Tag Archive | Analisis Syair Lagu

Analisis Syair Lagu

Bangunlah Putra Putri Pertiwi
Penyanyi: iwan fals

Sinar matamu tajam namun ragu, kokoh sayapmu semua tau
Tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan, kuat jarimu kala mencengkram

Bermacam suku yang berbeda, bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihku, yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa,putihmu suci penuh kharisma
Pulau-pulau yang berpencar, bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku,singkirkan benalu di tiangmu
Hei, jangan ragu dan jangan malu
Tunjuk kan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah
Membumbung tinggi
Bangunlah putra putri
Ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti….. garuda bukan
burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut….. dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi hayalan

A. Penggunaan Gaya Bahasa Pada Lagu Iwan Fals
Pada dasarnya gaya bahasa berhubungan erat dengan cara seorang pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasan dalam karyanya. Selain itu, Aminuddin (dalam Ali Imron, 2008 : 13) menyatakan bahwa gaya bahasa adalah cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya melalui media bahasa sehingga mewujudkan bahasa yang indah dan harmonis, meliputi aspek : (1) pengarang, (2) ekspresi, dan (3) gaya bahasa. Berdasarkan pemahaman ini, maka timbullah pendapat bahwa gaya bahasa adalah orangnya sendiri atau pengarangnya, karena melalui gaya bahasa kita dapat mengenal bagaimana sikap, pengetahuan, pengalaman dan gagasan pengarang dalam karya sastranya.
Keanekaragaman gaya bahasa akan berpengaruh terhadap penggambaran suasana penuturnya. Gambaran makna yang ditampilkan mungkin hanya menggambarkan suasana keseharian yang rutin dan sering dialami oleh pembacanya. Setiap orangh pasti mempunyai perebedaan penggunaan gaya bahasa dalam penyampaian karya sastranya. Bahkan meskipun mereka berangkat dari gagasan yang sama, bentuk penyampaiannya dalam gaya bahasa senantiasa berbeda. Dalam karya sastra hal demikian disebut individuasi, yakni keunikan dan kekhasan seseorang dalam penciptaan sebuah karya yang tidak pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Dalam pembahasan ini, akan diuraikan lebih jauh mengenai penggunaan gaya bahasa pada lagu Iwan Fals. Dalam setiap lagu Iwan fals memiliki pengungkapan gaya bahasa yang berbeda-beda.
1. Analisis
Bagian 1.
Sinar matamu tajam namun ragu,Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan goyahkan,Kuat jarimu kala mencengkram
Dari bait diatas terdapat gaya bahasa Apostrof yaitu gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanah (Tegap tubuhmu takkan goyahkan, kuat jarimu kala mencengkram).
Di dalam tuturan baik diatas juga terdapat gaya bahasa personifikasi yaitu menggambarkan benda-benda mati seperti benda hidup.
Bagian 2.
Bermacam-macam suku yang yang berbeda,Bersatu dalam cengkremmu
Angin genit mengelus merah putihku,Yang berkibat sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa,Putihmu suci penuh karisma
Pulau-pulau yang berpancar,Bersatu dalam kibarmu
Dari tutur bait diatas terdapat gaya bahasa personifikasi yaitu mempersamakan, benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berpikir, berbuat dan sebagainya seperti manusia. Pada bait diatas terdapat beberapa kata yang termasuk dalam majas personifikasi yaitu pada kata (angin genit mengelus) yaitu genit dan mengelus biasa dilakukan oleh manusia akan tetapi dalam bait ini digunakan objek adalah angin. Disamping itu juga ada kata malu-malu yang biasa dipakai untuk manusia / sifat manusia.

Bagian 3.
Terbanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu disayapmu
Berkibarlah benderaku, singkirkan benalu ditiangmu
Hei, jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu
Dari bait diatas terdapat gaya bahasa repetisi. Gaya bahasa repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai kata yang menunjukkan adanya repetisi adalah (kutu singkirkan) adalah satu bait terdapat 2 kali. Dalam bait tersebut juga terdapat kata disayapmu dan ditiangmu yaitu terdapat pengulangan awalan serta akhiran yang sama dan terdapat pengulangan kata jangan yang semua bertujuan untuk menyalurkan pada khalayak apa yang ingin disampaikan.

Bagian 4.
Mentari pagi sudah membumbung tinggi, bangunlah putra putri pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi, setelah itu kita berjanji
Bait diatas terdapat gaya bahasa personifikasi yaitu mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berpikir, berbuat dan sebagainya, seperti manusia dan gaya bahasa anti klimaks bentuk gaya bahasa yang merupakan suatu tuturan yang penting kemudian diurutkan ketuturan yang kurang penting. Dalam bait diatas yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah (mentari pagi sudah membumbung tinggi dan gaya bahasa anti klimaks adalah mulai dari kalimat Bangunlah putra putri pertiwi, mari mandi dan gosok gigi setelah itu kita berjanji).

Bagian 5
Tadi pagi esuk hari atau lusa nanti, garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut dan cobaku dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan.
Pada bait diatas terdapat gaya bahasa repetisi, yaitu perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Adapun yang menunjukkan adanya gaya bahasa repetisi antara kin (kata bukan) yang dijumpai 2 kali serta kata yang hanya beri juga terdapat 2 kali yang bertujuan untuk lebih menyakinkan.

B. Manipulasi bunyi.
Bunyi merupakan unsur yang bersifat estetik dalam puisi. Bunyi pada puisi merupakan pengungkapan secara emotif yang terjadi dalam diri pengarang dan hendak mengungkapakan serta mempertegas tanda-tanda sehingga dapat memberikan efek estetik yang ekspresif berupa penekanan terhadap makna yang akan diungkapkan dari tanda-tanda dalam puisi. Bunyi erat hubunganya dengan anasir-anasir musik, misalnya: lagu, melodi irama, dan sebagainya (Djoko Pradopo, 2000: 22). Puisi merupakan cikal bakal dari lagu, jadi dapat dikatakan bahwa lagu merupakan puisi, akan tetapi puisi bukanlah lagu, artinya lirik-lirik lagu yang belum diberikan nada-nada berupa musik merupakan bentuk puisi. Paul Verlaine (1844-1896) berkata bahwa, musiklah yang paling utama dalam puisi (De la musique avant tout chose). Para penyair romantik dan simbolis ingin menciptakan puisi yang mendekati musik: merdu bunyinya dan berirama kuat (Djoko Pradopo, 2000: 22).
Penekanan-penekanan bunyi pada lagu dapat memberikan efek ekspresif dan estetik dalam pemaknaannya pada setiap lagu. Manipulasi bunyi dimaksudkan sebagai bentuk pemanfaatan bunyi sebagai media penekanan, dalam memfokuskan penanda-penanda pada beberapa lagu, hingga membentuk suatu pemaknanan yang sama terhadap lagu tersebut, dan menjadi ciri khusus akan lagu-lagu tersebut.
Lagu-lagu ciptaan Iwan Fals mempunyai suatu ciri khusus dalam segi pencitraan dan segi pemanfaatan bunyi, berupa nada-nada atau tambahan efek musik. Lagu-lagunya mempunyai kandungan makna yang spontan akan tetapi mempunyai arti khusus dari segi pengungkapan terhadap gejolak lingkungannya.
Lagu-lagu ciptaan Iwan Fals mempunyai karakter atau style sepontan, tajam dan menyentuh, membuat pendengar tersentuh dalam pelantunan setiap lirik-lirik lagunya. Iwan Fals dalam melantunkan lagu-lagunya terkesan spontan dan sedikit memaksakan antara penggabungan antara bunyi dengan pemilihan kata atau diksi sebagai liriknya. Akan tetapi dari segi pemanfatan bunyi, Iwan Fals sanggup memanipulasi bunyi pada lagu-lagunya untuk menjadikan penekanan-penekanan di setiap lirik lagu tersebut untuk lebih memperjelas gagasan yang akan disampaikannya.
1. Analisis
Bagian 1.
Sinar matamu tajam namun ragu, kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan, kuat jarimu kala mencengkram
Data di atas merupakan bait ke-1 dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Data di atas banyak terdapat unsur bunyi fonem akhiran u serta ditambahkan sedikit unsur bunyi fonem akhiran m dan n sebagai pelengkap dan penyeimbang unsur bunyi fonem akhiran u terkesan berat dan rendah. Bunyi fonem akhiran u yang terdapat pada data di atas meliputi kata: matamu, ragu, sayapmu, tubuhmu, jarimu; dan bunyi fonem akhiran m dan n meliputi kata: tergoyahkan dan mencengkram. Bunyi fonem akhiran u mengilusatrasikan suasana hati pengarang yang prihatin, cemas melihat akan kondisi negeri ini. Bunyi fonem akhiran m dan n meskipun sedikit tetapi dapat menetralisasikan suasana hati pengarang yang sedih, cemas dan prihatin. Karena bunyi fonem akhiran m dan n menandakan kegembiraan dan keceriaan. Kajian makna pada data di atas yakni, pengarang hendak menceritakan tentang ‘burung garuda’ sebagai suatu lambang kebangsaan dari Negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ciri khusus yang digambarkan lewat data di atas tentang burung garuda.

Bagian 2.
Bermacam-macam suku yang berbeda, bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihku, yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanmam wibawa, putihmu suci penuh karisma
Pulau-pulau yang berpencar, bersatu dalam kibarmu
Bagian 2 di atas merupakan bait ke-2 dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Bagian 2 di atas pengarang masih mendominaskan unsur bunyi fonem akhiran u dalam lagunya. Selain unsur bunyi fonem akhiran u, pengarang juga menambahkan beberapa unsur bunyi fonem a, i dan m sebagai penyeimbang makna dari unsur bunyi fonem akhiran u pada data 2 di atas. Bunyi fonem akhiran u yang terdapat pada data meliputi kata: suku, bersatu, cengkrammu, putihku, malu-malu, putihmu, kibarmu, mengelus; dan bunyi fonem a, i dan m meliputi kata: bermacam-macam, berbeda, cengkrammu, angin, genit, merah, berkibar, sedikit, membara, tertanam, wibawa, suci, karisma, berpencar, kibarmu. Bagian 2 di atas banyak juga ditemukan unsur bunyi a, i dan m walaupun fonem tersebut tidak terdapat pada akhiran di suatu kata, tetapi unsur bunyi a, i dan m melekat pada bagian kata misalnya pada kata ‘cengkrammu’ mengandung unsur bunyi fonem m yang khas pada tengah kata, walaupun pada akhir kata tersebut terdapat unsur bunyi fonem u yang mempunyai hubungan bunyi dengan kata-kata yang mempunyai unsur bunyi akhiran u di awal kata ‘cengkrammu’. angin, genit, berkibar, tertanam, kibarmu mengandung unsur bunyi fonem i dan a yang berada ditengah kata. Manipulasi bunyi dimaksudkan adalah penggambaran dari pemanfaatan bunyi yang mempunyai hubungan dengan bunyi-bunyi unsur yang lainya pada lagu. Kajian makna data 2 di atas adalah pengarang hendak berkomentar tentang kesaktian dari pancasila atau burung garuda sebagai lambang dan simbol dari Negara Kesatuan Republik Indonesia serta bendera merah putih yang sebagai bendera bangsa Indonesia. Adapun pada bagian 2 di atas burung garuda dimaksudkan sebagai pengikat dari beranekaragam suku dan budaya di Indonesia dan merah putih sebagai bendera pusaka yang berdiri dan berkibar kokoh dengan karisma yang penuh wibawa dalam mempersatukan bangsa ini.

Bagian 3.
Tebanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku, singkirkan benalu di tiangmu
Hei, jangan ragu dan jangan malu
Tunjukan pada dunia Bahwa sebenarnya kita mampu
Bagian 3 di atas merupakan bait ke-3 dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Pada bagian 3 di atas untuk baris 1 dan 2 terdapat konsturksi bunyi yang sama yaitu pada kata ‘terbanglah’ baris 1 diulang pada baris ke-2 yaitu pada kata ‘berkibarlah’ dengan konstruksi bunyi yang sama walaupun kata pada baris 1 dan baris 2 tersebut tidak sama. Serupa pada kata-kata yang lainya di baris ke-1 dan baris ke-2 yaitu ‘garudaku’ dengan ‘benderaku’, ‘kutu-kutu’ dengan ‘benalu’, ‘sayapmu’ dengan ‘tiangmu’. Seperti pada bait-bait sebelumnya pada lagu “Bangunlah Putra putri Ibu Pertiwi” menggunakan unsur bunyi fonem akhiran u. Berdasarakan teori para ahli, bunyi fonem akhiran u merupakan bunyi rendah yang menandakan sebuah kesedihan. Lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi” banyak menggunakan unsur bunyi fonem akhiran u dalam liriknya. Bunyi fonem u tersebut biasanya dipakai pada partikel klitik ‘ku’ atau ‘mu’ yang melekat pada beberapa kata pada lirik lagunya. Pada data 3 unsur bunyi fonem u yakni melekat pada kata garudaku, kutu-kutu, sayapmu, benderaku, benalu, tiangmu, ragu, malu, tunjukan, mampu. Unsur bunyi fonem a pada data 3 di atas tidak banyak digunakan dalam bait ke-3 sehingga fungsi bunyi fonem a tersebut sedikit kurang terasa dalam maknanya.

Bagian 4.
Mentari pagi sudah membumbung tinggi, bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi, setelah itu kita berjanji
Bagian 4 di atas merupakan bait ke-4 dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Bagian 4 di atas banyak terdapat unsur bunyi fonem akhiran i, unsur bunyi fonem i mengandung ungkapan kegembiraan, senang. Bunyi fonem i lebih pada bunyi yang ringan. Misalnya pada kata ‘Mentari pagi’ kata ini mengandung bunyi yang ringan karena pada akhiran kata terdapat bunyi fonem i. Pada data 4 bunyi fonem i tersebut melekat pada kata Mentari pagi, tinggi, putri, pertiwi, mari mandi, gigi, berjanji. Ditinjau dari makna katanya ‘mentari pagi’ merupakan suatu tanda/ waktu dalam setiap hari, yang dimana setiap orang mulai mempersiapkan segala aktivitas pada hari itu. Pada bait tersebut lebih tercermin suatu sikap patriotisme dan sikap dorongan, semangat/ motivasi dalam memberikan konstribusi terhadap bangsa dan Negara.

Bagian 5.
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti,.. garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut,… dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan

Bagian 5 di atas merupakan bait ke-5 dari lagu Iwan fals yang berjudul ”Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”. Pada Bagian 5 di atas, unsur bunyi yang banyak digunakan adalah bervariasi. Bervariasi dimaksudkan penggunaan unsur bunyi dalam bait ke-5 ini semua sama antar unsur bunyi fonem u, i, a, n, dan m. Semuanya memilki porsi yang sama dalam penggunaan unsur bunyi di bait ke-5 ini. Seperti yang telah dibahas pada bagian 1-4 tentang penggunaan bunyi fonem-fonem tersebut, unsur bunyi dapat mengilustrasikan suasana hati dan ekspresi pengarang ataupun dapat menggambarkan sisi makna yang akan diungkapkan pengarang lewat lagunya. Pada baris 3 dan 4 pada bagian 5 di atas terdapat konsturksi bunyi yang diulang seperti halnya pada bagian 3. Konstruksi bunyi pada baris 3 dan 4 pada data 5 lebih banyak digunakan pengarang dalam penggunaan unsur bunyi untuk diksinya di setiap lirik adalah bunyi fonem a dan n. Berbeda dengan data 3, unsur bunyi fonem u lebih mendominasi dari pada bunyi fonem a dan n. Sedangakan pada bagian 5 di atas unsur bunyi fonem m dan n lebih mendominasi. Ditinjau dari makna yang ingin disampaikan pengarang pada bait ke-5 ini adalah tentang perlawanan pola pikir orang-orang terhadap simbol negara yang hanya berupa simbol-simbol belaka dan tidak mempuyai suatu makna dan kesaktian. Pengarang hendak memberitahukan kepada semua orang bahwa pancasila itu merupakan suatu simbol dan lambang negara yang memiliki arti khusus bagi bangsa Indonesia.

C. KAJIAN MAKNA
1. Patriotisme dan Cinta Tanah Air
Pembicaraan tentang patriotisme dan cinta tanah air dapat memberikan semangat dan dorongan untuk lebih mengenal dan menyelami rasa kebangsaan selanjutnya membina rasa kebanggaanterhadap bangsa dan negaranya. Lirik lagu Iwan Fals yang bertemakan patriotisme dan cinta tanah air dapat dijumpai dalam lirik lagu “Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi”.

Sinar matamu tajam namun ragu, kokoh sayapmu semua tau
Tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan, kuat jarimu kala mencengkram

Bermacam suku yang berbeda, bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihku, yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa,putihmu suci penuh charisma
Pulau-pulau yang berpencar, bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku, singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku,singkirkan benalu di tiangmu
Hei, jangan ragu dan jangan malu
Tunjuk kan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah
Membumbung tinggi
Bangunlah putra putri
Ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti….. garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut….. dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi hayalan

Pada bait pertama, yang dimaksud dengan ‘sinar matamu’, ‘kokoh sayapmu’, ‘tegap tubuhmu’, dan ‘kuat jarimu’, adalah anggota tubuh dari seekor burung garuda, yang merupakan lambang negara Republik Indonesia. Burung garuda yang dilambangkan sebagai burung perkasa, merupakan penggambaran keadaan negara Indonesia sebagai Negara yang besar kuat sebagai negara kesatuan meskipun terdiri dari bermacam-macam suku-suku bangsa. Bait kedua menunjuk pada bendera kebangsaan negara Indonesia. Warna merah yang membara merupakan lambang kewibawaan dan putih yang suci penuh
dengan kharisma. Kibar bendera tersebut dikatakandapat mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Bait pertama dan kedua ini merupakan pengantar tentang Negara kesatuan Republik Indonesia, lewat penggambaran fisik burung
garuda dan bendera Merah Putih.
Bait ketiga dan keempat merupakan anjuran dan ajakan, untuk berkarya dan membangun bangsa Indonesia. Segala rintangan dan hambatan yang digambarkan dengan “kutu” dan “benalu”, bukan suatu alas an untuk tidak berkarya. Frase “mentari pagi sudah
membumbung tinggi”, mempunyai arti bahwa sudah tiba saatnya untuk berpartisipasi
secara aktif dalam pembangunan tanpa harus menunda waktu lagi. Yang dimaksud dengan “mari mandi dan gosok gigi”, adalah suatu tindakan atau persiapan yang harus dilakukan apabila akan melakukan suatu aktivitas.
Dengan demikian, yang diperlukan dalam membangun Negara Indonesia ini adalah suatu tindakan nyata tanpa perlu banyak teori. Hal ini ditegaskan dalam bait kelima dengan kata-kata ‘garuda bukan burung perkutut, ‘sang saka bukan sandang pembalut’, dan ‘Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut’. Sila-sila dalam Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dan dasar negara kesatuan Republik Indonesia bukanlah suatu hafalan kata-kata, tetapi harus direalisasikan dengan tindakan yang nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Litik lagu ini memberikan gambaran tentang tugas seorang warga negara sebagai anggota masyarakat yang mempunyai kewajiban
membangun negaranyamelalui bidang dan keahlian masing-masing.