Rangkuman Buku Teori Fiksi Karya Robert Stanton

BAB I
PENDAHULUAN

A. Perkembangan Baru Dunia Sastra Indonesia
Dekade 1970-an merupakan masa perkembangan baru dalam kesusastraan Indonesia yang membawa perubahan penting di tengah kehidupan masyarakat.Perkembangan itu ditandai antara lain dengan banyaknya karya sastra baik puisi,cerpen,novel,maupun drama yang diterbitkan.Karyasastra berbagai genrenya adalah anak zamannya yang melukiskan corak,cita-cita,aspirasi,dan perilaku masyarakatnya sesuai dengan hakikat dan eksistensi karya sastra yang merupakan interprensi atas kehidupan (Hodson,1979:132).
Diantara tiga genre karya sastra yakni puisi,fiksi,dan drama,karya fiksi novellah yang paling dominan.Usaha mengeksploitasi estetika yang berada jauh di luar politik adalah penggalian tradisi pada sumber kekayaan khasanah sastra Indonesia sendiri (Mahayana,2007:30).Karya sastra merupakan dunia imajinatif yang merupakan hasil kreasi pengarang setelah merefleksi lingkungan sosial kehidupannya.Novel merupakan pengolahan masalah-masalah sosial ke masyarakat oleh kaum terpelajar Indonesia sejak tahun 1920-an dan yang sangat digemeri oleh sastrawan (Hardjana,1989:71).
B. Sastra Sebagai Media Pengembangan Budaya Nasional
Karya sastra merupakan salah satu alternatif dalam rangka pembangunan kepribadian dan budaya masyarakat (character and cultural building) yang berkaitan eratdengan latar belakang struktural sebuah masyarakat (Kuntowijoyo,1987:15).Karya-karya fiksi dan puisi yang diagungkan sebagai karya sastra(literer) adalah karya-karya yang berhasil membangunkan manusia atas rasa empati dengan tokoh-tokoh dalam karya tersebut.Mengkaji karya sastra akan membantu kita menangkap makna yang terkandung di dalam pwngalaman-pengalaman pengarang yang disampaikan melalui para tokoh imajinatifnya dan memberikan cara-cara memahami segenap jenis kegiatan sosial kemasyarakatan serta maksud yang terkandung di dalam kegitan-kegiatan tersebut baik kegiatan masyarakat kita sendiri maupun masyarakat lainnya.
C. Keluarga Permana Sebgai Novel Fenomenal
Novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H. merupakan salah satu novel yang fenomenal sekaligus kontroversial.Fenomenal karena Keluarga Permana mengupas masalah-masalah yang khas Indonesia sejak zaman kemerdekaan hingga kini yakni hubungan antarumat beragama.Kontroversial karena novel ini lahir pada saat masyarakat Indonesia yang pluralistik dan multiagama sedang diramaikan oleh berbagai masalah keagamaan dan kerukunan antarumat beragama.Khas karena masalah semacam ituagaknya hanya terdapatdi dalam masyarakat Indonesia yang pluralistik sifatnya baik dalam suku bangsa,etnik,tradisi,bahasa maupun agamanya.Rawan dan peka karena masalah sosial keagamaan semacam itu termasuk dalam SARA (suku,agama,ras,dan antargolongan) yakni hal-hal yang dianggap dapat mengganggu stabilitas nasional dalam kehidupam berbangsa,kaitannya dengan persatuam dan ketahanan nasional yang dalam dua dekade terakhir ini sedang menghadapi tantangan di berbagai wilayah di tanah air.
Yang menjadikan novel ini istimewa dan penting menurut Teeuw (1989:188) adalah keberhasilannya dalam mengungkapkan konflik keagamaan yang sering melanda keluarga Islam pada umumnya.Masalah pergantian agama dalam masyarakat yang terjadi karena adanya berbagai cara yang tidak sehat dan tidak menjaga rasa saling menghargai dan hormat-menghormati (tepaselira:17).Menurut Mohammad (1982:145), sastra keagamaan yang baik adalah karya sastra yang tidak bermaksud mengslamkan atau mengkristenkan pembacanya,melainkan untuk membantu pembaca dalam menyelesaikan sendiri masalah hidupnya,mengetuk pembaca dengan pertanyaan yang menggoda hingga pembaca menemukan jawabannya.
D. Permasalahan
Dalam konteks ilmu sastra penelitian merupakan suatu proses penajaman tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem sastra.Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana wujud bangunan struktur novel Keluarga Permana karya Ramadhani K.H.? (2) Bagaimana makna dimensi sosial keagamaan dalam novel Keluarga Permana karya Ramadhani K.H ? Denan demikian masalah yang dihadapi dan yang hendak dijawab melalui penelitian ini adalah hubungan antarumat beragama sebagai gejala sosial dan konflik sosial keagamaan yang ditimbulkan dalam Keluarga Permana sebagai gejala sastra.
E. Tujuan dan Manfaat Kajian
Sesuai dengan permasalahan penelitian,maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan wujud bangunan struktur novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H.? (2) Mengungkapkan hubungan antarumat beragama sebagai gejala sosial dan konflik sosial keagamaan yang ditimbulkan dalam Keluarga Permana. (3) Memaparkan Keluarga Permana dalam memperbincangkan aspek kehidupan yang rawan dan peka itu.
Adapun manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua yakni manfaat teoritis dan praktis.Manfaat teoritis,pertama yakni menerapkan teori sastra terhadap sastra Indonesia khususnya dalam usaha menelaah Keluarga Permana.Kedua,untuk melanjutkan penelitian-penelitian serupa mengenai Keluarga Permana yang telah terlenih dahulu dilakukan oleh para pengamat/kritikus sastra yang selama ini baru berupa telaah pendek dan secara umum.
Manfaat praktis penelitian ini ialah: (1) Memperluas wawasan pemikiran kepada pembaca mengenai berbagai fenomena sosial keagamaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang pluralistik yang diperbincangkan dalam sastra Indonesia modern. (2) Memberikan dasar-dasar dan informasi bagi pembaca dalam upaya meningkatkan apresiasi sastra terhadap Keluarga Permana dan sastra Indonesia modern pada umumnya.
F. Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori
a. Tinjauan Pustaka
Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa pustaka/tulisan yang mengkaji novel Keluarga Permana.Pertama,Teeuw dalam SastraIndonesia Modern II (1979).Kedua,Jakob Sumardjo dalam Pengantar Novel Indonesia (1991).Adapun pustaka yang mengkaji dimensi sosial keagamaan dalam novel Keluarga Permana adalah sebuah skripsi karya Sujarwanto (1979) berjudul “Masalah Keagamaan dalam Novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H.”Mengkaji novel Keluarga Permana dari segi masalah keagamaannya.
b. Landasan Teori
Dalam telaah sastra modern,hakikat karya sastra yang paling mendasar adalah tindak komunikasi sehingga aspek komunikasi memegang peran penting.Keluarga Permana yang menjadi objek penelitian ini merupakan karya sastra genre fiksi novel.Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah makna dimensi sosial keagamaan dalam Keluarga Permana yang diangkat dari tema yang merupakan salah satu unsur karya.Sesuai dengan hakikat sastra sebagai tindak komunikasi,maka cara yang dipilih dalam penelitian dalam penelitian ini adalah meletakkan dimensi sosial keagamaan dalam sistem komunikasi sastra.
a) Novel Indonesia Mutakhir
Novel Indonesia berkembang pesat sejak dekade 1979-an karena didukung oleh beberapa faktor yakni: (1) adanya maecenas sastra berhubungan dengan makin stabilnya keadaan ekonomi Indonesia, (2) kebebasan mencipta sastra (bersastra) yang relatif terseenggara sejak tahun 1967, (3) dukungan pers yang menyediakan rubrik sastra dan budaya dalam majalah dan surat kabar,dan (4) berkembangnya konsumen sastra terutama di kalangan muda (Sumardjo,1982:15-16).
Gejala-gejala dalam sastra yang membentuk sastra Indonesia mutakhir menurut Darma menyangkut filsafat,kerinduan arkitipal dan sofistikasi dalam karya sastra.Filsafat,dapat diucapkan lewat sastra,sementara itu sendiri sekaligus dapat bertindak sebagai filsafat.Kerinduan arkitipal,menyaran pada adanya kecenderungan para sastrawan yang berusaha menggalai kembali akar tradisi subkebudayaan.Hakikat kerinduan arkitipal adalah kerinduan terhadap sebuah subkebudayaan yang telah membentuk kita menjadi manusia Indonesia.Sofistikasi,menyaran pada pandangan pemikiran baru yang mengkristal dalam filsafat.
b) Novel:Struktur dan Unsur-unsurnya
Novel merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab kreatif sebagai karya seni yang berunsur estetik dengan menawarkan model-model kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh pengarang.Stanton (1995:11-36) membagi unsur-unsur yang membangun novel menjadi tiga,yakni fakta (facts),tema (theme),dan sarana sastra (literary devide).Menurut kaum strukturalis,unsur fiksi (teks naratif) dapat dibagi menjadi dua yakni unsur cerita (story,content) dan wacana (discourse,expression).
c) Teori Strukturalisme
Menurut Peaget (dalam Zaimar,1991:20),strukturalisme adalah semua doktrin atau metode yang dengan suatu tahap abstraksi tertentu menganggap objek studinya bukan hanya sekedar sekumpulan unsur yang terpisah-pisah melainkan suatu gabungan unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain sehingga yang satu tergantung pada yang lain dan hanya dapat didefinisikan dalam dan oleh hubungan perpadanan dan pertentangan dengan unsur-unsur lainnya dalam suatu keseluruhan.Teeuw (1984:135-136) menandaskan bahwa tujuan analisis struktural adalah membongkar dan memaparkan secermat mungkin keterkaitan dan keterjalinan berbagai unsur yang secara bersama-sama membentuk makna.Strukturalisme dinamik adalah model semiotik yang memperlihatkan hubungan dinamik dan tegangan yang terus-menerus antara keempat faktor yakni pengarang,karya,pembaca dan realitas atau kesemestaan.
d) Teori Semiotik
Tujuan analisis karya sastra adalah mengungkapkan maknanya.Manusia sebagai homo signicans,dengan karyanya akan memberi tanda kepada dunia nyata atas dasar pengetahuannya.Semiotik merupakan suatu disiplin ilmu yang meneliti semua bentuk komunikasi antarmakna yang didasarkan pada sistem tanda (Segers,1978:14).Peirce (dalam Abrams,1981:170) membedakan tiga kelompok tanda yaitu (1) ikon,adalah suatu tanda yang menggunakan kesamaan dengan apa yang dimaksudkannya,misalkan kesamaan peta dengan wilayah geografis yang digambarkannya, (2) indeks,adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya,misalnya asap merupakan tanda akan adanya api,dan (3) simbol,adalah hubungan antara hal/sesuatu (item) penanda dengan item yang ditandainya yang sudah menjadi konvensi masyarakat,misalnya lampu merah berhenti.Mengutip pendapat Saus-sure,Barthes menyatakan bahwa semiotik mengacu pada dua istilah kunci yakni signifiant (penanda) dan signifire (petanda).Penanda adalah imaji bunyi yang bersifat psikis sedangkan petanda adalah konsep.
e) Teori Interteks
Teori interteks memandang setiap teks sastra peru dibaca dengan latar belakang teks-teks lain dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaan sastra tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai acuan.Kristeva (1980:36) menyatakan bahwaintertekstual adalah masuknya teks lain ke dalam suatu teks,saling menyilang dan menetralisasi satu dengan lainnya.Hubungan intertekstualitas adalah hubungan antarkarya dan juga penanda dan partisipasinyadalam lingkup dirkursif budaya.Perspektif intertekstualitas,kutipan-kutipan yang membangun teks adalah anonim,tak terjaki walaupun demikian sudah dibaca;kutipan-kutipan tersebut berfungsi sebagai (yang) sudah dibaca (Barthes dalam Culler,1981:103)
f) Kode Bahasa, Ssatra, dan Budaya
Kode pertama yang berlaku bagi tiap teks sastra adalah kode bahasa yang dipakai sebagai media karya sastra.Setiap tanda dalam unsur bahasa itu mempunyai arti tertentu yang secara konvensional disetujui,diterima,dan mengikat masyarakat tidak hanya dalam arti bahwatanda itu merupakan berian,tetapi yang lebih penting lagi di dalam sistem tanda itu tersedia perlengkapan koseptual yang sukar dihindari.Sebagai karyasastra,novel memiliki konvensi sastra,bukan sebagai sistem yang beku dan ketat melainkan sistem yang luwes dan penuh dinamika.
c. Metode Penelitian
Kajian dimensi sosial keagamaan novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H. ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal,keadaan,fenomena dan tidak terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi analisis dan interpretasi data tersebut (Sutopo,2006:127). Analisisnya mengarah pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya menurut apa adanya.
Data penelitian ini adalah data kualitatif yakni data lunak (soft data) berupa kata,frasa,kalimat,dan wacana dalam novel Keluarga Permana.Pengumpulan data ditempuh dengan teknik pusaka,simak,dan catat. Pertama, dilakukan pembacaan dan penghayatan sumber data utama yakni novel Keluarga Permana,Selanjutnya pengumpulan data dilakukan dengan teknik analisis isi (content analysis) yang meliputi teknik simak dan catat serta teknik pusaka.Dalam rangka pengungkapan makna Keluarga Permana,analisis data dilaksanakan melalui metode pembacaan model semiotik yakni pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik (Riffaterre,1978:5-6).Pembacaan heuristik adalah pembacaan menurut konvensi atau struktur bahasa (pembacaan semiotik tingkat pertama).Adapun pembacaan hermemeutik adalah pembacaan ulang dengan memberikan interpretasi berdasarkan berdasarkan konvensi sastra (pembacaan semiotik tingkat kedua).

BAB II
PENGARANG, LATAR SOSIAL BUDAYA, DAN KARYANYA

A. Ramadhan K.H.,dan Kesadaran Sosial
Sastra yang besar selalu merupakan suatu tindakan historis (historical),karena mengekspresikan suatu imajimasi yang global mengenai manusia dan alam semesta (Goldmaan,1981:41).Ramadhan Karta Hadimaja nama lengkap pengarang ini,tetapi ia lebih dikenal dengan Ramadhan K.H. dalam dunia sastra Indonesia.Sastrawan yang lahir pada tanggal 16 Maret 1927 di Bandung dan besar di Cianjur tanah Priangan Jawa Barat Sumardjo,1991:46),pendidikan terakhirnyaadalah Akademi Dinas Luar Negeri.Perhatiannya yang lebih besar pada dunia kesenian khususnya kesusastraan membawanya meninggalkan akademi tersebut.Ramadhan pada mulanya suka melukis.Dengan dorongan dan bantuan kakaknya,sastrawan Aoh Karta Hadimaja,mulailah ia menulis karya sastra.Sejak tahun 1952 ia menggeluti dunia sastra.Mula-mula cerita pendek yang ditulisnya kemudian sajak dan akhirnya ia lebih dikenal sebagai novelis.
Namanya mulai mencuat di kalangan sastrawan Indonesia berkat kumpulan sajaknya yang berjudul Priangan Si Jelita (Balai Pustaka,1963) berhasil memenangkan hadiah pertama dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) untuk karya puisi Indonesia tahun 1957-1958 (Rosidi,1977:134).Selain sebagai sastrawan,Ramadhan juga dikenal sebagai wartawan Indonesia senior.Kemahirannya dalam tulis-menulis dan pengalamannya yang luas telah membuatnya pernah dipercaya sebagai redaktur beberapa majalah,antara lain Kisah,Siasat,Siasat Baru,Kompas,dan Budaya Jaya (1972-1979).Ia pernah dipercaya masyarakat seni untuk menjabat Sekkretaris Dewan Kesenian Jakarta (1971-1974) dan pada tahun 1977-1981 menjadi Direktur Pelaksananya.Tahun 1973 Ramadhan mewakili Indonesia dalam Kongres Penyair Sedunia di Taipei,Taiwan (Eneste,1981:77).Novel pertamanya,Royan Revolusi (Gunung Agung,1971) telah berhasil pula memenangkan hadiah pertama dalam sayembara penulisan cerita yang diselenggarakan UNESCO-IKAPI pada tahun 1968
.Karya-karya Ramadhan itu mencerminkan kondisi,situasi,dan cita-cita masyarakat dalam suatu kurun waktu tertentu.Karya-karyanya menunjukkan ketrpihaknya kepada orang-orang kecil,orang lemah yang tak berdaya dalam menghadapi ketidakadilan,yang terjalin erat dengan moral dan bahkan agama,yang kesemuanya itu merupakan nafas dan denyut kehidupan nyata.Salah satu pencerminan sastra terhadap apa yang hidup dalam masyarakat adalah sasra kritik (Sawardi,1975:1).Artinya,sastra yang mengandung unsur kriik di dalamnya terkandung penilaian terhadap sesuatu.

B. Latar Sosial Budaya Ramadhan K.H.
Kehadiran Keluarga Permana sebagai karya sastra yang mengemukakan permasalahan keagamaan tidak terlepas dari struktur sosial masyarakat Sunda khususnya dan Indonesia umumnya yang di dalamnya terjadi interakasi sosial budaya sebagai bagian dari proses pengaruh-mempengaruhi.Interaksi sosial antara Ramadhan dengan lingkungannya meliputi sebagai aktivitas dalam masyarakat yang menyangkut sistem pranata sosial dalam masyarakat itu.Struktur sosial melukiskan hubungan interaksi antara Ramadhan dengan masyarakat secara sistematis sesuai dengan peran yang saling berkaitan satu dengan lainnya.Masyarakat Sunda,mayoritas beragama Islam dan sepanjang sejarahnya masyarakat Sunda didominasi oleh warna Islam (Ekadjati,1984:95).Corak Islam yang mewarnai masyarakat Sunda itu terlihat dalam kehidupan keseharian mereka dan juga tercermin di dalam karya sastranya.
Di dalam karya sastra Sunda tercermin struktur sosial masyarakat yang menggambarkan bahwa Islam telah menjadi pegangan hidupnya.Artinya,Islam merasuk di dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam lingkup budaya,kehadiran Keluarga Permana sebagai karya sastra dapat dipandang sebagai fakta dinamika Ramadhan sebagai kreator budaya.Sosikultural masarakat Sunda dapat dilihat pada pandangan-pandangan hidupnya yang terlukis dalam hasil dan aktivitas budayanya terutama di dalam karya sastra dan upacara tradisi.Dalam karya sastra tertulis corak sosio-budaya itu dapat dilihat pada puisi dan prosa sedangkan dalam tradisi lisan terlihat pada pantun,upacara kelahiran dan upacara pengantin.Interaksi sosial budaya masyarakat Sunda menunjukkan hubungan saling mempengaruhi antara Ramadhan sebagai pengarang dengan masyarakat Sunda sebagai latar sosial budayanya.Hal itu berpengaruh terhadap prosesi kreasi Ramadhan dalam penciptaan karya sastranya.

BAB III
STRUKTUR BANGUNAN NOVEL KELUARGA PERMANA

Analisis struktur dimaksudkan untuk lebih memungkankan interpretasi karya sastra. Dengan demikian analisis struktur karya berfungsi untuk mempermudah pemerian Keluarga Permana dalam pemaknaannya.Keseluruhan makna yang terkandung dalam teks akan terwujud hanya dalam keterpaduan struktur yang bulat. Berdasarkan data yang diperoleh,dimensi sosial keagamaan dalam Keluarga Permana berkaitan dengan struktur karya.
A. Struktur Naratif
Sebagai sebuah karya sastra,novel merupakan satu sistem yang berstruktur.Sebagai sistem yang berstruktur, novel memiiki unsur struktur naratif. Struktur naratif menurut Chamamah-Soeratno (1991:1-3), merupakan perwujudan bentuk penyajian suatu atau beberapa peristiwa yang menjadi pokok pembicaraan dalam wacana (dicourse atau expression).Struktur naratif merupakan penanda (signifie) dari peristiwa,penokohan,dan latar yang terdapat di dalam cerita dan petanda (signifiant) dari unsur-unsur didalam ekspresi naratif yang terdapat di dalam wacana.Objek estetik naratf ialah cerita dari artikulasi wacana (Chatman,1978:15-42).
Tujuan analisis struktur naratif adalah untuk memperoleh susunan teks baik susunan wacana (discourse) maupun susunan cerita (story).Analisis sigtamatik digunakan untuk menelaah struktur sedangkan analisis paradimatik digunakan untuk menelaah hubungan antara unsur yang hadir dan tak hadir dalam teks yaitu hubungan makna dan simbol (Zaimar,1991:34).Menurut Barthes (1984:93-94),stuan cerita itu memiliki dua macam fungsi yaitu cardinal functions (or nuclei) dan catalysers atau meminjam istilah Zaimar (1991:34) sebagai fungsi utama dan katalisator.Antara katasilator satu dengan lainnya berhubungan secara kronologis sedangkan fungsi utama satu dengan lainnya berhubungan secara konsekuensial atau hubungan akibat (logis).

a. Urutan Tekstual
Teks Keluarga Permana terdiri atas 24 bab dan tiap bab tidak diberi judul.Urutan tekstual ini menunjukkan pemilahan teks dalam sekuen yang ditandai dengan angka Arab.Kadang-kadang sekuen masih dibagi lagi dalam satuan yang lebih kecil.Karena itu angka tandanya menjadi dua,tiga atau lebih.Dilihat dari peringkat sekuen,dalam Keluarga Permana terdapat 33 kernel dan setiap kernel membawahi beberapa satelit.Keluarga Permana memiliki strutur naratif yang kompleks karena terdiri atas beberapa sekuen dan tiap sekuen membawahi kernel dan satelit.
Urutan wacana merupakan urutan sekuen-sekuen yang memperlihatkan fakta-fakta dalam teks,urutan seperti yang ada dalam teks.Urutan wacana ini bermakna bagi teks sebab jika urutan faktual dalam teks ini diubah,maka maknanya juga akan berubah.Oleh karena itu urutan wacana itu penting dalam pemaknaan Keluarga Permana.Secara garis besar urutan sekuen memperlihatkan bahwa urutan wacana Keluarga Permana terbagi dalam dua kategori waktu yakni masa kini dan masa lampau.
b. Urutan Kronologis
Urutan wacana itu,dalam kaitannya denga urutan kronologis memisahkan antara waktu masa kini dengan masa lalu.Urutan kronologis diperoleh setelah ditentukan sekuen.Serangkaian sekuen itu menunjukkan bahwa urutan wacana mendukung penentuan urutan kronologis,keduanya sangat berkaitan erat.Dalam urutan kronologis masa lalu struktur Keluarga Permana itu komplek,di dalam terkandung sekuen-sekuen sebagai urutan tekstual.Hubungan sekuen-sekuen masa kini dengan masa lalu terjadi melalui ingatan, kenangan akan kesedihan, penyesalan, dan sebagainya. Berdasarkan urutan kronologis wacana dapat ditemukan urutan logis.Urutan logis merupakan hubungan antarsekuen yang didasarkan pada peristiwa kausalitas atau sebab akibat.Analisis urutan logis dilakukan untuk mengetahui hubungan antarsekuen yang menjadi dasar struktur naratif Keluarga Permana.

B. Penokohan
Kehadiran tokoh dalam suatu cerita dapat dilihat dari berbagai cara yang secara garis besar dapat dibagi dalam tiga cara antara lain: (1) Cara analitis,yakni pengarang secara langsung menjelaskan dan melukiskan tokoh-tokohnya, (2) Cara dramatik,yakni pengarang melukiskan tokoh-tokohnya melalui gambaran tempat dan lingkungan tokoh,dialog antar tokoh,perbuatan dan jalan pikiran tokoh,dan (3) Kombinasi keduanya (Saad dalam Ali,1986:123-124).Setiap tokoh yang hadir dalam cerita memiliki unsur fisiologis yang berkaitan dengan fisik,unsur psikologis yang menyangkut psikis tokoh,dan unsur sosiologis yang berhubungan dengan lingkungan sosial tokoh (Oemarjati,1971:66-67).
Tokoh merupakan bagian atau unsur dari suatu keutuhan artistik yakni karya sastra yang seharusnya selalu menunjang keutuhan artistik itu (Kenney,1986:25). Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peran sentral dalam cerita, menjadi pusat sorotan di dalam kisahan dan yang penting mempunyai intensitas keterlibatan yang tinngi dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita. Tokoh bawahan adalah tokoh yang kedudukannya tidak sentral dalam cerita,tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk mendukung tokoh utama.
Dalam Keluarga Permana penghadiran tokoh-tokoh cerita dilakukan dengan cara kombinasi analitik dan dramatik atau langsung dan tidak langsung dengan menampilkan ciri-ciri fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Termasuk psikologis antara lain cita-cita, ambisi, kekecewaan, kecakapan, temperamen, dan sebagainya. Aspek yang masuk dalam fisiologis misalnya jenis kelamin, tampang, kondisi tubuh,dan lain-lain.Sudut sosiologis terdiri atas misalnya lingkungan, pangkat, status sosial agama,kebangsaan,dan sebagainya. Ditinjau dari kekomplekan wataknya,ada dua macam kategori tokoh dalam Keluarga Permana. Kategori pertama adalah tokoh bulat yang diwakili oleh Ida, Sumarto, dan Permana.Kategori kedua adalah tokoh datar yang diwakili oleh Saleha,Mang Ibrahim,Saifuddin,dan Murdiono.Dari segi sosial keagamaan tokoh-tokoh Keluarga Permana dapat dikelompokkan menjadi tiga macam.Pertama adalah kelompok tokoh yang beragama Islam taat yakni Ibrahim dan Saifuddin. Kedua adalah kelompok tokoh beragama Katolik taat yakni Sumarto dan Pastot Murdiono.Kelompok ketiga adalah tokoh beragama Islam, tetapi belum menjalankan syariatnya yang diwakili Ida, Permana.dan Saleha.
C. Latar
Latar merupakan lingkungan dan lingkungan dapat dipandang berfungsi sebagai metonimia atau metafora dan ekspresi dari tokohnya.Latar internal antara lain berupa perasaan hati sedih,gembira,dan lain-lain.Latar eksternal meliputi alam,cuaca,tempat-tempat tertentu dan sebagainya.Abrams (1981:175) memberpkam deskripsi latar dalam karya sastra menjadi tiga yakni latar tempat,waktu,dan sosial.Latar tempat berkaitan dengan masalah geografis,latar waktu berhubungan dengan zaman,dan latar sosial erat berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan atau sosial budaya.
a. Unsur Ruang
Unsur ruang dapat ditangkap pembaca melalui tiga cara,yakni: (1) pemakaian kata-kata yang mewujudkan sifat atau keadaan yang disebut, (2) kata-kata yang telah mempunyai pengertian tersendiri yang sudah baku,dan (3) pemakaian perbandingan.Pada wacana yang lebih besar unsur ruang dapat dilihat melalui (1) penunjukan arah suatu tempat tertentu, (2) dialog yang melukiskan perilaku tokoh.dan (3) deskripsi langsung oleh pengarang (Chatman,1978:101-103).Pada umumnya sebuah novel menyiratkan atau menyuratkan suatu tempat ruang oleh pengarang novel dipakai untuk memberikan gambaran lingkungan yang melingkupi tokoh.
b. Unsur Waktu
Dalam novel,aspek waktu pada umumnya meliputi lama berlangsungnya cerita dan penyebutan waktu secara eksplisit tertulis atau implisit dalam cerita.Berbeda dengan latar tempat,pada Keluarga Permana latar waktu tidak dilukiskan secara eksplisit mengenai kapan terjadinya peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya.Secara garis besar ada dua periode
waktu dalam Keluarga Permana yakni masa kini dan masa lalu.Latar waktu masa kini dalam Keluarga Permana dimulai sejak awal cerita yakni ketika Ida meninggal dunia hingga jenazahnya dimakamkan dan Permana kehilangan kewarasannya.Selebihnya adalah periode masa lalu.Pelukisan masa lalu dengan cara sorot balik dalam Keluarga Permana berperan untuk memberikan citraan mengenai peristiwa-perstiwa yang terjadi pada masa kini.Selain itu masa lalu memberikan latar belakang atau hubungan kausalitas mengenai berbagai peristiwa yang dialami para tokoh.
c. Unsur Sosial
Persoalan pokok Keluarga Permana adalah dimensi sosial keagamaan sosial banyak dilukiskan melalui Permana.Latar belakang kehidupan Permana yang pegawai kemudian diperhentian tanpa prosedur hukum yang berlaku membuat frustasi.Ia merasa diperlakukan tidak adil,sekedar dijadikan korban oleh atasannya yang berbuat korupsi.Ingin dia diproses,tetapi tidak berdaya melawan birokasi,orang besar.Kompensasinya adalah kekejaman dan kekerasan terhadap istri dan anaknya.Latar tersebut digunakan untuk mendukung penokohan Permana,di samping untuk mencuatkan pokok persoalan khususnya dimensi sosial.
Latar sosial tampak jelas melalui penokohan dan terjalin dalam berbagai peristiwa sehingga mampu menciptakan suasana cerita. Penokokohan mendukung latar, demikian pula sebaliknya latar cerita menunjang penokohan. Struktur naratif Keluarga Permana yang bersifat sorot balik (flashback) juga mendukung latar dan penokohan.

BAB IV
DIMENSI SOSIAL KEAGAMAAN DALAM NOVEL KELUARGA PERMANA

Dimensi sosial keagamaan merupakan salah satu benang merah yang tampak menonjol dalam Keluarga Permana. Hal ini terlihat dalam struktur naratif, penokohan,dan latar sebagai alat pengungkapannya (devide) yang terjalin dalam cerita.Dimensi sosial keagamaan dalam Keluarga Permana menunjukkan adanya kemiripan sosial budaya antara tokoh-tokoh dalam teks Keluarga Permana dengan pengarangnya,dalam hal ini latar sosial budaya Sunda, Jawa Barat, dan latar tempat,tepatnya Bandung. Data penelitian menunjukkan bahwa permasalahan Keluarga Permana adalah dimensi sosial keagamaan.”Dimensi” dapat diartikan sebagai mantra,ukuran atau norma (Echols dan Shadily, 1980:182; Poerwadarminta,1986:251), sedangkan “sosial” diartikan sebagai segala sesuatu yang mengenai masyarakat berkaitan dengan kemasyarakatan (Echols dan Shadily,1980:538;Poerwadarminta,1986:961).Secara luas sosial berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan.
Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial),lembaga-lembaga sosial,kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial.Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pebagi segi kehidupan bersama,misalnya segi kehidupan ekonomi dengan politik,segi kehidupan hukum dengan agama segi kehidupan agama dengan ekonomi dan sebagainya (Soemardjan dan Soemardi,1974:14).Agama berarti segenap kepercayaan (kepada Tuhan,Dewa,dan sebagainya) sasrta serta ajaran kebaktian dan kewajib-kewajiban yang bertalian dengan kepercayan itu.Keagamaan adalah segala sesuatu yang bekaitan dengan tata keimanan/keyakinan,tata peribadatan terhadap Tuhan,dan kaidah mengenai hubungan manusia dengan sesama dan alam.Interaksi sosial merupakan dasar proses-proses sosial,dalam hal ini menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis (Soekanto,1985:54).

A. Dimensi Sosial Keagamaan dalam Keluarga Permana
Dari data penelitian dapat diamati bahwa Keluarga Permana merupakan novel yang mengungkapkan realitas sosial yang merupakan tanggapan pengarang terhadap lingkungannya.Dalam hal ini Keluarga Permana berada dalam tegangan antara norma sastra dan norma sosio-budaya.Keluarga Permana merupakan afirmasi yakni menetapkan norma sosio-budaya yang ada pada masa tertentu (Teeuw,1982:20). Masalah sosial keagamaan khususnya perpindahan agama merupakan permasalahan yang tampak dominan dalam Keluarga Permana dengan latar belakang sosial ekonomi yang menimbulkan ketegangan dan konflik-konflik sosial yang melanda keluarga,kelompok masyarakat bahkan umat beragama tertentu.
a. Perkawinan Campuran Islam-Katholik
Masalah pertama yang mendapat sorotan tajam dalam Keluarga Permana adalah perkawinan campuran antara gadis Islam dengan pemuda Katholik.Perkawinan campuran Islam-Katholik yang mengundang konflik sosial itu tidak mampu menimbulkan suasana meriah seperti pesta perkawinan pada umumnya.Perkawinan itu bahkan terasa dingin,muram,dan murung.Suasana yang kontradiktif dengan upacara itu sendiri.Perkawinan Islam-Katholik yang ‘menekan’ pengantin putri berpindahagama,dalam Keluarga Permana pihak Sumarto menekan Ida,bertentangan dengan hak asasi manusia dalam hal kebebasan beragama (Departemen Agama,1979:18).
Upacara perkawinan secara Katholik yang berlangsung dalam lingkungan keluarga Islam yang terasa asing dan tidak lazim lagi bagi keluarga dan masyarakat Islam itu menimbulkan konflik batin bagi yang bersangkutan (Ida),di samping menimbulkan konflik sosial.Di samping menimbulkan kekecewaan dan penyesalan di lingkungan kerabat keluarga yang lebih berbahaya adalah perkawinan campuran menimbulkan sikap antipati pada masyarakat sekitarnya yang merasa tersinggung perasaan keagamaannya.Nilai lain yang menarik dalam peristiwa perkawinan campuran pada Keluarga Permana antara lain bahwa terlepas dari pemaksaan hak kebebasan beragama oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan,ternyata Keluarga Permana begitu cermat menyajikan persoalan lain di seputar perpindahan agama itu.
b. Upacara Pembaptisan
orang yang sejak kecil menyakini agama tertentu sebagai pegangan hidup kemudian tiba-tiba ia harus mengalami pemutusan ikatan keimanan atau aqiqah,jelas tidak mudah menjalaninya.Lebih-lebih jika hal itu dilakukannya karena terpaksa oleh keadaan.Lebih tepatnya dalam Keluarga Permana perpindahan agama yang secara formal ditandai dengan upacara pembaptisan di gereja itu dilakukannya karena adanya tekanan dari sang kekasih,calon suaminya.Peristiwa pembaptisan yang membuat Ida secara formal menjadi Katholik dengan nama Maria Magdalena telah membuat hatinya tersayat beberapa saat setelah upacara itu asai.Meski lahirnya ia dibaptis yang berarti ia resmi menjadi umat Kristus hatinya tetap memegang imam Islamnya.Hal itu membuatnya menangis tak kunjung berhenti.Bukan hanya menangis lahiriahnya,lebih jauh lagi hatiny menangis.Pembaptisan Ida juga menimbulkan konflik dalam keluarga khususnya ayah dan ibunya.Sebagai perbutan berdosa besar pembaptisan atau murtad dalam Keluarga Permana disoroti sebagai perbutan munafik.
c. Upacara Pemakaman Jenazah yang Meresahkan
Kematian Ida yang telah berpindah agama menimbulkan perang batin yang dahsyat dalam diri keluarganya khususnya orang tuanya yang bertanggung jawab atas pendidikan agama atau keimanan anaknya.Perang batin terjadi antara realitas lahiriah dengan harapan yang diyakininya. Suasana yang kontadiktif terjadi ketika jenazah Ida tiba di rumah Permana dari Jatiwangi.Pada saat peti jenazah Ida tiba di rumah Permana dengan diantar oleh keluarga Surono,mulailah terdengar ucapan-ucapan dalam tradisi masyarakat Islam misalnya istighfar, tasbih, takbir, tahlil,dan kalimat thayyibah lainnya seperti layaknya yang berlaku dalam masyarakat Islam.Ketika peti mayat diturunkaandi tempat yang disediakan bahkan terdengar suara Bi Tati perlahan-lahan,”Allahu Akbar Allahu Akbar.Nilai yang menarik adalah upacara pemakaman jenazah yang dilaksanakan secara Katholik yang berlangsung di tengah keluarga dan masyarakat muslim.
Suasana yang ganjil pun masih terasa ketika jenazah Ida dibawa ke pemakaman.Suasana kontradiktif dan konflik sosial mulai terasa ketika jenazah diberangkatkan menuju ke kuburan Pandu.Goncangan sosial juga tampak pada kelompok masyarakat termasuk Mang Ibrahim.Beberapa tokoh masyarakat diantaranya Mang Ibrahim tidak mau mengantar jenazah Ida ke kuburan Pandu (makam orang-orang Kristen).Suatu nilai kehidupan yang juga menarik dari peristiwa ini adalah bahwa tak urung kematian Ida juga menimbulkan konflik dalam diri Sumarto yang menjadi pangkal penyebab semua kejadian yang menimpa Ida.Setelah jenazah Ida dimakamkan,konflik batin masih berlanjut pada diri orang tuanya yakni Saleha dan Permana.
B. Pengembangan Agama Pada Umat Beragama
Dimensi sosial keagamaan yang bertalian erat dengan perpindahan agama adalah pengembangan agama pada umat beragama atau penyebaran agama dengan sasaran umat beragama.Dalam Keluarga Permana pengembangan agama pada umat beragama digambarkan dengan adanya tekanan jika bukan paksaan melalui perkawinan.Pengembangan agama pada umatberagama akan menimbulkan gejolak dan benturan-benturan sosial karena dapat menyinggung perasaan keagamaan masyarakat lingkungannya (Departemen Agama,1983/1984:37).Gejala penyiaran agama yang tidak sehat antara lain dilakukan di samping dengan cara ‘tekanan’ kepada salah satu pihak juga sering dilakukan dengan memanfaatkan sisi kelemahan sosial ekonomi masyarakat,misalnya dengan memberikan uang,bahan makanan atau menjual barang dan makanan tertentu dengan harga murah dan lain-lain sebagai umpan (Ratuperwiranegara,dalam Departemen Agama,1979:13).

C. Krisis Ketakwaan Sebagai Sumber Masalah Sosial
Nilai yang tak kalah pentingnya dalam Keluarga Permana adalah krisis ketakwaan sebagai sumber terjadinya masalah sosial dalam kehidupan masyarakat.Kurangnya penghayatan agama pada para tokoh menimbulkan berbagai masalah sosial dalam proses dan interaksi sosialnya.Perilaku menyimpang yang merupakan masalah sosial sebagai gejala adanya krisis ketakwaan antara lain.
a. Korupsi dan Memperkaya Diri
Masalah pertama yang disoroti Keluarga Permana kaitannya dengan adanya gejala kritis ketakwaan adalah korupsi.Permana,tokoh yang terlibat dalam tindak korupsi (yang sebenarnya) dilakukan oleh atasannya mencerminkan orang yang tidak memiliki penghayatan agama sehingga mudah terombang-ambing oleh lingkungannya.Permana ikut menerima ‘hadiah’ atau pemberian dari relasi karena dia melihat atasannya juga melakukan hal yang sama bahkan jauh lebih besar.Permana dan atasannya merupakan simbolisasi para pegawai dan penjabat dalam birokasi mana pun yang tidak memiliki penghayatan agama.Korupsi merupakan jalan pintas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang ingin memenuhi ambisi materialnyadalam zaman modern ini.
b. Penyalahgunaan Jabatan
Satu penyalahgunaan jabatan atau kekuasaan.Implikasinya antara lain adanya penyelewengan hukum.Orang yang kurang menghayati ajaran agama dan kebetulan memiliki kekuasaan akan mudah sekali tergiur untuk mencari keuntungan pribadi tanpa takut akan murka.Dengan memanfaatkan kekuasaannya,orang yang demikian akan tidak segan-segan melanggar peraturan hukum.Dalam Keluarga Permana hal ini dilukiskan melalui Permana,atasan,dan rekan-rekannya,serta tokoh lainnya.
c. Dekadensi Moral Remaja dan Kawin Paksa Versi Modern
Nilai lain dari krisis ketaqwaan para tokoh adalah adanya gejala dekadensi moral dan kawin ‘paksa’ versi modern di kalangan remaja.Dalam Keluarga Permana,dua masalah yang berkaitan satu dengan lainnya itu digugat Ramadhan dengan warna baru.Artinya,dekadensi moral dan kawin ‘paksa’ versi modern yang dideskripsikan melalui tokoh Ida dan Sumarto itu terjadi bukan semata-semata dilihat dalam perspektif sosiologis melainkan disoroti juga dari kacamata moral dan agama.
Gagasan lain yang dapat diambil dari dekadensi moral yang berkaitan dengan zina adalah aborsi,yang dewasa ini semakin banyak dilakukan orang sebagai jalan pintas untuk tujuan tertentu,dalam Keluarga Permana menghilangkan aib.Terlepas dari semua itu,dekadensi moral remaja dan kasus kawin ‘paksa’ jelas disebabkan oleh makin longgarnya nilai moral agama dan etik sosial di dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat adanya krisis keimanan di kalangan mereka.Dalam Keluarga Permana dilukiskan dalam kasus hamilnya Ida sebelum menikah yang menyebabkan Permana dan Saleha merasa malu dan menggugurkan kandungannya Ida demi menjaga kehormatan keluarga.
d. Zina dan Aborsi: Fenomena Pelanggaran Etika Sosial dan Agama
Gagasan dalam Keluarga Permana juga terlihat dalam peristiwa perzinaan (hubungan seks pranikah) dan aborsi (pengguguran kandungan).Dalam Keluarga Permana aborsi dilakukan karena adanya hubungan pranikah meskipun dalam realitas sosial sering juga dilakukan oleh wanita bersuami.Yang jelas biasanya aborsi dilakukan karena janin atau calon bayi yang dikandung belum dikehendaki.Pezina yang belum kawin diancam dengan hukuman cambuk sertus kali sedangkan pezina yang sudah kawin (zina mukhshan),dihukum rajam atau dicambuk hingga mati dengan disaksikan oleh orang banyak. Yang lebih mengalami tekanan batin karena merasa aib akan mencoreng keluarga akibat perbuatan zina itu adalah orang tua perempuan hamil. Nilai yang dapat dipetik dalam bagian ini adalah bahwa orang tua itu masih memegang nilai moral dan ajaran agama.Aborsi merupakan perbuatan amoral yang melanggar tata susila, norma sosial, hukum, dan agama.

e. Peran Agama dalam Rumah Tangga dan Perilaku Anak
Dalam perspektif yang ebih luas,anak akan menjadi orang yang shalih (baik) dan berakhlak mulia (akhlaqul karimah) atau sebaliknya anak menjadi jahat dan akhlaknya tercela tergantung pada peran orang tua dalam membentuk kepribadiannya.Dalam Keluarga Permana ,gagalnya pendidikan agama pada anak dalam keluarga disoroti dengan tajam lewat Permana dan Saleha (orang tua) dan Ida (anak).Agama yang semestinya ditanamkan orang tua kepada anak sejak masih kecil guna membentuk kepribadian dan mental anak yang dinamis agar ketaqwaan dalam seluruh gerak hidupnya tercermin,tidak dilakukan oleh Permana dan Saleha.Oleh karena itu,dapat dimengerti jika iman Ida tidak kokoh sehingga goyah ketika menghadapi permasalahan hidup.Efek yang mencolok dari sikap dan tindakan yang salah dalam menghadapi cobaan hidup yang dilakukan Permana sebagai akibat kurang mendalamnya iman dalam dirinya itu adalah timbulnya dis-harmoni dalam rumah tangga.
f. Iman sebagai Pengendali Diri
Dimensi sosial keagamaan yangsubstansial sifatnya yakni iman dikomunikasikan Ula dalam Keluarga Permana.Apa yang menimpa Permana tidak lain adalah cobaan hidup yang datang dari Tuhan sebab sebenarnya segala macam yang terjadi dalam kehidupan manusia dapat dipandang sebagai cobaan Tuhan (Q.S.al-Baqarah:155).Permana yang imannya jauh dari mendalam tidak menyadari bahwa apa yang terjadi pada dirinya itu sebenarnya adalah cobaan dari Tuhan sehingga dia kehilangan kontrol diri.Nilai lain yang dapat diambil dari bagian ini adalah bahwa Permana salah dalam menyikapi cobaan hidup atau keadaannyamembuat dirinya yang berstatus sebagai kepala keluarga merasa kehilangan harga diri sehingga perasaan rendah diri timbul dan menderanya.Dalam kerangka yang lebih luas yakni dalam kacamata agama,perilakuPermana yang sentimental seperti perasaan resah gelisah berlarut-larut,stress,dan putus asa akibat nasib yang menimpanya mencerminkan kurangnya iman pada dirinya.
g. Agama sebagai Pedoman Meraih Kebahagiaan
Nilai lain dalam Keluarga Permana yang menarik adalah pentingnya agama Islam dalam kehidupan manusia.Berbagai peristiwa yag terjadi dalam Keluarga Permana yang dialami oleh para tokoh utama jelas digambarkan sejak awal sebagai orang yang kehilangan pegangan manusia dalam menempuh kehidupannya.Data penelian menunjukkaan bahwa taqwa goncangan-goncangan dan konflik batin serta tindakan yang salah yang dilakukan Permana dan berakibat fatal bagi keluarganya terutama Ida,anaknya,semua bersumber pada kroposnya iman yang ada dalam dirinya.
D. Realitas Sosial Budaya Indonesia 1970-an dan Keluarga Permana
Dimensi sosial budaya keagamaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dimensi kemasyarakatan yang berkaitan dengan tata keimanan,tata peribadatan,dan tata kaidah mengenai hubungan manusia dengan sesama manusia.Kehadiran Keluarga Permana di tengah kehidupan sosial budaya Indonesia tampaknya sebagai tanggapan terhadap situasi sosial budaya khususnya kehidupan keagamaan Indonesia pada masa sekitar akhirdekade 1960-an hingga awal dekade 1970-an. Data penelitian menunjukkan bahwa aspek sosial yang diungkapkan dalam Keluarga Permana itu bergayut eratdengan unsur keagamaan.Berdasarkan penelitian terhadap Keluarga Permana terlihat Ramadhan menempatkan taqwa yang berintikan iman dan amal shalih sebagai pedoman utama bagi manusia dalam menempuh kehidupan,tepatnya dalam mencapai kebahagiaan hidupbaik di dunia maupun akhirat.Realitas dalam sastra adalah realitas fiktif imajinatif sebagai dunia yang dibentuk pleh pengarang sebagai tanggapannya terhadap kehidupan nyata.Dengan demikian realitas dalam Keluarga Permana adalah simbolisasi dari realitas sosial budaya di Indonesia pada drkade 1970-an.

BAB V
SIMPULAN

Dengan pendekatan Strukturalisme novel Keluarga Permana memiliki unsur-unsur yang secara fungsional saling mendukung satu dengan lainnya.Dari analisis makna dengan pendekatan Semiotik dan interteks dapat disimpulkan bahwa Keluarga Permana mengungkapkan dimensi sosial keagamaan sebagai gagasan utama dalam alur cerita yang kompleks,namun tetap lancar.Makna dimensi soaial keagamaan dalam Keluarga Permana adalah perpindahan agama dapat menimbulkan berbagai konflik sosial.Perpindahan agama seseorang dari satu agama ke agama lain dapat memicu konflik sosial dalam lingkungan masyarakat yang multiagama karena hal itu dapat menyinggung perasaan keagamaan kelompok dan lingkungannyalAdamya krisis ketaqwaan Di kalangan masyarakat merupakan penyebab timbulnya berbagai masalah sosial dalam kehidupan masyarakat.Dari kajian interteks dapat disimpulkan bahwa makna novel Keluarga Permana sebagaikarya transformasi hanya dapat dipahami secara utuh bila dikaitkan dengan hipogramnya yakni karya Ramadhan sebelumnya yakni novel Kemelut Hidup,lalu Pedoman Dasar Kurikulum Hidup Beragama,teks Al-Quran dan Al-Hadist, serta latar sosial budaya Imdonesia pada dekade 1970-an.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s