasi, sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama
Membaca
15. Memahami buku biografi, novel, dan hikayat
15.1 Mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh
15.2 Membandingkan unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan dengan hikayat
Menulis
16. Menulis naskah drama
16.1 Mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog naskah drama
16.2 Menarasikan pengalaman manusia dalam bentuk adegan dan latar pada naskah drama

Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami informasi dari berbagai laporan
1.1 Membedakan antara fakta dan opini dari berbagai laporan lisan
1.2 Mengomentari berbagai laporan lisan dengan memberikan kritik dan saran
Berbicara
2. Mengungkapkan gagasan, tanggapan, dan informasi dalam diskusi

2.1 Menyampaikan gagasan dan tanggapan dengan alasan yang logis dalam diskusi
2.2 Menyampaikan intisari buku nonfiksi dengan menggunakan bahasa yang efektif dalam diskusi

Membaca
3. Memahami artikel dan teks pidato
3.1 Menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif
3.2 Membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat
Menulis
4. Mengungkapkan infomasi dalam bentuk surat dinas, laporan, resensi

4.1 Menulis surat lamaran pekerjaan berdasarkan unsur-unsur dan struktur
4.2 Menulis surat dinas berdasarkan isi, bahasa, dan format yang baku
4.3 Menulis laporan diskusi dengan melampirkan notulen dan daftar hadir
4.4 Menulis resensi buku pengetahuan berdasarkan format baku
Mendengarkan
5. Memahami pembacaan novel
Menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi vokal, intonasi, dan penghayatan
Menjelaskan unsur-unsur intrinsik dari pembacaan penggalan novel

Berbicara
6. Mengungkapkan pendapat tentang pembacaan puisi
6.1 Menanggapi pembacaan puisi lama tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
6.2 Mengomentari pembacaan puisi baru tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
Membaca
7. Memahami wacana sastra puisi dan cerpen
7.1 Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai
7.2 Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
Menulis
8. Mengungkapkan pendapat, informasi, dan pengalaman dalam bentuk resensi dan cerpen
8.1 Menulis resensi buku kumpulan cerpen berdasarkan unsur-unsur resensi
8.2 Menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain (pelaku, peristiwa, latar)

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami informasi dari berbagai sumber yang disampaikan secara lisan

9.1 Mengajukan saran perbaikan tentang informasi yang disampaikan secara langsung
9.2 Mengajukan saran perbaikan tentang informasi yang disampaikan melalui radio/televisi
Berbicara
10. Mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks
10.1 Mempresentasikan program kegiatan/proposal
10.2 Berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis melalui kegiatan membaca cepat dan membaca intensif

11.1 Menemukan ide pokok suatu teks dengan membaca cepat 300-350 kata per menit
11.2 Menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi, deduksi dengan membaca intensif
Menulis
12 Mengungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola
12.1 Menulis karangan berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan deduktif dan induktif
12.2 Menulis esai berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan pembuka, isi, dan penutup
Mendengarkan
13 Memahami pembacaan teks drama

13.1 Menemukan unsur-unsur intrinsik teks drama yang dididengar melalui pembacaan
13.2 Menyimpulkan isi drama melalui pembacaan teks drama
Berbicara
14 Mengungkapan tanggapan terhadap pembacaan puisi lama
14.1 Membahas ciri-ciri dan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam
14.2 Menjelaskan keterkaitan gurindam dengan kehidupan sehari-hari
Membaca
15 Memahami buku kumpulan puisi kontemporer dan karya sastra yang dianggap penting pada tiap periode
15.1 Mengidentifikasi tema dan ciri-ciri puisi kontemporer melalui kegiatan membaca buku kumpulan puisi komtemporer
15.2 Menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode

Menulis
16 Mengungkapkan pendapat dalam bentuk kritik dan esai

16.1 Memahami prinsip-prinsip penulisan kritik dan esai
16.2 Menerapkan prinsip-prinsip penulisan kritik dan esai untuk mengomentari karya sastra

E. Arah Pengembangan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

Rangkuman Buku Teori Fiksi Karya Robert Stanton

BAB I
PENDAHULUAN

A. Perkembangan Baru Dunia Sastra Indonesia
Dekade 1970-an merupakan masa perkembangan baru dalam kesusastraan Indonesia yang membawa perubahan penting di tengah kehidupan masyarakat.Perkembangan itu ditandai antara lain dengan banyaknya karya sastra baik puisi,cerpen,novel,maupun drama yang diterbitkan.Karyasastra berbagai genrenya adalah anak zamannya yang melukiskan corak,cita-cita,aspirasi,dan perilaku masyarakatnya sesuai dengan hakikat dan eksistensi karya sastra yang merupakan interprensi atas kehidupan (Hodson,1979:132).
Diantara tiga genre karya sastra yakni puisi,fiksi,dan drama,karya fiksi novellah yang paling dominan.Usaha mengeksploitasi estetika yang berada jauh di luar politik adalah penggalian tradisi pada sumber kekayaan khasanah sastra Indonesia sendiri (Mahayana,2007:30).Karya sastra merupakan dunia imajinatif yang merupakan hasil kreasi pengarang setelah merefleksi lingkungan sosial kehidupannya.Novel merupakan pengolahan masalah-masalah sosial ke masyarakat oleh kaum terpelajar Indonesia sejak tahun 1920-an dan yang sangat digemeri oleh sastrawan (Hardjana,1989:71).
B. Sastra Sebagai Media Pengembangan Budaya Nasional
Karya sastra merupakan salah satu alternatif dalam rangka pembangunan kepribadian dan budaya masyarakat (character and cultural building) yang berkaitan eratdengan latar belakang struktural sebuah masyarakat (Kuntowijoyo,1987:15).Karya-karya fiksi dan puisi yang diagungkan sebagai karya sastra(literer) adalah karya-karya yang berhasil membangunkan manusia atas rasa empati dengan tokoh-tokoh dalam karya tersebut.Mengkaji karya sastra akan membantu kita menangkap makna yang terkandung di dalam pwngalaman-pengalaman pengarang yang disampaikan melalui para tokoh imajinatifnya dan memberikan cara-cara memahami segenap jenis kegiatan sosial kemasyarakatan serta maksud yang terkandung di dalam kegitan-kegiatan tersebut baik kegiatan masyarakat kita sendiri maupun masyarakat lainnya.
C. Keluarga Permana Sebgai Novel Fenomenal
Novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H. merupakan salah satu novel yang fenomenal sekaligus kontroversial.Fenomenal karena Keluarga Permana mengupas masalah-masalah yang khas Indonesia sejak zaman kemerdekaan hingga kini yakni hubungan antarumat beragama.Kontroversial karena novel ini lahir pada saat masyarakat Indonesia yang pluralistik dan multiagama sedang diramaikan oleh berbagai masalah keagamaan dan kerukunan antarumat beragama.Khas karena masalah semacam ituagaknya hanya terdapatdi dalam masyarakat Indonesia yang pluralistik sifatnya baik dalam suku bangsa,etnik,tradisi,bahasa maupun agamanya.Rawan dan peka karena masalah sosial keagamaan semacam itu termasuk dalam SARA (suku,agama,ras,dan antargolongan) yakni hal-hal yang dianggap dapat mengganggu stabilitas nasional dalam kehidupam berbangsa,kaitannya dengan persatuam dan ketahanan nasional yang dalam dua dekade terakhir ini sedang menghadapi tantangan di berbagai wilayah di tanah air.
Yang menjadikan novel ini istimewa dan penting menurut Teeuw (1989:188) adalah keberhasilannya dalam mengungkapkan konflik keagamaan yang sering melanda keluarga Islam pada umumnya.Masalah pergantian agama dalam masyarakat yang terjadi karena adanya berbagai cara yang tidak sehat dan tidak menjaga rasa saling menghargai dan hormat-menghormati (tepaselira:17).Menurut Mohammad (1982:145), sastra keagamaan yang baik adalah karya sastra yang tidak bermaksud mengslamkan atau mengkristenkan pembacanya,melainkan untuk membantu pembaca dalam menyelesaikan sendiri masalah hidupnya,mengetuk pembaca dengan pertanyaan yang menggoda hingga pembaca menemukan jawabannya.
D. Permasalahan
Dalam konteks ilmu sastra penelitian merupakan suatu proses penajaman tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem sastra.Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana wujud bangunan struktur novel Keluarga Permana karya Ramadhani K.H.? (2) Bagaimana makna dimensi sosial keagamaan dalam novel Keluarga Permana karya Ramadhani K.H ? Denan demikian masalah yang dihadapi dan yang hendak dijawab melalui penelitian ini adalah hubungan antarumat beragama sebagai gejala sosial dan konflik sosial keagamaan yang ditimbulkan dalam Keluarga Permana sebagai gejala sastra.
E. Tujuan dan Manfaat Kajian
Sesuai dengan permasalahan penelitian,maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan wujud bangunan struktur novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H.? (2) Mengungkapkan hubungan antarumat beragama sebagai gejala sosial dan konflik sosial keagamaan yang ditimbulkan dalam Keluarga Permana. (3) Memaparkan Keluarga Permana dalam memperbincangkan aspek kehidupan yang rawan dan peka itu.
Adapun manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua yakni manfaat teoritis dan praktis.Manfaat teoritis,pertama yakni menerapkan teori sastra terhadap sastra Indonesia khususnya dalam usaha menelaah Keluarga Permana.Kedua,untuk melanjutkan penelitian-penelitian serupa mengenai Keluarga Permana yang telah terlenih dahulu dilakukan oleh para pengamat/kritikus sastra yang selama ini baru berupa telaah pendek dan secara umum.
Manfaat praktis penelitian ini ialah: (1) Memperluas wawasan pemikiran kepada pembaca mengenai berbagai fenomena sosial keagamaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang pluralistik yang diperbincangkan dalam sastra Indonesia modern. (2) Memberikan dasar-dasar dan informasi bagi pembaca dalam upaya meningkatkan apresiasi sastra terhadap Keluarga Permana dan sastra Indonesia modern pada umumnya.
F. Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori
a. Tinjauan Pustaka
Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa pustaka/tulisan yang mengkaji novel Keluarga Permana.Pertama,Teeuw dalam SastraIndonesia Modern II (1979).Kedua,Jakob Sumardjo dalam Pengantar Novel Indonesia (1991).Adapun pustaka yang mengkaji dimensi sosial keagamaan dalam novel Keluarga Permana adalah sebuah skripsi karya Sujarwanto (1979) berjudul “Masalah Keagamaan dalam Novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H.”Mengkaji novel Keluarga Permana dari segi masalah keagamaannya.
b. Landasan Teori
Dalam telaah sastra modern,hakikat karya sastra yang paling mendasar adalah tindak komunikasi sehingga aspek komunikasi memegang peran penting.Keluarga Permana yang menjadi objek penelitian ini merupakan karya sastra genre fiksi novel.Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah makna dimensi sosial keagamaan dalam Keluarga Permana yang diangkat dari tema yang merupakan salah satu unsur karya.Sesuai dengan hakikat sastra sebagai tindak komunikasi,maka cara yang dipilih dalam penelitian dalam penelitian ini adalah meletakkan dimensi sosial keagamaan dalam sistem komunikasi sastra.
a) Novel Indonesia Mutakhir
Novel Indonesia berkembang pesat sejak dekade 1979-an karena didukung oleh beberapa faktor yakni: (1) adanya maecenas sastra berhubungan dengan makin stabilnya keadaan ekonomi Indonesia, (2) kebebasan mencipta sastra (bersastra) yang relatif terseenggara sejak tahun 1967, (3) dukungan pers yang menyediakan rubrik sastra dan budaya dalam majalah dan surat kabar,dan (4) berkembangnya konsumen sastra terutama di kalangan muda (Sumardjo,1982:15-16).
Gejala-gejala dalam sastra yang membentuk sastra Indonesia mutakhir menurut Darma menyangkut filsafat,kerinduan arkitipal dan sofistikasi dalam karya sastra.Filsafat,dapat diucapkan lewat sastra,sementara itu sendiri sekaligus dapat bertindak sebagai filsafat.Kerinduan arkitipal,menyaran pada adanya kecenderungan para sastrawan yang berusaha menggalai kembali akar tradisi subkebudayaan.Hakikat kerinduan arkitipal adalah kerinduan terhadap sebuah subkebudayaan yang telah membentuk kita menjadi manusia Indonesia.Sofistikasi,menyaran pada pandangan pemikiran baru yang mengkristal dalam filsafat.
b) Novel:Struktur dan Unsur-unsurnya
Novel merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab kreatif sebagai karya seni yang berunsur estetik dengan menawarkan model-model kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh pengarang.Stanton (1995:11-36) membagi unsur-unsur yang membangun novel menjadi tiga,yakni fakta (facts),tema (theme),dan sarana sastra (literary devide).Menurut kaum strukturalis,unsur fiksi (teks naratif) dapat dibagi menjadi dua yakni unsur cerita (story,content) dan wacana (discourse,expression).
c) Teori Strukturalisme
Menurut Peaget (dalam Zaimar,1991:20),strukturalisme adalah semua doktrin atau metode yang dengan suatu tahap abstraksi tertentu menganggap objek studinya bukan hanya sekedar sekumpulan unsur yang terpisah-pisah melainkan suatu gabungan unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain sehingga yang satu tergantung pada yang lain dan hanya dapat didefinisikan dalam dan oleh hubungan perpadanan dan pertentangan dengan unsur-unsur lainnya dalam suatu keseluruhan.Teeuw (1984:135-136) menandaskan bahwa tujuan analisis struktural adalah membongkar dan memaparkan secermat mungkin keterkaitan dan keterjalinan berbagai unsur yang secara bersama-sama membentuk makna.Strukturalisme dinamik adalah model semiotik yang memperlihatkan hubungan dinamik dan tegangan yang terus-menerus antara keempat faktor yakni pengarang,karya,pembaca dan realitas atau kesemestaan.
d) Teori Semiotik
Tujuan analisis karya sastra adalah mengungkapkan maknanya.Manusia sebagai homo signicans,dengan karyanya akan memberi tanda kepada dunia nyata atas dasar pengetahuannya.Semiotik merupakan suatu disiplin ilmu yang meneliti semua bentuk komunikasi antarmakna yang didasarkan pada sistem tanda (Segers,1978:14).Peirce (dalam Abrams,1981:170) membedakan tiga kelompok tanda yaitu (1) ikon,adalah suatu tanda yang menggunakan kesamaan dengan apa yang dimaksudkannya,misalkan kesamaan peta dengan wilayah geografis yang digambarkannya, (2) indeks,adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya,misalnya asap merupakan tanda akan adanya api,dan (3) simbol,adalah hubungan antara hal/sesuatu (item) penanda dengan item yang ditandainya yang sudah menjadi konvensi masyarakat,misalnya lampu merah berhenti.Mengutip pendapat Saus-sure,Barthes menyatakan bahwa semiotik mengacu pada dua istilah kunci yakni signifiant (penanda) dan signifire (petanda).Penanda adalah imaji bunyi yang bersifat psikis sedangkan petanda adalah konsep.
e) Teori Interteks
Teori interteks memandang setiap teks sastra peru dibaca dengan latar belakang teks-teks lain dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaan sastra tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai acuan.Kristeva (1980:36) menyatakan bahwaintertekstual adalah masuknya teks lain ke dalam suatu teks,saling menyilang dan menetralisasi satu dengan lainnya.Hubungan intertekstualitas adalah hubungan antarkarya dan juga penanda dan partisipasinyadalam lingkup dirkursif budaya.Perspektif intertekstualitas,kutipan-kutipan yang membangun teks adalah anonim,tak terjaki walaupun demikian sudah dibaca;kutipan-kutipan tersebut berfungsi sebagai (yang) sudah dibaca (Barthes dalam Culler,1981:103)
f) Kode Bahasa, Ssatra, dan Budaya
Kode pertama yang berlaku bagi tiap teks sastra adalah kode bahasa yang dipakai sebagai media karya sastra.Setiap tanda dalam unsur bahasa itu mempunyai arti tertentu yang secara konvensional disetujui,diterima,dan mengikat masyarakat tidak hanya dalam arti bahwatanda itu merupakan berian,tetapi yang lebih penting lagi di dalam sistem tanda itu tersedia perlengkapan koseptual yang sukar dihindari.Sebagai karyasastra,novel memiliki konvensi sastra,bukan sebagai sistem yang beku dan ketat melainkan sistem yang luwes dan penuh dinamika.
c. Metode Penelitian
Kajian dimensi sosial keagamaan novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H. ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal,keadaan,fenomena dan tidak terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi analisis dan interpretasi data tersebut (Sutopo,2006:127). Analisisnya mengarah pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya menurut apa adanya.
Data penelitian ini adalah data kualitatif yakni data lunak (soft data) berupa kata,frasa,kalimat,dan wacana dalam novel Keluarga Permana.Pengumpulan data ditempuh dengan teknik pusaka,simak,dan catat. Pertama, dilakukan pembacaan dan penghayatan sumber data utama yakni novel Keluarga Permana,Selanjutnya pengumpulan data dilakukan dengan teknik analisis isi (content analysis) yang meliputi teknik simak dan catat serta teknik pusaka.Dalam rangka pengungkapan makna Keluarga Permana,analisis data dilaksanakan melalui metode pembacaan model semiotik yakni pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik (Riffaterre,1978:5-6).Pembacaan heuristik adalah pembacaan menurut konvensi atau struktur bahasa (pembacaan semiotik tingkat pertama).Adapun pembacaan hermemeutik adalah pembacaan ulang dengan memberikan interpretasi berdasarkan berdasarkan konvensi sastra (pembacaan semiotik tingkat kedua).

BAB II
PENGARANG, LATAR SOSIAL BUDAYA, DAN KARYANYA

A. Ramadhan K.H.,dan Kesadaran Sosial
Sastra yang besar selalu merupakan suatu tindakan historis (historical),karena mengekspresikan suatu imajimasi yang global mengenai manusia dan alam semesta (Goldmaan,1981:41).Ramadhan Karta Hadimaja nama lengkap pengarang ini,tetapi ia lebih dikenal dengan Ramadhan K.H. dalam dunia sastra Indonesia.Sastrawan yang lahir pada tanggal 16 Maret 1927 di Bandung dan besar di Cianjur tanah Priangan Jawa Barat Sumardjo,1991:46),pendidikan terakhirnyaadalah Akademi Dinas Luar Negeri.Perhatiannya yang lebih besar pada dunia kesenian khususnya kesusastraan membawanya meninggalkan akademi tersebut.Ramadhan pada mulanya suka melukis.Dengan dorongan dan bantuan kakaknya,sastrawan Aoh Karta Hadimaja,mulailah ia menulis karya sastra.Sejak tahun 1952 ia menggeluti dunia sastra.Mula-mula cerita pendek yang ditulisnya kemudian sajak dan akhirnya ia lebih dikenal sebagai novelis.
Namanya mulai mencuat di kalangan sastrawan Indonesia berkat kumpulan sajaknya yang berjudul Priangan Si Jelita (Balai Pustaka,1963) berhasil memenangkan hadiah pertama dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) untuk karya puisi Indonesia tahun 1957-1958 (Rosidi,1977:134).Selain sebagai sastrawan,Ramadhan juga dikenal sebagai wartawan Indonesia senior.Kemahirannya dalam tulis-menulis dan pengalamannya yang luas telah membuatnya pernah dipercaya sebagai redaktur beberapa majalah,antara lain Kisah,Siasat,Siasat Baru,Kompas,dan Budaya Jaya (1972-1979).Ia pernah dipercaya masyarakat seni untuk menjabat Sekkretaris Dewan Kesenian Jakarta (1971-1974) dan pada tahun 1977-1981 menjadi Direktur Pelaksananya.Tahun 1973 Ramadhan mewakili Indonesia dalam Kongres Penyair Sedunia di Taipei,Taiwan (Eneste,1981:77).Novel pertamanya,Royan Revolusi (Gunung Agung,1971) telah berhasil pula memenangkan hadiah pertama dalam sayembara penulisan cerita yang diselenggarakan UNESCO-IKAPI pada tahun 1968
.Karya-karya Ramadhan itu mencerminkan kondisi,situasi,dan cita-cita masyarakat dalam suatu kurun waktu tertentu.Karya-karyanya menunjukkan ketrpihaknya kepada orang-orang kecil,orang lemah yang tak berdaya dalam menghadapi ketidakadilan,yang terjalin erat dengan moral dan bahkan agama,yang kesemuanya itu merupakan nafas dan denyut kehidupan nyata.Salah satu pencerminan sastra terhadap apa yang hidup dalam masyarakat adalah sasra kritik (Sawardi,1975:1).Artinya,sastra yang mengandung unsur kriik di dalamnya terkandung penilaian terhadap sesuatu.

B. Latar Sosial Budaya Ramadhan K.H.
Kehadiran Keluarga Permana sebagai karya sastra yang mengemukakan permasalahan keagamaan tidak terlepas dari struktur sosial masyarakat Sunda khususnya dan Indonesia umumnya yang di dalamnya terjadi interakasi sosial budaya sebagai bagian dari proses pengaruh-mempengaruhi.Interaksi sosial antara Ramadhan dengan lingkungannya meliputi sebagai aktivitas dalam masyarakat yang menyangkut sistem pranata sosial dalam masyarakat itu.Struktur sosial melukiskan hubungan interaksi antara Ramadhan dengan masyarakat secara sistematis sesuai dengan peran yang saling berkaitan satu dengan lainnya.Masyarakat Sunda,mayoritas beragama Islam dan sepanjang sejarahnya masyarakat Sunda didominasi oleh warna Islam (Ekadjati,1984:95).Corak Islam yang mewarnai masyarakat Sunda itu terlihat dalam kehidupan keseharian mereka dan juga tercermin di dalam karya sastranya.
Di dalam karya sastra Sunda tercermin struktur sosial masyarakat yang menggambarkan bahwa Islam telah menjadi pegangan hidupnya.Artinya,Islam merasuk di dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam lingkup budaya,kehadiran Keluarga Permana sebagai karya sastra dapat dipandang sebagai fakta dinamika Ramadhan sebagai kreator budaya.Sosikultural masarakat Sunda dapat dilihat pada pandangan-pandangan hidupnya yang terlukis dalam hasil dan aktivitas budayanya terutama di dalam karya sastra dan upacara tradisi.Dalam karya sastra tertulis corak sosio-budaya itu dapat dilihat pada puisi dan prosa sedangkan dalam tradisi lisan terlihat pada pantun,upacara kelahiran dan upacara pengantin.Interaksi sosial budaya masyarakat Sunda menunjukkan hubungan saling mempengaruhi antara Ramadhan sebagai pengarang dengan masyarakat Sunda sebagai latar sosial budayanya.Hal itu berpengaruh terhadap prosesi kreasi Ramadhan dalam penciptaan karya sastranya.

BAB III
STRUKTUR BANGUNAN NOVEL KELUARGA PERMANA

Analisis struktur dimaksudkan untuk lebih memungkankan interpretasi karya sastra. Dengan demikian analisis struktur karya berfungsi untuk mempermudah pemerian Keluarga Permana dalam pemaknaannya.Keseluruhan makna yang terkandung dalam teks akan terwujud hanya dalam keterpaduan struktur yang bulat. Berdasarkan data yang diperoleh,dimensi sosial keagamaan dalam Keluarga Permana berkaitan dengan struktur karya.
A. Struktur Naratif
Sebagai sebuah karya sastra,novel merupakan satu sistem yang berstruktur.Sebagai sistem yang berstruktur, novel memiiki unsur struktur naratif. Struktur naratif menurut Chamamah-Soeratno (1991:1-3), merupakan perwujudan bentuk penyajian suatu atau beberapa peristiwa yang menjadi pokok pembicaraan dalam wacana (dicourse atau expression).Struktur naratif merupakan penanda (signifie) dari peristiwa,penokohan,dan latar yang terdapat di dalam cerita dan petanda (signifiant) dari unsur-unsur didalam ekspresi naratif yang terdapat di dalam wacana.Objek estetik naratf ialah cerita dari artikulasi wacana (Chatman,1978:15-42).
Tujuan analisis struktur naratif adalah untuk memperoleh susunan teks baik susunan wacana (discourse) maupun susunan cerita (story).Analisis sigtamatik digunakan untuk menelaah struktur sedangkan analisis paradimatik digunakan untuk menelaah hubungan antara unsur yang hadir dan tak hadir dalam teks yaitu hubungan makna dan simbol (Zaimar,1991:34).Menurut Barthes (1984:93-94),stuan cerita itu memiliki dua macam fungsi yaitu cardinal functions (or nuclei) dan catalysers atau meminjam istilah Zaimar (1991:34) sebagai fungsi utama dan katalisator.Antara katasilator satu dengan lainnya berhubungan secara kronologis sedangkan fungsi utama satu dengan lainnya berhubungan secara konsekuensial atau hubungan akibat (logis).

a. Urutan Tekstual
Teks Keluarga Permana terdiri atas 24 bab dan tiap bab tidak diberi judul.Urutan tekstual ini menunjukkan pemilahan teks dalam sekuen yang ditandai dengan angka Arab.Kadang-kadang sekuen masih dibagi lagi dalam satuan yang lebih kecil.Karena itu angka tandanya menjadi dua,tiga atau lebih.Dilihat dari peringkat sekuen,dalam Keluarga Permana terdapat 33 kernel dan setiap kernel membawahi beberapa satelit.Keluarga Permana memiliki strutur naratif yang kompleks karena terdiri atas beberapa sekuen dan tiap sekuen membawahi kernel dan satelit.
Urutan wacana merupakan urutan sekuen-sekuen yang memperlihatkan fakta-fakta dalam teks,urutan seperti yang ada dalam teks.Urutan wacana ini bermakna bagi teks sebab jika urutan faktual dalam teks ini diubah,maka maknanya juga akan berubah.Oleh karena itu urutan wacana itu penting dalam pemaknaan Keluarga Permana.Secara garis besar urutan sekuen memperlihatkan bahwa urutan wacana Keluarga Permana terbagi dalam dua kategori waktu yakni masa kini dan masa lampau.
b. Urutan Kronologis
Urutan wacana itu,dalam kaitannya denga urutan kronologis memisahkan antara waktu masa kini dengan masa lalu.Urutan kronologis diperoleh setelah ditentukan sekuen.Serangkaian sekuen itu menunjukkan bahwa urutan wacana mendukung penentuan urutan kronologis,keduanya sangat berkaitan erat.Dalam urutan kronologis masa lalu struktur Keluarga Permana itu komplek,di dalam terkandung sekuen-sekuen sebagai urutan tekstual.Hubungan sekuen-sekuen masa kini dengan masa lalu terjadi melalui ingatan, kenangan akan kesedihan, penyesalan, dan sebagainya. Berdasarkan urutan kronologis wacana dapat ditemukan urutan logis.Urutan logis merupakan hubungan antarsekuen yang didasarkan pada peristiwa kausalitas atau sebab akibat.Analisis urutan logis dilakukan untuk mengetahui hubungan antarsekuen yang menjadi dasar struktur naratif Keluarga Permana.

B. Penokohan
Kehadiran tokoh dalam suatu cerita dapat dilihat dari berbagai cara yang secara garis besar dapat dibagi dalam tiga cara antara lain: (1) Cara analitis,yakni pengarang secara langsung menjelaskan dan melukiskan tokoh-tokohnya, (2) Cara dramatik,yakni pengarang melukiskan tokoh-tokohnya melalui gambaran tempat dan lingkungan tokoh,dialog antar tokoh,perbuatan dan jalan pikiran tokoh,dan (3) Kombinasi keduanya (Saad dalam Ali,1986:123-124).Setiap tokoh yang hadir dalam cerita memiliki unsur fisiologis yang berkaitan dengan fisik,unsur psikologis yang menyangkut psikis tokoh,dan unsur sosiologis yang berhubungan dengan lingkungan sosial tokoh (Oemarjati,1971:66-67).
Tokoh merupakan bagian atau unsur dari suatu keutuhan artistik yakni karya sastra yang seharusnya selalu menunjang keutuhan artistik itu (Kenney,1986:25). Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peran sentral dalam cerita, menjadi pusat sorotan di dalam kisahan dan yang penting mempunyai intensitas keterlibatan yang tinngi dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita. Tokoh bawahan adalah tokoh yang kedudukannya tidak sentral dalam cerita,tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk mendukung tokoh utama.
Dalam Keluarga Permana penghadiran tokoh-tokoh cerita dilakukan dengan cara kombinasi analitik dan dramatik atau langsung dan tidak langsung dengan menampilkan ciri-ciri fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Termasuk psikologis antara lain cita-cita, ambisi, kekecewaan, kecakapan, temperamen, dan sebagainya. Aspek yang masuk dalam fisiologis misalnya jenis kelamin, tampang, kondisi tubuh,dan lain-lain.Sudut sosiologis terdiri atas misalnya lingkungan, pangkat, status sosial agama,kebangsaan,dan sebagainya. Ditinjau dari kekomplekan wataknya,ada dua macam kategori tokoh dalam Keluarga Permana. Kategori pertama adalah tokoh bulat yang diwakili oleh Ida, Sumarto, dan Permana.Kategori kedua adalah tokoh datar yang diwakili oleh Saleha,Mang Ibrahim,Saifuddin,dan Murdiono.Dari segi sosial keagamaan tokoh-tokoh Keluarga Permana dapat dikelompokkan menjadi tiga macam.Pertama adalah kelompok tokoh yang beragama Islam taat yakni Ibrahim dan Saifuddin. Kedua adalah kelompok tokoh beragama Katolik taat yakni Sumarto dan Pastot Murdiono.Kelompok ketiga adalah tokoh beragama Islam, tetapi belum menjalankan syariatnya yang diwakili Ida, Permana.dan Saleha.
C. Latar
Latar merupakan lingkungan dan lingkungan dapat dipandang berfungsi sebagai metonimia atau metafora dan ekspresi dari tokohnya.Latar internal antara lain berupa perasaan hati sedih,gembira,dan lain-lain.Latar eksternal meliputi alam,cuaca,tempat-tempat tertentu dan sebagainya.Abrams (1981:175) memberpkam deskripsi latar dalam karya sastra menjadi tiga yakni latar tempat,waktu,dan sosial.Latar tempat berkaitan dengan masalah geografis,latar waktu berhubungan dengan zaman,dan latar sosial erat berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan atau sosial budaya.
a. Unsur Ruang
Unsur ruang dapat ditangkap pembaca melalui tiga cara,yakni: (1) pemakaian kata-kata yang mewujudkan sifat atau keadaan yang disebut, (2) kata-kata yang telah mempunyai pengertian tersendiri yang sudah baku,dan (3) pemakaian perbandingan.Pada wacana yang lebih besar unsur ruang dapat dilihat melalui (1) penunjukan arah suatu tempat tertentu, (2) dialog yang melukiskan perilaku tokoh.dan (3) deskripsi langsung oleh pengarang (Chatman,1978:101-103).Pada umumnya sebuah novel menyiratkan atau menyuratkan suatu tempat ruang oleh pengarang novel dipakai untuk memberikan gambaran lingkungan yang melingkupi tokoh.
b. Unsur Waktu
Dalam novel,aspek waktu pada umumnya meliputi lama berlangsungnya cerita dan penyebutan waktu secara eksplisit tertulis atau implisit dalam cerita.Berbeda dengan latar tempat,pada Keluarga Permana latar waktu tidak dilukiskan secara eksplisit mengenai kapan terjadinya peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya.Secara garis besar ada dua periode
waktu dalam Keluarga Permana yakni masa kini dan masa lalu.Latar waktu masa kini dalam Keluarga Permana dimulai sejak awal cerita yakni ketika Ida meninggal dunia hingga jenazahnya dimakamkan dan Permana kehilangan kewarasannya.Selebihnya adalah periode masa lalu.Pelukisan masa lalu dengan cara sorot balik dalam Keluarga Permana berperan untuk memberikan citraan mengenai peristiwa-perstiwa yang terjadi pada masa kini.Selain itu masa lalu memberikan latar belakang atau hubungan kausalitas mengenai berbagai peristiwa yang dialami para tokoh.
c. Unsur Sosial
Persoalan pokok Keluarga Permana adalah dimensi sosial keagamaan sosial banyak dilukiskan melalui Permana.Latar belakang kehidupan Permana yang pegawai kemudian diperhentian tanpa prosedur hukum yang berlaku membuat frustasi.Ia merasa diperlakukan tidak adil,sekedar dijadikan korban oleh atasannya yang berbuat korupsi.Ingin dia diproses,tetapi tidak berdaya melawan birokasi,orang besar.Kompensasinya adalah kekejaman dan kekerasan terhadap istri dan anaknya.Latar tersebut digunakan untuk mendukung penokohan Permana,di samping untuk mencuatkan pokok persoalan khususnya dimensi sosial.
Latar sosial tampak jelas melalui penokohan dan terjalin dalam berbagai peristiwa sehingga mampu menciptakan suasana cerita. Penokokohan mendukung latar, demikian pula sebaliknya latar cerita menunjang penokohan. Struktur naratif Keluarga Permana yang bersifat sorot balik (flashback) juga mendukung latar dan penokohan.

BAB IV
DIMENSI SOSIAL KEAGAMAAN DALAM NOVEL KELUARGA PERMANA

Dimensi sosial keagamaan merupakan salah satu benang merah yang tampak menonjol dalam Keluarga Permana. Hal ini terlihat dalam struktur naratif, penokohan,dan latar sebagai alat pengungkapannya (devide) yang terjalin dalam cerita.Dimensi sosial keagamaan dalam Keluarga Permana menunjukkan adanya kemiripan sosial budaya antara tokoh-tokoh dalam teks Keluarga Permana dengan pengarangnya,dalam hal ini latar sosial budaya Sunda, Jawa Barat, dan latar tempat,tepatnya Bandung. Data penelitian menunjukkan bahwa permasalahan Keluarga Permana adalah dimensi sosial keagamaan.”Dimensi” dapat diartikan sebagai mantra,ukuran atau norma (Echols dan Shadily, 1980:182; Poerwadarminta,1986:251), sedangkan “sosial” diartikan sebagai segala sesuatu yang mengenai masyarakat berkaitan dengan kemasyarakatan (Echols dan Shadily,1980:538;Poerwadarminta,1986:961).Secara luas sosial berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan.
Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial),lembaga-lembaga sosial,kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial.Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pebagi segi kehidupan bersama,misalnya segi kehidupan ekonomi dengan politik,segi kehidupan hukum dengan agama segi kehidupan agama dengan ekonomi dan sebagainya (Soemardjan dan Soemardi,1974:14).Agama berarti segenap kepercayaan (kepada Tuhan,Dewa,dan sebagainya) sasrta serta ajaran kebaktian dan kewajib-kewajiban yang bertalian dengan kepercayan itu.Keagamaan adalah segala sesuatu yang bekaitan dengan tata keimanan/keyakinan,tata peribadatan terhadap Tuhan,dan kaidah mengenai hubungan manusia dengan sesama dan alam.Interaksi sosial merupakan dasar proses-proses sosial,dalam hal ini menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis (Soekanto,1985:54).

A. Dimensi Sosial Keagamaan dalam Keluarga Permana
Dari data penelitian dapat diamati bahwa Keluarga Permana merupakan novel yang mengungkapkan realitas sosial yang merupakan tanggapan pengarang terhadap lingkungannya.Dalam hal ini Keluarga Permana berada dalam tegangan antara norma sastra dan norma sosio-budaya.Keluarga Permana merupakan afirmasi yakni menetapkan norma sosio-budaya yang ada pada masa tertentu (Teeuw,1982:20). Masalah sosial keagamaan khususnya perpindahan agama merupakan permasalahan yang tampak dominan dalam Keluarga Permana dengan latar belakang sosial ekonomi yang menimbulkan ketegangan dan konflik-konflik sosial yang melanda keluarga,kelompok masyarakat bahkan umat beragama tertentu.
a. Perkawinan Campuran Islam-Katholik
Masalah pertama yang mendapat sorotan tajam dalam Keluarga Permana adalah perkawinan campuran antara gadis Islam dengan pemuda Katholik.Perkawinan campuran Islam-Katholik yang mengundang konflik sosial itu tidak mampu menimbulkan suasana meriah seperti pesta perkawinan pada umumnya.Perkawinan itu bahkan terasa dingin,muram,dan murung.Suasana yang kontradiktif dengan upacara itu sendiri.Perkawinan Islam-Katholik yang ‘menekan’ pengantin putri berpindahagama,dalam Keluarga Permana pihak Sumarto menekan Ida,bertentangan dengan hak asasi manusia dalam hal kebebasan beragama (Departemen Agama,1979:18).
Upacara perkawinan secara Katholik yang berlangsung dalam lingkungan keluarga Islam yang terasa asing dan tidak lazim lagi bagi keluarga dan masyarakat Islam itu menimbulkan konflik batin bagi yang bersangkutan (Ida),di samping menimbulkan konflik sosial.Di samping menimbulkan kekecewaan dan penyesalan di lingkungan kerabat keluarga yang lebih berbahaya adalah perkawinan campuran menimbulkan sikap antipati pada masyarakat sekitarnya yang merasa tersinggung perasaan keagamaannya.Nilai lain yang menarik dalam peristiwa perkawinan campuran pada Keluarga Permana antara lain bahwa terlepas dari pemaksaan hak kebebasan beragama oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan,ternyata Keluarga Permana begitu cermat menyajikan persoalan lain di seputar perpindahan agama itu.
b. Upacara Pembaptisan
orang yang sejak kecil menyakini agama tertentu sebagai pegangan hidup kemudian tiba-tiba ia harus mengalami pemutusan ikatan keimanan atau aqiqah,jelas tidak mudah menjalaninya.Lebih-lebih jika hal itu dilakukannya karena terpaksa oleh keadaan.Lebih tepatnya dalam Keluarga Permana perpindahan agama yang secara formal ditandai dengan upacara pembaptisan di gereja itu dilakukannya karena adanya tekanan dari sang kekasih,calon suaminya.Peristiwa pembaptisan yang membuat Ida secara formal menjadi Katholik dengan nama Maria Magdalena telah membuat hatinya tersayat beberapa saat setelah upacara itu asai.Meski lahirnya ia dibaptis yang berarti ia resmi menjadi umat Kristus hatinya tetap memegang imam Islamnya.Hal itu membuatnya menangis tak kunjung berhenti.Bukan hanya menangis lahiriahnya,lebih jauh lagi hatiny menangis.Pembaptisan Ida juga menimbulkan konflik dalam keluarga khususnya ayah dan ibunya.Sebagai perbutan berdosa besar pembaptisan atau murtad dalam Keluarga Permana disoroti sebagai perbutan munafik.
c. Upacara Pemakaman Jenazah yang Meresahkan
Kematian Ida yang telah berpindah agama menimbulkan perang batin yang dahsyat dalam diri keluarganya khususnya orang tuanya yang bertanggung jawab atas pendidikan agama atau keimanan anaknya.Perang batin terjadi antara realitas lahiriah dengan harapan yang diyakininya. Suasana yang kontadiktif terjadi ketika jenazah Ida tiba di rumah Permana dari Jatiwangi.Pada saat peti jenazah Ida tiba di rumah Permana dengan diantar oleh keluarga Surono,mulailah terdengar ucapan-ucapan dalam tradisi masyarakat Islam misalnya istighfar, tasbih, takbir, tahlil,dan kalimat thayyibah lainnya seperti layaknya yang berlaku dalam masyarakat Islam.Ketika peti mayat diturunkaandi tempat yang disediakan bahkan terdengar suara Bi Tati perlahan-lahan,”Allahu Akbar Allahu Akbar.Nilai yang menarik adalah upacara pemakaman jenazah yang dilaksanakan secara Katholik yang berlangsung di tengah keluarga dan masyarakat muslim.
Suasana yang ganjil pun masih terasa ketika jenazah Ida dibawa ke pemakaman.Suasana kontradiktif dan konflik sosial mulai terasa ketika jenazah diberangkatkan menuju ke kuburan Pandu.Goncangan sosial juga tampak pada kelompok masyarakat termasuk Mang Ibrahim.Beberapa tokoh masyarakat diantaranya Mang Ibrahim tidak mau mengantar jenazah Ida ke kuburan Pandu (makam orang-orang Kristen).Suatu nilai kehidupan yang juga menarik dari peristiwa ini adalah bahwa tak urung kematian Ida juga menimbulkan konflik dalam diri Sumarto yang menjadi pangkal penyebab semua kejadian yang menimpa Ida.Setelah jenazah Ida dimakamkan,konflik batin masih berlanjut pada diri orang tuanya yakni Saleha dan Permana.
B. Pengembangan Agama Pada Umat Beragama
Dimensi sosial keagamaan yang bertalian erat dengan perpindahan agama adalah pengembangan agama pada umat beragama atau penyebaran agama dengan sasaran umat beragama.Dalam Keluarga Permana pengembangan agama pada umat beragama digambarkan dengan adanya tekanan jika bukan paksaan melalui perkawinan.Pengembangan agama pada umatberagama akan menimbulkan gejolak dan benturan-benturan sosial karena dapat menyinggung perasaan keagamaan masyarakat lingkungannya (Departemen Agama,1983/1984:37).Gejala penyiaran agama yang tidak sehat antara lain dilakukan di samping dengan cara ‘tekanan’ kepada salah satu pihak juga sering dilakukan dengan memanfaatkan sisi kelemahan sosial ekonomi masyarakat,misalnya dengan memberikan uang,bahan makanan atau menjual barang dan makanan tertentu dengan harga murah dan lain-lain sebagai umpan (Ratuperwiranegara,dalam Departemen Agama,1979:13).

C. Krisis Ketakwaan Sebagai Sumber Masalah Sosial
Nilai yang tak kalah pentingnya dalam Keluarga Permana adalah krisis ketakwaan sebagai sumber terjadinya masalah sosial dalam kehidupan masyarakat.Kurangnya penghayatan agama pada para tokoh menimbulkan berbagai masalah sosial dalam proses dan interaksi sosialnya.Perilaku menyimpang yang merupakan masalah sosial sebagai gejala adanya krisis ketakwaan antara lain.
a. Korupsi dan Memperkaya Diri
Masalah pertama yang disoroti Keluarga Permana kaitannya dengan adanya gejala kritis ketakwaan adalah korupsi.Permana,tokoh yang terlibat dalam tindak korupsi (yang sebenarnya) dilakukan oleh atasannya mencerminkan orang yang tidak memiliki penghayatan agama sehingga mudah terombang-ambing oleh lingkungannya.Permana ikut menerima ‘hadiah’ atau pemberian dari relasi karena dia melihat atasannya juga melakukan hal yang sama bahkan jauh lebih besar.Permana dan atasannya merupakan simbolisasi para pegawai dan penjabat dalam birokasi mana pun yang tidak memiliki penghayatan agama.Korupsi merupakan jalan pintas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang ingin memenuhi ambisi materialnyadalam zaman modern ini.
b. Penyalahgunaan Jabatan
Satu penyalahgunaan jabatan atau kekuasaan.Implikasinya antara lain adanya penyelewengan hukum.Orang yang kurang menghayati ajaran agama dan kebetulan memiliki kekuasaan akan mudah sekali tergiur untuk mencari keuntungan pribadi tanpa takut akan murka.Dengan memanfaatkan kekuasaannya,orang yang demikian akan tidak segan-segan melanggar peraturan hukum.Dalam Keluarga Permana hal ini dilukiskan melalui Permana,atasan,dan rekan-rekannya,serta tokoh lainnya.
c. Dekadensi Moral Remaja dan Kawin Paksa Versi Modern
Nilai lain dari krisis ketaqwaan para tokoh adalah adanya gejala dekadensi moral dan kawin ‘paksa’ versi modern di kalangan remaja.Dalam Keluarga Permana,dua masalah yang berkaitan satu dengan lainnya itu digugat Ramadhan dengan warna baru.Artinya,dekadensi moral dan kawin ‘paksa’ versi modern yang dideskripsikan melalui tokoh Ida dan Sumarto itu terjadi bukan semata-semata dilihat dalam perspektif sosiologis melainkan disoroti juga dari kacamata moral dan agama.
Gagasan lain yang dapat diambil dari dekadensi moral yang berkaitan dengan zina adalah aborsi,yang dewasa ini semakin banyak dilakukan orang sebagai jalan pintas untuk tujuan tertentu,dalam Keluarga Permana menghilangkan aib.Terlepas dari semua itu,dekadensi moral remaja dan kasus kawin ‘paksa’ jelas disebabkan oleh makin longgarnya nilai moral agama dan etik sosial di dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat adanya krisis keimanan di kalangan mereka.Dalam Keluarga Permana dilukiskan dalam kasus hamilnya Ida sebelum menikah yang menyebabkan Permana dan Saleha merasa malu dan menggugurkan kandungannya Ida demi menjaga kehormatan keluarga.
d. Zina dan Aborsi: Fenomena Pelanggaran Etika Sosial dan Agama
Gagasan dalam Keluarga Permana juga terlihat dalam peristiwa perzinaan (hubungan seks pranikah) dan aborsi (pengguguran kandungan).Dalam Keluarga Permana aborsi dilakukan karena adanya hubungan pranikah meskipun dalam realitas sosial sering juga dilakukan oleh wanita bersuami.Yang jelas biasanya aborsi dilakukan karena janin atau calon bayi yang dikandung belum dikehendaki.Pezina yang belum kawin diancam dengan hukuman cambuk sertus kali sedangkan pezina yang sudah kawin (zina mukhshan),dihukum rajam atau dicambuk hingga mati dengan disaksikan oleh orang banyak. Yang lebih mengalami tekanan batin karena merasa aib akan mencoreng keluarga akibat perbuatan zina itu adalah orang tua perempuan hamil. Nilai yang dapat dipetik dalam bagian ini adalah bahwa orang tua itu masih memegang nilai moral dan ajaran agama.Aborsi merupakan perbuatan amoral yang melanggar tata susila, norma sosial, hukum, dan agama.

e. Peran Agama dalam Rumah Tangga dan Perilaku Anak
Dalam perspektif yang ebih luas,anak akan menjadi orang yang shalih (baik) dan berakhlak mulia (akhlaqul karimah) atau sebaliknya anak menjadi jahat dan akhlaknya tercela tergantung pada peran orang tua dalam membentuk kepribadiannya.Dalam Keluarga Permana ,gagalnya pendidikan agama pada anak dalam keluarga disoroti dengan tajam lewat Permana dan Saleha (orang tua) dan Ida (anak).Agama yang semestinya ditanamkan orang tua kepada anak sejak masih kecil guna membentuk kepribadian dan mental anak yang dinamis agar ketaqwaan dalam seluruh gerak hidupnya tercermin,tidak dilakukan oleh Permana dan Saleha.Oleh karena itu,dapat dimengerti jika iman Ida tidak kokoh sehingga goyah ketika menghadapi permasalahan hidup.Efek yang mencolok dari sikap dan tindakan yang salah dalam menghadapi cobaan hidup yang dilakukan Permana sebagai akibat kurang mendalamnya iman dalam dirinya itu adalah timbulnya dis-harmoni dalam rumah tangga.
f. Iman sebagai Pengendali Diri
Dimensi sosial keagamaan yangsubstansial sifatnya yakni iman dikomunikasikan Ula dalam Keluarga Permana.Apa yang menimpa Permana tidak lain adalah cobaan hidup yang datang dari Tuhan sebab sebenarnya segala macam yang terjadi dalam kehidupan manusia dapat dipandang sebagai cobaan Tuhan (Q.S.al-Baqarah:155).Permana yang imannya jauh dari mendalam tidak menyadari bahwa apa yang terjadi pada dirinya itu sebenarnya adalah cobaan dari Tuhan sehingga dia kehilangan kontrol diri.Nilai lain yang dapat diambil dari bagian ini adalah bahwa Permana salah dalam menyikapi cobaan hidup atau keadaannyamembuat dirinya yang berstatus sebagai kepala keluarga merasa kehilangan harga diri sehingga perasaan rendah diri timbul dan menderanya.Dalam kerangka yang lebih luas yakni dalam kacamata agama,perilakuPermana yang sentimental seperti perasaan resah gelisah berlarut-larut,stress,dan putus asa akibat nasib yang menimpanya mencerminkan kurangnya iman pada dirinya.
g. Agama sebagai Pedoman Meraih Kebahagiaan
Nilai lain dalam Keluarga Permana yang menarik adalah pentingnya agama Islam dalam kehidupan manusia.Berbagai peristiwa yag terjadi dalam Keluarga Permana yang dialami oleh para tokoh utama jelas digambarkan sejak awal sebagai orang yang kehilangan pegangan manusia dalam menempuh kehidupannya.Data penelian menunjukkaan bahwa taqwa goncangan-goncangan dan konflik batin serta tindakan yang salah yang dilakukan Permana dan berakibat fatal bagi keluarganya terutama Ida,anaknya,semua bersumber pada kroposnya iman yang ada dalam dirinya.
D. Realitas Sosial Budaya Indonesia 1970-an dan Keluarga Permana
Dimensi sosial budaya keagamaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dimensi kemasyarakatan yang berkaitan dengan tata keimanan,tata peribadatan,dan tata kaidah mengenai hubungan manusia dengan sesama manusia.Kehadiran Keluarga Permana di tengah kehidupan sosial budaya Indonesia tampaknya sebagai tanggapan terhadap situasi sosial budaya khususnya kehidupan keagamaan Indonesia pada masa sekitar akhirdekade 1960-an hingga awal dekade 1970-an. Data penelitian menunjukkan bahwa aspek sosial yang diungkapkan dalam Keluarga Permana itu bergayut eratdengan unsur keagamaan.Berdasarkan penelitian terhadap Keluarga Permana terlihat Ramadhan menempatkan taqwa yang berintikan iman dan amal shalih sebagai pedoman utama bagi manusia dalam menempuh kehidupan,tepatnya dalam mencapai kebahagiaan hidupbaik di dunia maupun akhirat.Realitas dalam sastra adalah realitas fiktif imajinatif sebagai dunia yang dibentuk pleh pengarang sebagai tanggapannya terhadap kehidupan nyata.Dengan demikian realitas dalam Keluarga Permana adalah simbolisasi dari realitas sosial budaya di Indonesia pada drkade 1970-an.

BAB V
SIMPULAN

Dengan pendekatan Strukturalisme novel Keluarga Permana memiliki unsur-unsur yang secara fungsional saling mendukung satu dengan lainnya.Dari analisis makna dengan pendekatan Semiotik dan interteks dapat disimpulkan bahwa Keluarga Permana mengungkapkan dimensi sosial keagamaan sebagai gagasan utama dalam alur cerita yang kompleks,namun tetap lancar.Makna dimensi soaial keagamaan dalam Keluarga Permana adalah perpindahan agama dapat menimbulkan berbagai konflik sosial.Perpindahan agama seseorang dari satu agama ke agama lain dapat memicu konflik sosial dalam lingkungan masyarakat yang multiagama karena hal itu dapat menyinggung perasaan keagamaan kelompok dan lingkungannyalAdamya krisis ketaqwaan Di kalangan masyarakat merupakan penyebab timbulnya berbagai masalah sosial dalam kehidupan masyarakat.Dari kajian interteks dapat disimpulkan bahwa makna novel Keluarga Permana sebagaikarya transformasi hanya dapat dipahami secara utuh bila dikaitkan dengan hipogramnya yakni karya Ramadhan sebelumnya yakni novel Kemelut Hidup,lalu Pedoman Dasar Kurikulum Hidup Beragama,teks Al-Quran dan Al-Hadist, serta latar sosial budaya Imdonesia pada dekade 1970-an.

Purwaka lan Panutup

Nama : Rika Yuliana
Nim : A 310 080 004
Kelas : 7A
FAK/Progdi : KIP/PBSID

Tugas 1 Pewara Basa Jawa III
“Purwaka lan Panutup”

A. PURWAKA
Tuladhanipun mekaten :
“Minangka pembuka inggih purwakaning atur,mangga kita sedaya tansah hangonjukaken puja astawa puji Astuti,raos sukur wonten ngarsadalem Alloh S.W.T,Pangeran ingkang Mahawikan,dene kita sedaya tansah penaringan kesarasan sami saged rawuh wonten dalemipun Bapak saha Ibu Agung Laksana.
Shalawat dalah salam kita aturaken wonten ngarsanipun Nabi Agung Muhamad SAW ingkang anyebaraken rahmat saha berkah saindheging jagad raya. Kula minangka sulih salira inggih talanging basa panjenenganipun Bpk Agung Laksana angaturaken pambagya sugeng rawuh saha angaturaken panuwun ingkang tanpa upami dene panjenengan sedaya kersa anyisihaken saha hanglonggaraken wekdal tuwin penggalih,kersa rawuh wonten dalemipun Bpk Agung Laksana kanthi lega-legawaning penggalih seperlu anuhoni serat sedhahan ingkang sampun kaaturaken. Ingkang menika mugi sami dipunprayogekaken anggenipun sami lelenggahan kanthi mardawa mardikaning penggalaih dumugi paripurnaning wiwahan ing siyang menika”.

B. PANUTUP
Tuladhanipun mekaten :
“Minangka panutuping atur,menawi anggen kula matur mingka sulih salira inggih talanging basa panjenenganipun Bapak Agung Laksana anaturaken wigatining gati kathah kekirangan,saha kalepatanipun,lumantar kula tansah nyuwun lumunturing samudra pangaksama”.
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Analisis Puisi “Doa”

PUISI DOA KARYA CHAIRIL ANWAR

Doa
Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

A. Analisis Struktural
a) Tema
Puisi ³Doa´ karya Chairil Anwar di atas mengungkapkan tema tentang ketuhanan. Hal ini dapat kita rasakan dari beberapa bukti. Pertama, diksi yang digunakan sangat kentaldengan kata-kata bernaka ketuhanan. Kata `dua´ yang digunakan sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan atau komunikasi seorang penyair dengan SangPencipta.
Kata-kata lain yang mendukung tema adalah:
Tuhanku, nama-Mu, mengingat Kau,caya-Mu, di pintu-Mu. Kedua, dari segi isi puisi tersebut menggambarkan sebuah renungandirinya yang menyadari tidak bisa terlepas dari Tuhan.
Dari cara penyair memaparkan isi hatinya, puisi´Doa´sangat tepat bila digolongkan padaaliran ekspresionisme, yaitu sebuah aliran yang menekankan segenap perasaan atau jiwanya.

Perhatikan kutipan larik berikut :
(1) Biar rusah sungguhMengingat Kau penuh seluruh

(2) Aku hilang bentuk remuk

(3) Di Pintu-Mu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling
Puisi yang bertemakan ketuhanan ini memang mengungkapkan dialog dirinya denganTuhan.
Kata `Tuhan´ yang disebutkan beberapa kali memperkuat bukti tersebut, seolah-olah penyair sedang berbicara dengan Tuhan.

b) Nada dan Suasana
Nama berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan (feeling) atau sikap penyair terhadap pembaca. Sedangkan suasana berarti keadaan perasaan pembaca sebagai akibatpembacaan puisi.
Nada yang berhubungan dengan tema ketuhanan menggambarkan betapa dekatnyahubungan penyair dengan Tuhannya. Berhubungan dengan pembaca, maka puisi `Doa´tersebut bernada sebuah ajakan agar pembaca menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Tuhan.
Hayatilah makna hidup ini sebagai sebuah pengembaraan di negeri `asing´.

c) Perasaan
Perasaan berhubungan dengan suasana hati penyair. Dalam puisi ´Doa´ gambaranperasaan penyair adalah perasaan terharu dan rindu. Perasaan tersebut tergambar dari diksiyang digunakan antara lain: termenung, menyebut nama-Mu, Aku hilang bentuk, remuk, Akutak bisa berpaling.

d) Amanat
Sesuai dengan tema yang diangkatnya, puisi ´Doa´ ini berisi amanat kepada pembacaagar menghayati hidup dan selalu merasa dekat dengan Tuhan. Agar bisa melakukan amanattersebut, pembaca bisa merenung (termenung) seperti yang dicontohkan penyair. Penyair juga mengingatkan pada hakikatnya hidup kita hanyalah sebuah ´pengembaraan di negeriasing´ yang suatu saat akan kembali juga. Hal ini dipertegas penyair pada bait terakhir sebagai berikut:

Tuhanku,

Di Pintu-Mu Aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

B. Analisis Semiotik
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Bait pertama puisi tersebut terdiri atas tiga larik. Masing – masing larik tidak dapat disebut kalimat. Kunci utama bait itu adalah kata termangu. Termangu dalam hal apa, kepada siapa, tentang apa, dan banyak pertanyaan lain. Mungkin penyair ingin mengatakan bahwa di dalam kegoyahan imannya kepada Tuhan, (termangu), isi masih menyebut nama Tuhan (dalam doa – doanya).
Biar susah sungguh mengingat
Kau penuh seluruh
Bait kedua dengan kata kunci susah. Susah dalam hal apa? Tentang apa? Karena apa? Ditafsirkan bahwa penyair sangat sulit berkonsentrasi dalam doa untuk berkomunikasi kepada Tuhan secara total (penuh seluruh). Dalam kegoncangan iman, kesulitan berkonsentrasi untuk “dialog” dengan Tuhan memang dimungkinkan.
Caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Bait ketiga kata kuncinya adalah Cahaya lilin ini mewakili cahaya yang sangat penting untuk menerangi kegelapan malam, atau mewakili cahaya yang rapuh dalam kegelapan malam. Mungkin penyair bermaksud untuk menyatakan bahwa cahaya iman dari Tuhan tinggal cahaya kecil di lubuk hati penyair yang siap padam (karena kegoncangan iman).
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Bait keempat Chairil sadar bahwa akibat dosanya itu ia seakan merasa bahwa ia sudah hilang bentuk dan remuk. Ia tak mengenali dirinya lagi.
Aku mengembara di negeri asing
Bait kelima Chairil melalui aku lirik, mengenang perbuatannya itu. Asing, karena apa yang dikerjakannya itu bertentangan dengan apa yang sudah diperintahkan Tuhannya.
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling.
Bait keenam memang seperti kita ketahui selama hidupnya, Chairil Anwar dikenal sebagai seorang sastrawan yang bohemian. Artinya, hidupnya terkesan hura-hura. Sehingga dari kehidupannya itu ia merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan yang membuat ia merasa jauh dari Tuhannya.
Secara semiotik, dalam sajak ini dikontraskan bunyi vokal u yang dominan dengan bunyi i yang juga berturut – turut. Bunyi u ini memberi tanda kekhusukan dan kesungguh – sungguhan, sedang dalam kekhusukan itu terermin rasa keterasingan dan keterpencilan si aku: ‘cayaMu…suci / tinggal kerdip lilin di kelam sunyi; aku mengembara di negeri asing; aku tidak bisa berpaling’.
Pengulangan kata ‘Tuhanku’ yang berupa penyebutan atau seruan yang berulang – ulang ( empat kali ) dalam sajak itu sesuai dengan sifat sajak itu sebagai doa. Dalam doa biasa orang menyeru Tuhan berkali – kali. Namun dalam sajak “Doa” ini penyeruan Tuhan yang berkali – kali itu dapat memperkuat efek kebingungan si aku, bahkan menunjukkan keputusannya.
Dalam sajak “Doa” tampak adanya pertentangan – pertentangan, seperti keraguandan kepercayaan, seperti telah terurai di atas. Hal ini secara semiotik tergambardalam penggunaan bahasanya: pemilihan kata serta bunyinya. Hal ini tampak jelas pertentangan suasana dan arti dalam bait kedua yang menyatakan kepenuhan Tuhan dipertentangkan dengan bait ketiga yang mengandung arti dan suasana kecil: ‘Biar susah sungguh / mengingat Kau penuh seluruh’ dipertentangkan dengan: ‘tinggal kerdip lilin di kelam sunyi’. Persajakan bentuk pun ( pilihan kata dan bunyi ) untuk mempertentangkan arti dan suasana:
Aku hilang bentuk / remuk
…..
Aku mengembara di negeri asing
Dipertentangkan dengan:
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Karena ‘aku hilang bentuk – remuk’ maka ‘aku mengetuk’ pintu Tuhan; dan karena ‘aku di negeri asing’ maka aku tidak bisa berpaling’ dari Tuhan.
PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

A. Analisis Struktural
Ada kriteria dalam menganalisis struktur kepuitisan yaitu:
1. Pilihan Kata
Pilihan kata yng digunakan seorang Chairil Anwar sangat indah, karena kata-kata yang digunakan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami misalnya dalam sajak yang berjudul “Penerimaan”. Selain itu penyusunan kata-katanya sangat tepat dan pemilihan untuk pembentukan sebuah sajak memperhatikan kesesuaiaan kata yang digunakan serta penyusunan antar kata sangat indah.
2. Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencpai spek kepuitisan atau sebuah kata yang mempunyai arti secara konotatif tidak secara sebenarnya. Dalam penulisan sebuah sajak bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah tampilan atau bentuk muka dari sebuah sajak. Basasa kiasan dipergunakan untukmemperindah sajak-sajak yang ditulis seorang penyair. Bahasa sajak ang tedapat dalampuisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar adalah sebagai berikut:
a) Repetisi
Repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam sajak terdapat dalam:

Kalau kau mau ku terima kau kembali

Kalau kau mau kuterima kembali

b) Simile atau Persamaan
Simile atau Persamaan adalahperbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lain. Dalam sajak terdapat dalam:

Bak kembang sari sudah terbagi

c) Pesonifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati seolah-olah hidup. Dalam sajak terdapa dalam:

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
3. Citraan
Citraan adalah satuan ungkapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau kesan mental tertentu. Unsur citraan dalam sebuah puisi merupakan unsur yang sangat penting dalam mengembangkan keutuhan puisi, sebab melaluinya kita menemukan atau dihadapkan pada sesuatu yang tampak konkret yang dapat membantu kita dalam menginterpretasikan dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh dan tuntas.
Citraan dalam puisi terdapat 7 jenis citraan, yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pencecapan, dan citraan suhu. Penggunaan citraan dalam puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik alat indra maupun anggota tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki. Untuk dapat menemukan sumber citraan yang terdapat dalam puisi, pembaca harus memahami puisi dengan melibatkan alat indra dan anggota tubuh untuk dapat menemukan kata-kata yang berkaitan dengan citraan.
Dalam sajak “Penerimaan” citraan yang digunakan misalnya yaitu citraan penglihatan tedapat dalam”aku masih tetap sendiri, sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi. Cermin dapat dilihat dengan indera mata sehingga menggunakan citraan penglihatan.

B. Analisis Semiotik
Dalam sajak”Penerimaan” karya Chairil Anwar merupakan ungkapan perasaan yang dirasakan oleh penyair. Puisi itu dapat dianalisis sebagai berikut: si aku memberi harapan kepada gadis si aku bila ingin kembali boleh saja. Si aku menerima sepenuh hati bila gadis itu mau kembali lagi pada kehidupan si aku. Si aku tidak mencari gadis lain sebagai pendamping hidupnya karena masih menunggu kepulangan kekasihnya.
Si aku masih sendiri tidak akan mencari yang lain dan tetap menunggu walaupun sudah mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah tidak perawan lagi atau sudah selingkuh dengan laki-laki lain. Itu digambarkan dengan kalimat” Kutahu kau bukan yang dulu lagi bak kembang sari sudah terbagi”. ini menggunakan metafora-metafora yang sangat indah dangan menggambarkan perempuan yang tidak perawan dengan kembang sari sudah terbagi.
Si aku memberi harapan kepada gadis si aku bila ingin kembali tidak usah malu dan harus mau menemui si aku. Tidak usah takut untuk menemui si aku. Si aku pun tetap menerima apapun yang sudah terjadi dan menerima dengan mutak: jangan mendua lagi, bahkan bercermin pun si aku enggan berbagi. Digambarkan dalam bait ke-5 yan berbunyi “Sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi”. Dalam kalimat ini menggunakan citraan penglihatan

Analisis Puisi Asmaradana dan Penerimaan

Analisis Puisi Asmaradana Karya Goenawan Moehammad
Goenawan Moehammad
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
Asmaradana adalah sebuah tembang macapat dari Jawa, biasanya ditujukan untuk pemuda-pemuda yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Asmaradana dalam tembang macapat Jawa mengisahkan tentang cinta Damarwulan dan Anjasmara. Goenawan Mohamad (GM) memang menulis puisi dalam tema yang luas. Kadang ia membahas tentang politik, perjuangan, sosial, tapi juga kadang membahas tentang hidup dan cinta. Puisi Asmaradana ini menangkap momen ketika Anjasmara berpisah dengan Damarwulan, kekasihnya. GM melukiskan perpisahan itu dengan menyayat hati dan kepasrahan total.
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
GM melukiskan perpisahan ini dengan menggambarkan latar alam yang suram sekaligus romantik. Suasana sehabis hujan pada malam hari mempunyai misteri magis tersendiri untuk perasaan kita: dingin, mencekam, suram. GM menggambarkan pada saat itu ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Langit yang tadi gelap gulita karena hujan deras kembali cerah menampakkan galaksi bimasakti yang jauh, tetapi tetap saja suasana gelap karena sudah malam. Kuda-kuda meringkik resah. Mereka seolah bisa merasakan kegelisahan hati tuannya. Hati Damarwulan dan Anjasmara bergejolak, ingin menyampaikan banyak hal: kesedihan, tangis, kecemasan, dan ketidakberdayaan. Namun, mereka tidak ada yang berkata-kata. Bungkam.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.
Damarwulan tahu, nasibnya bagaikan buah simalakama. Jika ia menang melawan Minak Jingga, ia akan dianugerahi jabatan dan ia akan menjadi kaum elit kerajaan Majapahit. Ia pun akan diminta menikah dengan perempuan lain -yang lebih elit. Namun, pilihan itu terasa absurd karena Minak Jingga sangat tangguh. Ia sangat sakti. Kemungkinan yang paling besar adalah Damarwulan dan Minak Jinggo akan bertarung sampai mati. Maka, pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir bagi dua kekasih itu.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.
Namun, Damarwulan tahu Anjasmara adalah wanita yang tegar. Ia takkan menangis walaupun nanti pagi ada tapak kaki dirinya yang menuju utara -menuju medan perang. Ia buang semua masa lalu dalam kepalanya hingga ia tak punya lagi alasan untuk bersedih.
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
Dalam remang-remang malam dikelilingi puluhan kunang-kunang, Damarwulan pun meminta Anjasmara untuk melupakannya, karena ia pun akan melupakan Anjasmara. Damarwulan meminta Anjasmara agar tunduk kepada takdir, pasrah.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang asmara. Lebih dari itu, ia berbicara tentang kehidupan. Puisi ini mendorong seorang lelaki untuk gagah berani maju berperang untuk membela negara walaupun untuk itu ia harus tewas dan meninggalkan keluarganya yang tenang tenteram. Puisi ini juga mengajak agar para istri rela melepas suaminya untuk berjuang, walaupun untuk itu ia harus siap mendengar kabar kematian atau suaminya menikah dengan perempuan lain. Selain itu, puisi Asmaradana juga bermain dengan takdir. Hidup tidaklah selamanya mulus. Ada saat-saat di atas dan ada pula saat-saat di bawah. Ketika kita menghadapi saat-saat yang buruk dan tanpa harapan, kita harus tetap melangkah dengan tegar dan menghadapinya dengan hati yang lapang. Kita harus memainkan peran kita sebaik mungkin dalam hidup ini sampai kita mati. Secara tidak langsung, puisi ini membuat kita semakin menghargai arti kehidupan, perpisahan, keluarga, dan cinta.
Analisis Sruktural dan Semiotik Puisi Penerimaan Karya Chairil Anwar

PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

A. Analisis Struktural
Ada kriteria dalam menganalisis struktur kepuitisan yaitu:
1. Pilihan Kata
Pilihan kata yng digunakan seorang Chairil Anwar sangat indah, karena kata-kata yang digunakan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami misalnya dalam sajak yang berjudul “Penerimaan”. Selain itu penyusunan kata-katanya sangat tepat dan pemilihan untuk pembentukan sebuah sajak memperhatikan kesesuaiaan kata yang digunakan serta penyusunan antar kata sangat indah.
2. Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencpai spek kepuitisan atau sebuah kata yang mempunyai arti secara konotatif tidak secara sebenarnya. Dalam penulisan sebuah sajak bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah tampilan atau bentuk muka dari sebuah sajak. Basasa kiasan dipergunakan untukmemperindah sajak-sajak yang ditulis seorang penyair. Bahasa sajak ang tedapat dalampuisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar adalah sebagai berikut:

a) Repetisi
Repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam sajak terdapat dalam:
Kalau kau mau ku terima kau kembali

Kalau kau mau kuterima kembali

b) Simile atau Persamaan
Simile atau Persamaan adalahperbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lain. Dalam sajak terdapat dalam:

Bak kembang sari sudah terbagi

c) Pesonifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati seolah-olah hidup. Dalam sajak terdapa dalam:

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
3. Citraan
Citraan adalah satuan ungkapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau kesan mental tertentu. Unsur citraan dalam sebuah puisi merupakan unsur yang sangat penting dalam mengembangkan keutuhan puisi, sebab melaluinya kita menemukan atau dihadapkan pada sesuatu yang tampak konkret yang dapat membantu kita dalam menginterpretasikan dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh dan tuntas.
Citraan dalam puisi terdapat 7 jenis citraan, yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pencecapan, dan citraan suhu. Penggunaan citraan dalam puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik alat indra maupun anggota tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki. Untuk dapat menemukan sumber citraan yang terdapat dalam puisi, pembaca harus memahami puisi dengan melibatkan alat indra dan anggota tubuh untuk dapat menemukan kata-kata yang berkaitan dengan citraan.
Dalam sajak “Penerimaan” citraan yang digunakan misalnya yaitu citraan penglihatan tedapat dalam”aku msih tetap sendiri, sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi. Cermin dapat dilihat dengan indera mata sehingga menggunakan citraan penglihatan.

B. Analisis Semiotik
Dalam sajak”Penerimaan” karya Chairil Anwar merupakan ungkapan perasaan yang dirasakan oleh penyair. Puisi itu dapat dianalisis sebagai berikut: si aku memberi harapan kepada gadis si aku bila ingin kembali boleh saja. Si aku menerima sepenuh hati bila gadis itu mau kembali lagi pada kehidupan si aku. Si aku tidak mencari gadis lain sebagai pendamping hidupnya karena masih menunggu kepulangan kekasihnya.
Si aku masih sendiri tidak akan mencari yang lain dan tetap menunggu walaupun sudah mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah tidak perawan lagi atau sudah selingkuh dengan laki-laki lain. Itu digambarkan dengan kalimat” Kutahu kau bukan yang dulu lagi bak kembang sari sudah terbagi”. ini menggunakan metafora-metafora yang sangat indah dangan menggambarkan perempuan yang tidak perawan dengan kembang sari sudah terbagi.
Si aku memberi harapan kepada gadis si aku bila ingin kembali tidak usah malu dan harus mau menemui si aku. Tidak usah takut untuk menemui si aku. Si aku pun tetap menerima apapun yang sudah terjadi dan menerima dengan mutak: jangan mendua lagi, bahkan bercermin pun si aku enggan berbagi. Digambarkan dalam bait ke-5 yan berbunyi “Sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi”. Dalam kalimat ini menggunakan citraan penglihatan

Ringkasan Buku Pengkajian Puisi

BAGIAN I
ANALISIS STRATA NORMA PUISI

BAB I
PENDAHULUAN

1. Pengkajian Puisi
Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya.Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsur,mengingat bahwa puisi itu adalah strutur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan.Puisi dapat dikaji dari sudutkesejarahannya,mengingat bahwa sepanjang sejarahnya,dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan, perkembangan.
2. Puisi dan Pengertiannya
Di SMA,puisi biasa didefinisikan sebagai karangan yang terikat, sedangkan prosa ialah bentuk karangan bebas (Wirjosoedarmo, 1984:51). Menurutnya puisi itu karangan yang terikat oleh (1) banyak baris dalam tiap bait; (2) banyak kata dalam tiap baris; (3) banyak suku kata dalam tiap baris; (4) rima; dan (5) irama.Menurut Altenbernd (1970:2),puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum).Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting,digubah dalam wujud yang paling berkesan.
Perbedaan pokok antara prosa dan puisi.
1) Kesatuan-kesatuan korespondensi prosa yang pokok ialah kesatuan sintaksis;kesatuan korespondensi puisi resminya-bukan kesatuan sintaksis-kesatuan akustis.
2) Di dalam puisi korespondensi dari corak tertentu yang tetentu pula meliputi seluruh puisi dari semula sampai akhir.
3) Di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir
Segala ulangan susunan baris sajak yang nampak di baris lain dengan tujuan menambah kebagusan sajak,itulah yang dimaksud dengan korespondensi (Slametmuljana,1956:113). Kumpulan jumlah periodus itu merupakan baris sajak. Periodus adalah pembentuk baris sajak menurut istem, sedangkan periodisitas adalah sistem susunan bagian baris sajak (Slametmuljana,1956:112,113). Puisi adalah ekspresi kreatif (yang mencipta), sedang prosa itu ekspresi konstruktif.Dalam bercerita orang menguraikan sesuatu dengan kata-kata yang telah tersedia;sedangkan dalam membuat puisi aktivitas bersifat pencurahan jiwa yang padat (liris dan ekspresif).
3. Puisi Itu Karya Seni
Puisi sebagai karya seni itu puitis.Kepuitisan dapat dicapai dengan bermacam-macam cara,misalnya dengan bentuk visual:tipografi,susunan bait;dengan bunyi:persajakan,asonansi,aliterasi,kiasan bunyi.lambang rasa,dan orkestrasi;dengan pemilihan kata(diksi),bahasa kiasan,sarana retorika,unsure-unsur ketatabahasaan,gaya bahasa,dan sebagainya.Antara unsure pernyataan (ekspresi),sarana kepuitisan,yang satu dengan yang lainnya saling membantu,saling merperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya,semua itu untuk mendapatkan kepuitisan seefektif mungkin,seintensif mungkin.

BAB II

ANALISIS PUISI BEEDASARKAN STRATA NORMA

Analisis Strata Norma Roman Ingraden
Puisi (sajak) merupakan sebuah struktur yang kompleks,maka untuk memahaminya perlu dianalisisnsehingga dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata.Analisis yang bersifat dichotomis,yaitu pembagian dua bentuk dan isi belumlah dapat memberi gambaran yang nyata dan tidak memuaskan(Wellek dan Warrren,1968:140).Karya sastra itu tak hanya merupakan satu system norma,melainkan terdiri dari beberapa strata(lapis) norma.Lapis norma pertama adalah lapis bunyi(sound stratum)Lapis arti (unit of meaning) berupa rangkaian fonem,suku kata,kata,frase,dan kalimat.Lapis stuan arti menimbulkan lapis yang ketiga,berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang.Dunia pengarang adalah ceritanya yang merupakan dunia yang diciptakan oleh si pengarang.Lapis kelima adalah lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi.Analisis strata norma dimaksudkan untuk mengetahui semua unsure (fenomena) karya sastra yang ada.Roman Ingarden menambahkan dua lapis norma yang menurut Wellek dapat dimasukkan dalam lapis yang ketiga yaitu
a) Lapis”dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan,tetapi terkandung dalamnya (implied).
b) Lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis (yang sublime,yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci),dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan (kontenplasi) kepada pembaca.

BAB III
BUNYI

Dalam puisi bunyi bersifat estetik,merupakan unsure untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif.Bunyi di samping hiasan dalam puisi,juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi,yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbukan rasa,dan menimbulkan suasana yang khusus,dan sebagainyai. Dalam kesusastraan Indonesia pernah kemasukan aliran romantic, yaitu Pujangga Baru. Dalam puisi bunyi dipergunakan sebagai orkestrasi, ialah untuk menimbulkan bunyi musik.
Kombinasi bunyi-bunyi vocal (asonansi):a,e,i,o,u,bunyi-bunyi konsonan bersuara (voiced):b,d,g,j,bunyi merdu dan berirama (efoni).Sebaliknya,kombinasi yang tidak merdu,parau,penuh bunyi k,p,t,s disebut kakofoni (cacophony). Kakafoni cocok dan dapat untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau balau,serba tak teratur,bahkan memuakkan.Di dalam puisi bunyi kata itu di samping tugasnya yang pertama sebagai symbol arti dan juga untuk okestrasi, digunakan sebagai:
1) Peniru bunyi atau onomatope;
2) Lambing suara (klanksymboliek);dan
3) Kiasan suara (klankmetaphoor) (Slametmuljana,1956:61).
Suasana hati yang ringan,riang,dilukiskan dengan bunyi vocal e dan i yang terasa ringan,tinggi,kecil.Contoh kata-kata yang mengandung rasa ringan, kecil,dan tinggi: sepi, kering, seni, pekik, perih, detik, rintik, gerimis, iris, kecil, renik, terik. Unsur kepuitisan yang lain ialah sajak.Menurut Slametmuljana (1956:75) sajak ilah pola estetika bahasa yang berdasarkan ulangan suara yang diusahakan dan dialami dengan kesadaran.Sajak disebut pola estetika karena timbulnya dalam puisi ada hubungannya dengan keindahan.
Ada bermacam-macam sajak(rima) yang banyak dipergunakan sebagai unsure kepuitisan dalam puisi Indonesia adalah sajak akhir,sajak dalam, sajak tengah, aleterasi, dan asonansi. Asonansi dan aliterasi berfungsi untuk memperdalam rasa, selain untuk orkestrasi dan mempelancar ucapan. Sajak akhir mempunyai nilai puitis bila sajak itu mengandung hakikat ekspresi,yaitu bila turut memberi bantuan melahirkan dan mempelancar pelaksanaan dan penjilmaan angan.Aliran ekspresionisme masuk ke Indonesia dipelopori oleh Chairil Anwar,mengakibatkan timbulnya sajak-sajak bebas yang tak mementingkan pola sajak (akhir).Bunyi dipergunakan sebagai orketrasi,untuk menimbulkan bunyi music yang merdu,tetapi disesuaikan dengan analis-analis kepuitisan yang lain.

BAB IV
IRAMA

Irama dalam bahasa adalah pergantian turun naik,panjang pendek,keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur.Metrum adalah irama yang tetap,artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu.Ritme adalah irama yang disebabkan pertentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur,tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap,melainkan hanya menjadi gema dendang sukma penyairnya.
Pada umumnya puisi Eropa mempergunakan dasar metrum.Metrum itu banyak macamnya.Misalnya metrum jambis.Tiap kaki sajaknya terdiri dari sebuah suku kata tak bertekan diikuti suku kata yang bertekanan (v-).Metrum anapest,tiap kaki sajaknya terdiri dari tiga suku kata yang tak bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekanan,kemudian diikuti suku kata yang bertekanan (vv-).Metrum trochee atau trocheus,tiap kaki sajaknya terdiri dari suku kata yang bertekanan diikuti suku kata yang tidak bertekanan.
Dalam puisi timbulnya timbulnya irama itu karena perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi,misalnya sajak akhir,asonansi,dan aliterasi.Yang terasa seperti mempunyai metrum ialah syair dan pantun.Puisi yang merdu bunyinya dikatan melodius:berlagu seolah-olah seperti nyanyian yang mempunyai melodi.
Melodi adlah paduan susunan deret suara yang teratur dan berirama (Kusbini,1953:62).Melodi itu timbul karena pergantian nada kata-katanya,tinggi rendah bunyi yang berturut-turut.Bedanya melodi nyanyian dengan puisi ialah terletak pada macam bunyi (nada) yang terdapat pada sajak itu tak seberapa banyaknya dan intervalnya (jarak nada) itu juga terbatas.Dalam berdeklamasi irama dan ketepatan ekspresi didapatkan dengan mempergunakan tekanan-tekanan pada kata.Ada tiga jenis tekanan,yaitu tekanan dinamik,tekanan nada,dan tekanan tempo.Tekanan dinamik ialah tekanan pada kata yang terpenting menjadi sari kalimat dan bait sajak.Tekanan nada ialah tekanan tinggi (rendah).Tekanan tempo ialah lambat cepatnya pengucapan suku kata atau kata (atau kalimat).Dalam berdeklamasi perlu diperhatikan diksi,yaitu cara mengucapkan sajak (pidato,dan sebagainya) atau teknik pengucapannya supaya dapat mengucapkan setepat-tepatnya.Deklamator perlu juga memperhatikan timbre (warna bunyi) suaranya, yaitu corak bunyi,keadaan pembawaan atau sifat-sifat suara deklamator/tris yang tertentu,atau bunyi alat music yang tertentu,yang satu dengan yang lain sangat berbeda.

BAB V
KATA

Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata.Pengetahuan tentang kata berjiwa disebut stilistika.Sedangkan pengetahuan tentang kata-kata sebagai kesatuan yang satu lepas dri yang lain disebut leksikografi.Gramatika yang membicarakan efek dan kesan yang ditimbulkan oleh pemilihan kata dan penyusunan (penempatan) kata disebut tata bahasa stlistika, sedang yang lain yang membicarakan kaidah-kaidah bahasa disebut tata bahasa normative.Dalam puisi belum cukup bila hanya dikemukakan maksudnya saja,yang dikehendaki penyair ialah supaya siapa yang membaca dapat turut merasakan dan mengalami seperti apa yang dirasakan dan dialami penyair.
1. Kosa Kata
Alat untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sastrawan adalah bahasa.Baik tidaknya tergantung pada kecakapan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata.Kehalusan perasaan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata sangat diperlukan.Pewnggunaan kata-kata bahasa sehari-hari dapat member efek gaya yang realistik,sedang penggunaan bahasa/kata-kata nan indah dapat member efek romantic
2. Pemilihan Kata
Pemilihan kata dalam sajak disebut diksi.Barfield mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imaginasi estetik,maka hasilnya itu disebut diksi puitis (1952: 41). Jadi,diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan,untuk mendapatkan nilai estetik.Untuk mendapatkan kepadatan dan intensitas serta supaya selaras dengan sarana komunikasi puitis yang lain,maka penyair memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya (Altenbernd,1970:41).
3. Denotasi dan Konotasi
Sebuah kata itu mempunyai dua aspek arti,yaitu denotasi,ialah artinya yang menunjuk,dan konotasi,yaitu arti tambahannya.Denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya,yaitu pengertian yang menunjuk benda atau hal yang diberi nama dengan kata itu,disebutkan,atau diceritakan (Altenbernd,1970:9).Bahasa yang denotative adalah bahasa yang menuju kepada korespondensi satu lawan satu antara tanda (kata itu) dengan (hal) yang ditunjuk (Wellek,1968:22). Dalam membaca sajak orang harus mengerti arti kamusnya,arti denotatif, orang harus mengerti apa yang ditunjuk oleh tiap-tiap kata yang dipergunakan.
4. Bahasa Kiasan
Unsur kepuitisan yang lain,untuk mendapatkan kepuitisan ialah bahasa kiasan (figurative language).Bahasa kiasan ada bermacam-macam,namun meskipun bermacam-macam,mempunyai sesuatu hal (sifat) yang umum,yaitu bahasa-bahasa kiasan tersebut mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain (Altenbernd,1970:15).Jenis-jenis bahasa kiasan tersebut adalah:
a) Perbandingan
Perbandingan atau perumpamaan atau simile,ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan mempergunakan kata-katapembanding seperti:bagai,sebagai,bak,seperti,semisal,seumpama,laksana,sepantun,penaka,se,dan kata-kata pembanding yang lain.
b) Metafora
Metafora ini bahasa kiasan seperti perbandingan,hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding,seperti bagai,laksana,seperti bagai,laksana,seperti,dan sebagainya.Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain,yang sesungguhnya tidak sama (Altenbernd,1970:15).Metafora terdiri dari dua term atau dua bagian,yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secondary term).Term pokok disebut juga tenor,term kedua disebut juga vehicle.Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan,sedang term kedua atau vehicle adalah hal yang untuk membandingkan.
c) Perumpamaan Epos
Perumpamaan atau perbandingan epos (epic simile) ialah perbandingan yang dilanjutkan,atau diperpanjang,yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya lebih lanjut dalam kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut.Guna perbandingan epos ini seperti perbandingan juga,yaitu untuk member gambaran yang jelas,hanya saja perbandingan epos dimaksudkan untuk lebih memperdalam dan menandaskan sifat-sifat pembandingnya,bukan sekedar memberikan persamaannya saja.
d) Allegori
Allegori ialah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan.Cerita kiasan atau lukisan ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain.Allegori ini banyak terdapat dalam sajak-sajak Pujangga baru.
e) Personifikasi
Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia,benda-benda mati dibuat dapat berbuat,berpikir,dan sebagainya seperti manusia.Personifikasi ini banyak dipergunakan para penyair dari dahulu hingga sekarang. Personifikasi ini membuat hidup lukisan, di samping itu member kejelasan beberan,memberikan bayangan angan yang konkret.
f) Metonimia
Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kisan pengganti nama.Bahasa ini berupa penggunaan sebuh atribut sebuh objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut (Altenbernd,1970:21). Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya disbanding metafora, perbandingan, dan personifikasi ialah metonimia dan sinekdoki.
g) Sinekdoki (synecdoche)
Sinekdoki adlah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri. (Altenbernd, 1970:22). Sinekdoki ini ada dua macam: 1. pars pro toto:sebagian untuk keseluruhan. 2. totum pro parte: keseluruhan untuk sebagian.
5. Citraan (gambaran –gambaran angan)
Citraan adalah gambara-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkanya (Alternbernd, !970:12), sedang setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image).Gambaran pikiran ini adlah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai (gambaran) yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata,saraf,penglihatan,dan daerah-daerah otak yang berhubungan (yang bersangkutan). Coombes mengemukakan (1980:42-43) dalam tangan seorang puncak penyair yang bagus, imaji itu segar dan hidup, berada dalam puncak keindahannya menjernihkannya.
Jenis-jenis imaji
Gambaran-gambaran angan itu ada bermacam-macam, dihasilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman. Bahkan juga diciptakan oleh pemikiran dan gerakan. Citraan yang timbul oleh penglihatan disebut citra penglihatan (visual imagery).Citraan penglihatan adalah jenis yang saling sering dipergunakan oleh penyair dibandingkan dengan citraan yang lain.
Contoh:
Ruang diributi jerit dada(: pendengaran)
Sambal tomat pada mata
Meleh air racun dosa
(1957:34)
Penyair yang banyak menggunakan citra penglihatan disebut penyair visual,misalnya W.S Rendra.Altenbernd (1970:14) mengemukakan bahwa citraan adalah satu alat kepuitisan yang terutama yang dengan itu kesusastraan mencapai sifat-sifat konkret,khusus,mengharukan,dan menyaran.Untuk memberi suasana khusus,kejelasan,dan memberi warna setempat (local colour) yang kuat penyair mempergunakan kesatuan citra-citra (gambaran-gambaran) yang selingkungan.Sajak yang menunjukkan adanya kesatuan citraan membuat jelas dan memberi suasana khusus.Sajak-sajak yang tidak menunjukkan kesatuan citraan menyebabkan gelap,seperti tidak ada saling hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain atau antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain.

6. Gaya Bahasa dan Sarana Retorika
Gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis (Slametmuljana Tt:20). Gaya bahasa itu menghidupkan kalimat danm memberi gerak pada kalimat. Gaya bahasa itu menimbulkan reaksi tertentu, untuk menimbulkan tanggapan pikiran kepada pembaca. Corak-corak atau jenis-jenis sarana retorika tiap periode itu ditentukan atau sesuai dengan gaya sajaknya, alirannya, paham,konvesi dan konsepsi estetikanya. Sarana retorika yang dominan adalah tautologi, pleonasme, keseimbangan, retorik retisense, paralelisme, dan penjumlahan. Corak-corak atau jenis-jenis sarana retorika tiap periode itu ditentukan atau sesuai dengan gaya sajaknya, aliran, paham, serta konvensi dan konsepsi estetikanya. Sarana-sarana retorika yang tidak banyak dipergunakan dalam puisi-puisi Pujangga Baru, diantaranya: Paradoks, hiperbola, pertanyaan retorik,klimaks,kiasmus.
Tautologi adalah: saran retorika yang menyatakan hal atau keadaan dua kali, maksudnya supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar.
Pleonasme adalah sarana retorika yang sepintas lalu seperti tautologi, tetapi kata yang kedua sebenarnya telah tersimpul dalam kata yang pertama.
Enumerasi adalah saran retorika yang berupa pemecahan suatu hal atau keadaan menjadi beberapa bagian dengan tujuan agar hal atau keadaan itu lebih jelas dan nyata bagi pembaca atau pendengar (Slametmuljana, Tt:25).
Paralelisme adalah mengulang isi kalimat yang maksud tujuannya serupa. Kalimat yang berikut hanya dalam satu atau dua kata berlainan dari kalimat yang mendahului (Slametmuljana, Tt:29).
Retorik retisense adalah sarana ini mempergunakan titik-titik banyak untuk mengganti perasaan yang tak terungkapkan.
Hiperbola adalah saran retorika yang melebih-lebihkan suatu hal atau keadaan.
Paradoks aadalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berlawanan, tetapi sebetulnya tidak bila sungguh-sungguh dipikir atau dirasakan.
7. Faktor Ketatabahasaan
Faktor ketatabahasaan meliputi faktor ketatabahasaan Chairil Anwar dan faktor ketatabahasan Sutardji.Faktor ketatabahasaan Chairil Anwar mencakup pemendekan kata, penghilangan imbuhan, penyimpangan struktur sintaksis. Sedangkan faktor ketatabahasaan Sutardji mencakup penghapusan tanda baca, penggabungan dua kata atau lebih,penghilangan imbuhan,pemutusan kata, pembentukan jenis kata.

BAGIAN II

I. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK
a. Analisis struktural
Analisis struktural adalah analisis yang melihat bahwa unsur-unsur struktur sajak itu saling berhubungan secara erat, saling menentukan artinya sebuah unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya.Struktur disini dalam arti bahwa karya sastra itu merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal balik, saling menentukan.
b. Analisis Semiotik
Menganalisis sajak adalah berusaha menangkap dan memberi makna pada teks sajak. Bahasa sebagai medium karya sastra merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti. Karena sastra adalah sistem tanda yang lebih tinggi atas kedudukan dari bahasa, maka disebut sistem semiotik. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap makna sajak. Makna sajak adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun berdasrkan struktur sastra menurut konvesinya.Dalam pengertian tanda ada dua prinsip,yaitu penanda (signifer) atau yang menandai,yang merupakan bentuk tanda,dan penanda (signified) atau yang ditandai,yang merupakan arti tanda.Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda,ada tiga jenis tanda yang pokok,yaitu ikon,indeks,dan simbol.
c. Latar Belakang sejarah dan sosual budaya Sastra
Menurut teori struktural murni, karya sastra haruslah dianalisis struktur unsur intrinsiknya saja. Unsur-unsurnya dilihat dari kaitannya dengan unsur lainnya yang terjalin dalam struktur itu sendiri. Oleh karena itu, analisis struktural murni memiliki keberatan-keberatan yaitu diantaranya mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahannya dan latar belakang sosial budayanya. Di samping itu, untuk mendapatkan makna sajak secara sepenuhnya, maka analisis sajak tidak dapat dilepaskan dari kerangka sejarah sastranya. Seperti telah dikemukakan, sebuah karya satra tidak lahir dalam kekosongan sastra.
II. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK SAJAK SAJAK AMIR HAMZAH
Strukturalisme dapat paling tuntas dilaksanakan bila yang dianalisis adalah sajak yang merupakan keseluruhan, yang unsur atau bagian-bagiannya saling erat berjalin (Hawkes, 1978: 18). Sajak merupakan kesatuan yang utuh atau bulat, maka perlu dipahami secara utuh dan bulat pula. Untuk memudahkan pemahaman seperti itu, maka perlulah di sini diberikan parafrase setiap sajak sebelum dianalisis secara nyata lebih lanjut. Sajak-sajak yang dianalisis secara khusus di sini : Padamu Jua, Barangkali, Hanya satu, Tetapi Aku, Sebab Dikau, Turun Kembali, Insaf dan Astana Rela.
a. Padamu Jua
Sajak ini merupakan monolog si aku kepada kekasihnya. Tuhan dalam sajak ini diantropomorfkan, diwujudkan sebagai manusia, dikiaskan sebagai dara, sebagai kekasih, adalah salah satu cara untuk membuat pathos, yaitu menimbulkan simpati dan empati kepada pembaca sehingga ia bersatu mesra dengan obyeknya (Budi Darma, 1982: 112). Penggunaan citraan yang berhubungan erat dengan bahasa kiasan, dalam sajak ini dipergunakan untuk membuat gambaran segar da hidup, dipergunakan secara sepenuhnya untuk memperjelas dan memperkaya, seperti dikemukakan oleh Coombes (1980: 43), yaitu citraan yang berhasil menolong kita untuk merasakan apa yang dirasakan penyair terhadap obyek atau situasi yang dialami dengan tepat, hidup dan ekonomis.
Citra gerak (kinaesthetik image): segala cintaku hilang terbang/ pulang kembali aku padamu/ seperti dahulu: gerak itu ditandai dengan bunyi konsonan l diperkuat bunyi r, seolah tampak gerak burung terbang yang mengiaskan cinta yang hilang, begitu pula tampak gerak si aku yang lunglai. Citra rabaan (tactile/thermal image) dan penglihatan yang merangsang indera dipergunakan dalam: Aku manusia/Rindu rasa/Rindu rupa (bait 4). Untuk merangsang pendengaran digunakan citra pendengaran (sound image) Suara sayup/ Hanya kata merangkai hati. Unsur-unsur ketatabahasaan dipergunakan dalam sajak ini untuk ekspresivitas, membuat hidup, dan liris karena kepadatan dan kesejajaran/keselarasan bunyi dan arti meski menyimpang dari kaidah kata bahasa formatif.
b. Barangkali
Secara semiotik yang mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan bahasa sebagai tanda mempunyai arti (Preminger, 1974:980), pilihan kata-katanya dalam sajak ini menanadai suasana percintaan yang romantis, sesuai dengan khayalan si aku tentang kekasihnya. Metafora dalam sajak ini selain untuk membuat konkret tanggapan, juga dipergunakan untuk kesejajaran bunyi yang membuat ritmis: akasa swarga; nipis-tipis; di lengan lagu; selendang dendang; mata-mutiara-mu; dara asmara; swara swarna; pantai hati; gelombang kenang.Dalam sajak ini sarana-sarana kepuitisan yang telah terurai di atas dikombinasikan dengan fungsi bunyi. Irama dan ulangan-ulangan bunyi membuat liris dan menambah intensitas kegembiraan.
c. Hanya Satu
Dalam sajak ini digambarkan betapa hebat kekuasaan Tuhan. Ia menurunkan hujan lebat dan membangkitkan badai untuk menenggelamkan bumi serta merusak, menghancurkan taman dunia yang indah.Sajak “Hanya Satu” terdiri dari dua bagian yaitu bagian I adalah bait 1-4, bagian II bait 5-7. bagian I dipergunakan untuk menunjukkan badai, hujan, dan banjir besar yang menenggelamkan bumi, serta menghancurkan umat manusia yang tidak percaya kepada-Nya. Secara ringkasnya oleh penyair ditunjukkan pada bagian I bahwa manusia hanya dapat mengetahui (mengenal) tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Karena itu, pada bagian II penyair mengemukakan kerinduannya dan hasratnya untuk dapat dekat rapat dengan Tuhan seperti ketika Nabi Musa di puncak di puncak bukit Tursina.
Dalam sajak ini, koherensi antara arti kata, suasana kegemuruhan, ketakutan, kedasyatan itu tampak dalam bagian I, 1-4, ditunjukkan dengan kata-kata yang mengandung arti kedasyatan, yang berekuevalensi dengan bunyi berat vokal a dan u, serta o: timbul ,kalbumu, terbang hujan, ungkai badai, membelah gelap.Pada bagian I digambarkan kedasyatan yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran Tuhan, maka citraanpun sesuai dengan itu yaitu citra gerak, visual, dan auditif (pendengaran). Pada bagian II, karena yang dikemukakan bersifat pemikiran, maka citra-citra yang dominan adalah citra-citra intelektual, yaitu hal-hal itu dapat dimengerti dengan berfikir.
d. Tetapi Aku
Dalam sajak ini dikemukakan oleh si aku bahwa ia tiba-tiba sekejap ditemui Tuhan, tetapi si aku tiada merasa, tiada sadar akan hal itu, meskipun mutiara-jiwa si aku telah lama dicari-carinya. Sajak ini untuk membangkitkan perasaan dan tanggapan dipergunakan kiasan-kiasan berupa metaforayang juga berupa citraan. Dalam bait kedua, untuk kepadatan digunakan sinekdoki totum pro parte. Dalam sajak ini untuk pothos, yaitu rasa untuk meleburkan diri dengan obyeknya, dipergunakan citra-citra gadis, dara ang cantik bagai bidadari. Dalam sajak ini ekspresivitas dan intensitas arti dicapai selain dengan pilihan kata yang artinya sangat (menyangatkan) juga dengan unsur bunyinya yang selaras dengan pilihan katanya tersebut.
e. Sebab Dikau
Dalam sajak ini dikemukakan bahwa meskipun manusia hidup senang dengan kekasih dunianya, namun sesungguhnya manusia ini tak ubahnya hanyalah boneka yang dipermainkan oleh Tuhan sebagai dalangnya. Pada bait 1 dipergunakan metafora-metafora implisit. Bait 2, -3, -4, dan -5 merupakan perbandingan epos (epit simile) yaitu, perbandingan yang diteruskan secara panjang lebar. Bait -5 menjadi pengeras artinya, menjadi memperjelas sifat ironi, hal ini disebabkan juga oleh bunyi kakofoni, bunyi yang jelek, yang parau pada baris ke-2, -3, -4 yaitu bunyi k berturut-turut.
f. Turun Kembali
Dalam sajak ini dikemukakan ide bahwa manusia itu tidak bersatu dengan Tuhan. Manusia itu hamba, sedangkan Tuhan itu penghulu, maharaja. Manusia itu hidup di bawah lindungan Tuhan. Manusia itu dapat hidup senang berkat karunia Tuhan. Dalam sajak ini penyair mempergunakan bahasa-bahasa kiasan untuk mengkonkretkan ide yang abstrak, di samping untuk membuat ucapannya hidup dan menarik. Kiasan yang ada di dalam sajak ini pada umumnya berupa metafora, yang vehiclenya (term perbandingannya) sekaligus merupakan citraan.
Dalam sajak ini dikemukakan bahwa si aku mendapati jalan buntu karena semua permintaan dan pertanyaan tidak dijawab oleh Tuhan. Dalam sajak ini penyair mempergunakan kata-kata yang tidak biasa lagi dipergunakan pada waktu sekarang: astana = istana, ripuk: pecah-pecah (remuk), hancur, dewala: dinding, tembok; sempama:restu. Dalam sajak ini juga terdapat penyimpangan tata bahasa normatif untuk mendapatkan ekspresivitas dengan kepadatan, yaitu hanya intinya saja yang diucapkan.
g. Astana Rela
Pokok pikiran sajak ini bahwa tiadalah mengapa si aku dengan kekasihnya tidak berjumpa (hidup bersama) di dunia sebab si aku yakin bahwa nanti mereka akan bersua di surga. Dalam sajak ini tergambar adanya pertentangan antara dua hal, yaitu dunia dan akhirat. Sarana-sarana kepuitisan dalam sajak ini terutama berupa metafora dan citraan (imagery).
III. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR

Proses analisis dan parafrase sajak-sajak Chairil Anwar adalah seperti analisis dan parafrase sajak-sajak Amir Hamzah dalam bab 2, sebagai berikut.
a) Aku
Secara struktural, dengan melihat hubungan antar unsur-unsur dan keseluruhannya, juga berdasarkan kiasan-kiasan yang terdapat di dalamnya, maka dapat ditafsirkan bahwa dalam sajak ini dikemukakan ide kepribadian bahwa orang itu harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Dalam sajak ini kemantapan pikiran dan semangat selain ditandai dengan pemilihan kata yang menunjukkan penegasan : ‘ku mau, aku tetap meradang, dsb.Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika yang berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan (tautologi), serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal a dan u ulangan bunyi lain serta persajakan akhir.
b) Selamat Tinggal
Sajak ini merupakan penggalian masalah pribadi dan kesadaran kepada kejelekan dan kekurangan diri manusia sebagai pribadi. Sesungguhnya kata-kata dalam sajak ini adalah kata-kata biasa. Hanya saja karena konvensi puisi seperti dikemukakan oleh Preminger (1974:980-2), yaitu konvensi ekstrapolasi simbolik (mencari makan simbolik) dan konvensi makana, yaitu lirik yang kosong sebagai sesuatu yang mulia, maka kata-kata tersebut mempunyai kemampuan untuk ditafsirkan sebagai kata kiasan yang luas artinya.
c) Doa
Dalam sajak ini Chairil Anwar menyatakan pengertian itu dengan cara yang tidak langsung, dengan kiasan, dan gambaran yang artinya membias. Secara semiotik, sajak ini dikontrskan bunyi vokal u yang dominan dengan bunyi i yang juga berturut-turut. Dalam sajak “Doa” tampak adanya pertentangan, seperti antara keraguan dan kepercayaan. Hal ini secara semiotik tergambar dalam penggunaan bahasanya: pemilihan kata serta bunyinya.
d) Kepada Peminta-minta
Mengenai arti kata ‘peminta-minta’, kata ini dapat berarti peminta-minta dalam arti harfiah, arti kamusnya yaitu orang yang meminta sedekah atau pengemis. Bahasa puisi adalah polyinterpretable (banyak tafsir) dan sangat konotatif (penuh arti tambahan) (Wellek, 1968:25), maka kata ‘peminta-minta’ dapat berarti kiasan yaitu orang yang meminta si aku untuk ingat kepada Tuhan, untuk menyembah Tuhan (Dia), sebab manusia itu ciptaan dan hamba Tuhan. Ide atau pengertian sifatnya abstrak, maka untuk memahaminya, supaya dapat dirasakan oleh pembaca, ide atau pengertian tersebut dikonkretkan dengan kiasan-kiasan dan citra-citra. Selain dikonkretkan dengan citra-citra serta kiasan seperti di atas, untuk menyatakan betapa tersiksanya si aku juga dipergunakan dalam sajak tersebut sarana retorika hiperbola.

Sebuah Kamar
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
Pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
Mau lebih banyak tahu.
‘sedah lima anak bernyawa disini,
Aku salah satu!’
Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matannya menatap orang terselip batu!
Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
Di luar hitungan,: kamar begini,
3x4m, terlalu sempit buat meniup nyawa!
(DCD,1959:23)
Dalam sajak ini penyair mengemukakan sebuah ironi kehidupan (di Indonesia), yaitu pertama orang luar itu selalu ingin mengetahui rahasia orang lain, atau mencampuri urusan orang lain. Kedua, dalam keadaan sangat menderita orang hanya berdoa, seperti si ayah si aku; ketiga, orang masih menambah anak lagi, padahal anaknnya sudah banyak dan dalam keadaan yang sangat menderita.

IV. KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI PUISI
Analisis structural yang digabungkan dengan semiotic disebut stukturalisme dinamik (Teeuw, 1983:62). Ketidaklangsungan pernyataan puisi itu menurut Riffaterre (1978:2) disebabkan oleh tiga hal : penggantian arti (Displancing), pada umumnnya kata-kata kiasan menggantikan arti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan metonimi (Riffaterre : 1978:2). Dalam penggantian arti ini suatu kata (kiasan) berarti yang lain (tidak menurut arti sesungguhnnya).
Penyimpangan arti (Distorting), dikemukakan Rifatterre (1978:2) penyimpangan arti terjadi bila dalam sajak ada ambiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense.Dan penciptaan arti (Creating of meaning), Terjadi penciptaan arti bila ruang teks berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnnya secara linguistic tidak ada artinnya, misalnnya simitri, rima, enjembement, atau ekuivalensi=ekuivalensi makna di antara persamaan-persamaan posisi dalam bait.

V. HUBUNGAN INTERTEKSTUAL.
Dalam kesusastraan Indonesia, hubungan intertekstual antara suatu karya sastra dengan karya lain, abaik antara karya karya sezaman ataupun zaman sebelumnnya banyak terjadi. Misalnnya dapat dilihat antara karya-karya pujangga baru, dengan karya angkatan 45, ataupun dengan karya lain. Memahami sajak adalah usaha menangkap maknannya ataupun usaha member makna sajak. Untuk itu perlulah konteks kesejarahan sajak itu diperhatikan. Dalam kaitannya dengan konteks kesejarahan ini, perlu diperhatikan prinsip intertekstualitas, yaitu hubungan antara satu teks dengan teks yang lain.

VI. LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA
Pemahaman puisi tdak dapat dilepaskan dari latar belakang kemasyarakatan dan kebudayaan. Untuk dapat memberikan makna sepenuhnnya kepada sebuah sajak, selain sajak dianalisis struktur intrinsiknnya dan dihubungkan dengan kerangka kesejarahannya, diantarannya dengan intertektualitas, maka analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial-budayannya ( Teeuw, 1983 : 61, 62). Penyair Indonesia berasal dari bermacam-macam masyarakat, sesuai dengan jumlah suku bangsa Indonesia.