Sinopsis Novel dan Kajiannya

1. JUDUL : RONGGENG DUKUH PARUK
PENGARANG : AHMAD TOHARI

SINOPSIS
Di sebuah desa hiduplah seorang gadis kecil, srintil namanya. Dia adalah gadis yang tinggal di desa tersebut. Desa itu bernama dukuh Paruk yang letaknya terpencil dan miskin. Namun, memiliki sebuah warisan kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan kehidupan masyarakatnya.. Tradisi itu hamper hilang akibat terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang menewaskan sebagian warga Dukuh Paruk sehingga menurunkan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah penduduk di desa itu menemukan kembali semangat kehidupan setelah melihat gadis cilik pada umur belasan tahun secara alamiah menari ketika bermain-main di tegalan bersama kawan-kawan sebayanya, yaitu Rasus, Warta, dan Darsun. Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, yang kemudian sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi penari ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Dengan harapan kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat.
Dalam waktu singkat, Srintil membuktikan bakat menari dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Sebagai seorang ronggeng, Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya adalah menjalani upacara “bukak klambu”, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian untuk menolaknya. Srintil telah larut dalam kekuasaan sebuah tradisi, namun Rasus yang merasa mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Oleh karena itu, Rasus memilih pergi dari Dukuh Paruk.
Kepergian Rasus itu melukai hati Srintil dan besar sekali pengaruhnya terhadap masa depannya. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan. Dari tempat itulah Rasus mengalami perubahan hidup dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Dengan kegagahan itulah Rasus memperoleh penghormatan seluruh warga Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak dua orang perampok yang berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan harta kekayaan ronggeng Srintil.
Beberapa hari di Dukuh Paruk Rasus sempat menikmati kemanjaan dan keperempuanan Srintil sepenuhnya. Tapi itu semua tidak menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang miskin. Keesokan harinya Rasus pergi tanpa sepengetahuan Srintil yang masih tidur. Kepergian Rasus itu sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil bahwa ternyata tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng. Setelah kejadian itu Srintil berubah sikap. Kebanyakan mereka tidak senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka percaya ronggeng menjadi simbol kehidupan. Srintil tetap bertahan tidak ingin menari sebagai ronggeng, bahkan senang mengasuh bayi Goder (anaknya Tampi, seorang tetangga) dengan gaya asuhan seorang ibu kandung.
Srintil masih bertahan ketika datang tawaran menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas kesenian menyambut perayaan Agustusan. Namun karena mendapat ancaman dari Pak Ranu dari Kantor Kecamatan. Srithil akhirnya bersedia menari. Tanpa sepengetahuan srintil, perayaan Agustusan pada tahun 1964 itu sengaja dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Warna merah dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang menyebut-nyebut rakyat tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya.
Waktu itu pemberontakan PKI berakhir dalam sekejap dan akibatnya orang-orang PKI atau mereka yang dikira PKI dan siapa pun yang berdekatan dengan PKI di daerah mana pun ditangkap dan ditahan. Nasib itu terjadi pada Srintil yang harus mendekam di tahanan tanpa alasan. Pada awalnya terjadi paceklik di mana-mana sehingga menimbulkan kesulitan ekonomi secara menyeluruh. Pada waktu itu, orang-orang Dukuh Paruk tidak berpikir panjang dan tidak memahami berbagai gejala yang berkembang di luar wilayahnya. Dalam masa paceklik yang berkepanjangan, Srintil terpaksa lebih banyak berdiam di rumah, karena jarang orang mengundang berpentas untuk suatu hajatan. Namun, tidak lama kemudian Srintil sering pentas di rapat-rapat umum yang selalu dihadiri oleh tokoh Bakar. Srintil tidak memahami makna rapat-rapat itu, yang dia tahu hanyalah menari melayani nafsu kelelakian.
Hubungan mereka merenggang setelah beberapa kali terjadi penjarahan padi yang dilakukan oleh kelompok Bakar. Sukarya merasa tersinggung dengan Bakar, karena Bakar mengungkit-ungkit masa lampau Ki Secamenggala yang dikenal orang sebagai bromocorah. Karena hal itu Sakarya memutus hubungan dengan kelompok Bakar. Sakarya tidak hanya melarang Srintil berpentas di rapat-rapat umum, dia juga minta pencabutan lambang partai. namun Bakar menanggapinya dengan bersahaja. Dalam tempo singkat, Dukuh Paruk kembali sepi dan miskin. Kedamaian itu hanya sebentar, kemudian kembali bergabung dengan kelompok Bakar setelah terkecoh oleh kerusakan cungkup makam Ki Secamenggala. Sakarya menduga kerusakan itu ulah kelompok Bakar yang sakit hati, tetapi kemudian beralih ke kelompok lain setelah menemukan sebuah caping bercat hijau yang tertinggal di pekuburan itu. Namun mereka tidak mampu membaca simbol itu. Dan Srintil pun semangat menari walaupun tariannya tidak seindah penampilannya yang terdahulu.
Ternyata penampilan itu merupakan akhir perjalanan Srintil sebagai ronggeng. Tiba-tiba pasar malam bubar tanpa penjelasan apa pun dan banyak orang ketakutan, sehingga kehidupan terasa sepi dan mencekam. Berbagai peristiwa membuat orang Dukuh Paruk ketakutan, tetapi tidak mengetahui bagaimana penyelesaiannya. Yang terpikir adalah melaksanakan upacara selamatan dan menjaga kampung dengan ronda. Keesokan harinya orang-orang Dukuh Paruk melepas langkah Kartareja dan Srintil yang berniat meminta perlindungan polisi di Dawuan. Ternyata harapan berlindung kepada polisi itu sirna, karena kepolisian sudah menyimpan catatan nama Srintil yang terlanjur populer sebagai ronggeng rakyat yang mengibarkan bendera PKI.
Srintil pulang ke Dukuh Paruk setelah dua tahun mendekam dalam tahanan politik dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan. Ia berjanji menutup segala kisah dukanya selama dalam tahanan dan bertekad melepas predikat ronggengnya untuk membangun sebuah kehidupan pribadinya yang utuh sebagai seorang perempuan namun Srintil kembali mendapat tekanan dari lurah Pecikalan agar mematuhi kehendak Pak Bajus. Bajus hendak menikahi Srintil, sehingga Srintil berusaha mencintai Bajus. Tapi Srintil sangat kecewa, karena Bajus ternyata lelaki impoten yang justru hanya berniat menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Srintil pun mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita gila dan akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.

KAJIAN MAKNA
A. Makna Kebudayaan
Unsur kebudayaan yang terdapat di dalam novel ronggeng dukuh Paruk ini dapat dilihat pada kebiasaan di desa dukuh Paruk tersebut. Di desa itu masih menjalankan adat istiadatnya yang diturunkan nenek moyang mereka dulu yang bernama Ki Secamenggala. Masyarakat dukuh Paruk masih mempertahankan kebudayaan mereka, yaitu ronggeng. Tanpa adanya ronggeng, desa dukuh Paruk tersebut seperti tidak bernyawa. Untuk menjadi seorang ronggeng, keluarga calon menyerahkan calon ronggeng kepada dukun ronggeng, untuk menjadi anak akuan, seperti pada kutipan ini :
”Pada hari baik, Srintil diserahkan oleh kakeknya kepada Kartareja. Itu hukum dukuh Paruk yang mengatur perihal seorang calon ronggeng. Keluarga calon harus menyerahkannya kepada dukun ronggeng, menjadi anak akuan”. (Ahmad Tohari. 17).
Adat dukuh Paruk juga mengajarkan untuk memperebutkan sesuatu, laki-laki harus saling beradu, yang dijelaskan pada kutipan ini :
”Adat dukuh Paruk juga mengajarkan kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mareka cabut”. (Ahmad Tohari: 11).

B. Makna Religius
di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut terdapat banyak makna religius yang dapat dianalisis. Dinovel ini banyak menceritakan tentang masalah kepercayaan arwah nenek moyang yaitu kepercayaan penduduk dukuh paruk terhadap arwah nenek moyang mereka yang sudah lama meninggal yaitu Ki Secamenggala. Kubursnnys selalu disembah oleh penduduk Dukuh Paruk seperti pada kutipan ini:
” di pedukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah memasuki tubuhnya. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan didunia peronggengan.”

C. Makna Psikologi
Makna psikologi yang terdapat di dalam novel ini yaitu tentang seorang perempuan yang menjadi seorang ronggeng yang sudah sering ditiduri oleh banyak lelaki yang membayarnya. Ia selalu menginginkan untuk mencintai dan dicintai oleh seorang laki-laki yang tulus mencintainya dan dinikahi olh laki-laki tersebut. Tetapi karena tidak ada satupun yang mau menikahinya karena ia adalah searang ronggeng ia menjadi stress dan ia menjadi wanita yang gila yang selalu ingin dinikahi oleh pria.
Novel ini juga menceritakan tentang seorang ronggeng Dukuh Paruk yang mencintai seorang laki-laki yang telah meninggalkannya karena dirinya telah menjadi ronggeng. Jiwanya terkoyak, ia tidak bisa menerima keadaan ini dan ia berontak dengan caranya sendiri. Sikap inilah yang menjadi faktor dalam pertumbuhan kepribadiannya.

2. JUDUL : AYAT-AYAT CINTA
PENGARANG : HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

SINOPSIS
Seorang mahasiswa Indonesia yang akrab dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup di negeri orang. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Fahri bin Abdillah namanya. Dia adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berteman dengan panas dan debu Mesir. Belajar disana membuat Fahri dapat mengenal Maria, Nurul, Noura, dan Aisha.
Maria adalah tetangga satu flat Fahri, yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran, serta menganggumi Fahri. Karena kekagumannya tarhadap Fahri itu yang berubah menjadi cinta. Sementara Nurul adalah putri dari seorang kyai terkenal, yang juga belajar di Mesir. Namun sesungguhnya Fahri menyukai gadis manis ini. Karena Fahri hanya anak seorang petani, akibatnya membuat dia tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sedang Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.
Sedangkan Noura adalah tetangga Fahri, yang selalu disiksa ayahnya. Fahri berniat penuh untuk membantu Noura. Namun karena tidak berani, Fahri hanya melihat saja dan penuh harap.Aisha, adalah gadis Jerman yang bertemu Fahri di metro melalui sebuah insiden. Sejak kejadian itu Aisha tertarik pada Fahri. Saat itu Fahri dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman, seorang syaikh yang cukup tersohor di Mesir. Dengan menaiki metro, Fahri berharap ia akan sampai tepat waktu di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq. Di metro itulah ia bertemu dengan Aisha. Aisha yang saat itu dicacimaki dan diumpat oleh orang-orang Mesir karena memberikan tempat duduknya pada seorang nenek berkewarganegaraan Amerika, ditolong oleh Fahri. Pertolongan tulus Fahri memberikan kesan yang berarti pada Aisha.
Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga berasal orang Indonesia yaitu Siful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Mereka tinggal di sebuah apartemen berlantai dua. Fahri dan empat temannya tinggal di lantai dasar, sedangkan yang lantai atas ditemapati oleh keluarga Broutus dan juga menjadi tetangga mereka. Walau keyakinan dan aqidah mereka berbeda, tapi antara keluarga Fahri dan Tuan Broutos terjalin sangat baik. Selain itu Fahri dan Maria berteman begitu akarab. Fahri menyebut Maria sebagai gadis koptik yang aneh. Bagaimana tidak, Maria mampu menghafal surat Al-Maidah dan surat Maryam.
Selain itu, Fahri juga mempunyai tetangga yang berkulit hitam yang sifatnyanya bertolak belakang dengan keluarga Broutos. Kepala keluarga ini bernama Bahadur. Istrinya bernama madame Syaima dan anak-anaknya bernama Mona, Suzanna, dan Noura. Keluarganya sering menyisksa Noura. Nasib Noura memang malang. Suatu malam Noura diusir Bahadur dari rumah. Noura diseret ke jalan serta dicambuk. Tangisan Noura membuat Fahri tidak tega melihatnya. Ia meminta Maria melalui sms untuk menolong Noura. Fahri tidak bisa menolong Noura secara langsung karena Noura bukan muhrimnya. Akhirnya Maria pun bersedia menolong Noura malam itu. Ia membawa Noura ke flatnya.
Sementara itu, Aisha tidak dapat melupakan pemuda yang baik hati mau menolongnya di metro saat itu. Aisha rupanya jatuh hati pada Fahri. Ia meminta pamannya Eqbal untuk menjodohkannya dengan Fahri. Kebetulan, paman Eqbal mengenal Fahri dan Syaik Utsman. Melalui bantuan Syaik Utsman, Fahri pun bersedia untuk menikah dengan Aisha.
Mendengar berita pernikahan Fahri, Nurul menjadi sangat kecewa. Paman dan bibinya sempat datang ke rumah Fahri untuk memberitahu bahwa keponakannya sangat mencitai Fahri. Namun semua itu sudah terlambat karena Fahri akan segera menikah dengan Aisha. Setelah menikah, Fahri pindah ke sebuah apartemen mewah bersama istrinya. Setelah beberapa hari setelah pernikahan, Fahri mendapat kejutan dari Maria dan Yousef. Maria dan adiknya itu datang ke rumah Fahri untuk memberikan sebuah kado pernikahan. Namun Maria tampak lebih kurus dan murung karena saat Fahri dan Aisha menikah, keluarga Broutos sedang pergi berlibur. Begitu mendengar Fahri telah menikah dan tidak lagi tinggal di flat, Maria sangat kecewa.
Kebahagian Fahri dan Aisha tidak bertahan lama karena Fahri harus menjalani hukuman di penjara atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Noura sangat kecawa saat mendengar Fahri telah menikah dengan Aisha. Di persidangan, Noura yang tengah hamil itu memberikan kesaksian bahwa janin yang dikandungnya adalah anak Fahri. Pengacara Fahri tidak dapat berbuat apa-apa karena ia belum memiliki bukti yang cukup untuk membebaskan Fahri dari segala tuduhan. Fahri pun harus tinggal di penjara selama beberapa minggu. Satu-satunya saksi kunci yang dapat meloloskan Fahri dari fitnah kejam Noura adalah Maria. Marialah yang bersama Noura malam itu
namun Maria sedang lemah tak berdaya. Luka hati karena cinta membuatnya jatuh sakit.
Tidak ada jalan lain. Atas desakan Aisha, Fahri menikahi Maria. Aisha berharap, dengan mendengar suara dan merasakan sentuhan tangan Fahri, Maria tersadar dari koma panjangnya dan bisa bersaksi di persidangan. harapan Aisha menjadi kenyataan. Maria dapat membuka matanya dan kemudian bersedia untuk memberikan kesaksian di persidangan. Akhirnya Fahri pun terbebas dari tuduhan Noura.
Noura menyesal atas perbuatan yang dilakukannya itu. Dengan jiwa besar, Fahri memaafkan Noura yang telah menfitnahnya bersaman dengan itu, terungkaplah bahwa yang menghamili Noura adalah Bahadur, ayah Noura sendiri. Akhinya Fahri terbebas dari hukuman dan menjalani kehidupan seperti sediakala dan kebahagiaan kembali didapatkan. Walaupun Fahri mempunyai dua istri, dia bisa berbuat adil. Kedua istrinyapun saling menghormati satu sama lain.

KAJIAN MAKNA
A. Makna Religius
Novel Ayat-ayat cinta ini banyak menceritakan tentang kehidupan yang penuh dengan religius, yang banyak menceritakan masalah agama dan hadis-hadis Rasulullah, seperti ketabahan, kesabaran, poligami, hubungan dengan berlainan agama, suami istri, keluarga dan banyak lagi. Seperti pada kutipan ini
”Dengan menghayati benar-benar kandungan ayat suci Al-Quran itu dan makna hadis-hadis Rasullah itu akan jelas sekali seperti apa sebenarnya ajaran islsm…”(Ayat-ayat Cinta :99)
Dalam kalimat diatas sudah dijelaskan bahwa dalam novel ini ada pelajaran agama yang perlu diperhatikan dan dihayati sebagai pengalaman. Banyak makna yang dapat kita ambil didalamnya, banyak akhlak yang dapat kita ambil contohnya, seperti kesabaran seorang istri kepada suaminya, ketaatan dan kesolehan seorang pemuda, keteguhan seorang bule asal Amerika yang sangat dibenci orang-orang mesir untuk mempelajari islam dan mengetahui kebenaran islam serta keseriusan seorang perempuan katolik dalam mempelajari islam dan menghafalkan ayat-ayat Al-Quran.
B. Makna Pendidikan
Novel ini merupakan novel pembangun jiwa, makna pendidikan yang dapat kita ambil didalamnya adalah tentang seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan, walaupun dia sudah pintar dan berpendidikan tinggi tetapi ilmu tentang agama masih selalu dia pelajari, panas terik matahari tidak membuat dia patah semangat untuk belajar, dari sinilah dapat kita ambil kesimpulannya bahwa ilmu yang kita dapatkan tidak seberapa, kita harus lebih giat untuk mengejar ilmu sebanyak-banyaknya agar dikehidupan mendatang kita lebih matang untuk menghadapi sesuatu. Allah memberikan kita ilmu pengetahuan untuk dapat dikembangkan lebih banyak lagi, apalagi menyangkut ilmu tentang agama, masih banyak yang harus kita pelajari dan kita benahi.
C. Makna kemanusiaan
Dalam novel ini terdapat makna kemanusiaan, makna kemanusiaan tersebut terdapat pada kutipan ini:
”Puncaknya adalah malam itu. Sore sebelum berangkat kerja, ayahnya memaksanya untuk ikut Mona berangkat setelah magrib. Ada turis asing yang memesan perawan Mesir. Naura dihargai sepuluh ribu pound. Harga yang menurut ayah dan kedua kakaknya sangat tinggi. Ia menolak. Ayahnya lalu mencambuk punggungnya berkali-kali. Ia tidak tahan, akhirnya ia pura-pura mau. Ayahnya berangkat. Tapi begitu shalat magrib ia mengurung diri dikamar. Tidak mau keluar. Tidak mau membuka pintu.”(Ayat-ayat Cinta :135)
Dari kutipan ini dapat kita lihat bahwa tidak ada kemanusiaan yang terdapat di dalam keluarga Naura, Naura diperjual belikan seperti barang yang tidak mempunya hati dan perasaan, kalau ia tidak mau ia akan disiksa oleh ayah tirinya tersebut. Begitu kejam dan tidak ada rasa kemanusiaan ayah tirinya itu. Walaupun Naura adalah anak tiri tetapi ia adalah seorang manusia yang dapat memilih jalan kehidupannya sendiri tanpa harus dipaksa oleh siapapun.

3. JUDUL : KUTBAH DI ATAS BUKIT
PENGARANG : KUNTOWIJOYO

Barman merupakan orang tua yang suka pada perempuan. Ia ingin menghabiskan masa pensiunnya dan barangkali sampai akhir hidupnya bersama seorang perempuan yang berbama Popi. Popi merupakan perempuan yang dicarikan oleh Bobi anak Barman untuk menemani Barman tua berlibur di gunung. Barman dianjurkan untuk mengisi hari-hari tuanya di villa di daerah pegunungan, bersama Popi. Sebenarnya Dosi istri Bobi tidak menyetujuinya, tetapi karena melihat kondisi Barman sudah tua, akhirnya Dosi menyetujuinya. Mungkin Barman akan lebih tenang di sana, tidak disibukkan oleh urusan perkotaan dan gangguan-gangguan lainnya.
Barman dan Popi bahagia berada di villa itu. Popi merupakan wanita yang sangat dikagumi oleh Barman tua. Popi sangat rajin dan pintar memasak. Karena kesibukannya di dapur, Popi jarang bersama Barman tua. Akhirnya Barman tua berjalan-jalan sendirian dan pada saat ia berjalan, ia bertemu dengan seorang laki-laki yang usianya sama dengan Barman. Ia adalah Human. Human banyak mengajarkan Barman tentang hakikat hidup. Pada saat Barman bersama Human, Barman dapat melupakan Popi, gadis yang sangat ia cintai dan juga anak dan cucunya, tetapi pada saat Barman kembali kerumahnya, ia ingin membuang jauh-jauh ingatannya kepada Human, sahabat barunya. Pada saat Barman ingin menjumpai Human di pondok Human, ia telah menjumpai Human telah meninggal dunia. Ia tidak menyangka Human telah secepat itu meninggal. Human mewariskan pondoknya untuk Barman, dan jenazah Human dibawa oleh pegawai pengurus kematian kota praja, ia bingung siapa yang memberi tahu pegawai itu tentang kematian Human. Akhirnya Barman mulai berpikir untuk mencari kebahagiaan baru dalam hidupnya, ia memutuskan untuk tinggal di pondok Human, dengan itu ia akan terbebas dari semuanya.
Barman dengan didampingi kuda putihnya berjalan kesana kemari untuk mencari kebahagiaan, sampai-sampai ia bertanya kepada orang yang dijumpainya yang telah tertidur lelap tentang kebahagiaan ”apakah mereka bahagia?” itulah pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh Barman. Dari jawaban mereka, Barman melihat kejujuran dalam jawaban singkat itu. Ia bergembira. Sampai-sampai orang yang ia tanyai datang menemuinya, dan bertanya tentang apa maksud dari semua itu. Orang-orang menganggap Barmanlah bapak yang akan melepaskan mereka semua dari ketidakbahagiaan dan kesengsaraan. Dengan adanya Barman mereka senang, bergembira dan tidak mengalami ketakutan.
Sejak awal itulah Barman tahu betapa mereka membutuhkan dirinya dan ia tidak dapat meninggalkan mereka, sampai-sampai ia merasa seperti terpenjara. Akhirnya ia mengajak semua orang mengikutinya untuk mendapatkan petunjuknya, karena semua orang memintanya untuk segera memberikan petunjuk. Ia mengajak semua orang untuk melakukan perjalanan kepuncak bukit. Banyak orang yang mengikuti perjalanan ini, laki-laki maupun perempuan. Barman bingung petunjuk apa yang harus ia berikan, akhirnya dia hanya bisa bilang :
”Bunuhlah dirimu!
”Hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan!”
Setelah berbicara seperti ini, semua orang menangis terisak dan akhirnya Barman pergi dengan kuda putihnya dan ia jatuh kejurang. Setelah ditemukan, ia sudah tidak bernyawa, dan Barmanpun segera dikuburkan oleh orang-orang di bukit itu.

KAJIAN MAKNA
A. Makna Psikologis
Novel ini menceritakan tentang tingkahlaku seorang yang sedang mencari makna hidup, sampai-sampai ia rela mengorbankan harta, anak dan semua orang yang ia cintai, sampai akhirnya ia tidak juga mendapatkan kebahagiaan itu, dan meninggal dengan ketidakbahagiaannya.
Dari cerita ini dapat kita mengambil kesimpulan bahwa kebahagiaan bukan dicari dengan melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri, tetapi dengan usaha kita untuk berpikir bagaimana kita akan bahagia bukan hanya untuk kebahagiaan kita sendiri, tapi juga untuk kebahagiaan orang lain, seperti pada kutipan ini :
”Bung, kesenangan itu tidak bertambah atau berkurang. Kebahagiaan yang mutlak tidak memerlukan apa-apa di luar diri kita”.
Maksud dari perkataan ini yaitu kebahagiaan yang sebenarnya tidak memerlukan apa-apa. Tidak memerlukan villa, kuda, wanita dan lain-lain, tetapi kebahagiaan yang sebenarnya datang dari hati kita, datang dari diri kita sendiri, bagaimana kita mendapatkan kebahagiaan hanya diri kita yang dapat menggapainya.

B. Makna Religius
Makna religius dalam novel ini dapat kita lihat pada kepercayaan masyarakat pegunungan tentang petunjuk dan hakikat hidup yang dapat merubah mereka menjadi lebih baik, dapat memberikan kebahagiaan, bukan kesengsaraan dan ketakutan dalam menjalani kehidupan. Dari novel ini kita lihat bahwa Barman yang hanya seorang manusia biasa, dipercaya dan diyakini bahwa dia akan memberikan petunjuk untuk mendapatkan kebahagiaan. Dengan melakukan perjalanan penting seperti perjalanan para nabi, orang-orang arif, dan para filsuf. Mereka akan mendapatkan jawabannya seperti pada kutipan ini :
”Kita akan melakukan perjalanan”, kata Barman pada kelompok yang mendengarkannya. ”Perjalanan kita akan seperti perjalanan hidup seluruh manusia. Perjalanan para nabi, orang-orang arif, para filsuf”.
Pada cerita ini banyak yang yakin bahwa jalan satu-satunya untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan membunuh diri sendiri, dengan itu mereka tidak akan merasa sengsara akibat kebutuhan yang menyesatkan mereka, dengan itulah mereka akan tentram dan damai di alam mereka sana tanpa ada beban pikiran. Mereka percaya bahwa hidup ini tak berharga untuk mereka lanjutkan. Padahal Allah mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini sangat berharga, dan kita harus menjalankan hidup kita ini dengan sebaik-baiknya. Kehidupan kita, Allah yang mengaturnya, dan kita dapat mengubah kehidupan kita untuk menjadi lebih baik dengan cara berdo’a dan banyak-banyak menjalankan perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.

4. JUDUL : PENGAKUAN PARIYEM
PENGARANG : LINUS SURYADI Ag
Seorang perempuan desa yang mengadu nasib di kota, Pariyem namnya. Pariyem yang datang dari desa dengan tujuan semula yaitu memperbaiki kehidupannya berhasil naik pangkat dari babu menjadi menantu dengan cara yang kurang baik, karena keberhasilan Pariyem yang selalu sesumbar melaksanakan semua tugas yang dilaksanakannya dengan ikhlas dan senang hati, menjadi kabur dan mengundang beragam reaksi, menghilangkan simpati orang-orang karena dengan jujur Pariyem dengan bangga mengakui telah berhasil memerawani den Bagus Ario yaitu anak majikannya yang masih lugu, seperti menggunting dalam lipatan.
Sebagai seorang perempuan yang sudah paham mengenai hasrat lelaki, Pariyem yang sebagai seorang pembantu sudah seharusnya menjaga amanat majikannya, menjaga nama baik dan menjaga diri sebagai perempuan serta menghindari segala kemungkinan terjadinya hubungan yang kurang terpuji itu, namun Pariyem justru menikmati dan mengajari den Bagus Ario yang masih suci bermain asmara hingga pariyem mempunyai anak yang bernama Endang Sri Setianingsih. Maka wajar jika pengakuannya menimbulkan berbagai pendapat orang-orang di sekitarnya.
Seperti membunuh dengan tersenyum, Pariyem dengan bebasnya bermain asmara dengan anak majikannya kapan pun dan dimanapun dia mau, bahkan kadang Pariyem sendiri yang ketagihan berani untuk menggoda tanpa diketahui oleh siapapun. Kemana pembantu yang lain. Rumah Suryamentaraman yang sangat luas pasti memiliki banyak pembantu, jadi bagaimana mungkin sampai pariyem tidak ketahuan berbuat demikian. Mungkinkah mereka juga melakukan hal-hal yang sama seperti Pariyem, dan apa untungnya bagi mereka para abdi dalem yang sangat dikenal loyalitasnya. Anehnya, tidak disebutkan ada orang lain yang mengurus rumah Suryamentaraman selain Pariyem, mungkinkah Pariyem seorang perempuan yang mengurus semuanya sendirian. Kesendirian yang melelahkan sekaligus menguntungkan.
Terus kemana nDoro nKanjen Rama yang wicaksono yang selalu ngasih peringatan untuk orang lain dan juga memiliki selir yang berada di banyak tempat. Apakah karena kesibukannya yang harus mondar-mandir Betawi-Jogja membuatnya lupa memberi peringatan dan wewenang pada putra sulungnya itu. Terus kemana nDoro Ayu, ibunda den Bagus Ario yang anggun dan luhur budinya. Walaupun jaman sudah berganti, namun naluri seorang ibu tidak akan hilang untuk terus mengawasi perkembangan dan perubahan pada putranya itu. Pariyem yang sudah banyak pengalaman boleh tutup mulut dan pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi, tetapi sorot mata seorang pemuda yang tengah jatuh cinta bagaimana mungkin bisa lepas dari penglihatan seorang ibu yang peduli terhadap anaknya itu.
Pola pengasuhan seperti apakah yang ada di rumah Suryomenretaman itu. Benarkah seorang yang punya kedudukan dan keturunan begitu tinggi membiarkan putranya bermain asmara dengan babu yang berpredikat janda dan jauh dari harapan keluarga. Jika sekedar bermain asmara mungkin sudah biasa, namun ini sampai melahirkan seorang anak pula. Apakah itu masih bisa disebut dengan kewajaran.
Pariyem yang digambarkan Linus memang tampak berlebihan untuk ukuran perempuan desa yang berpendidikan tidak tamat SD itu, namun apabila menyimak cerita pada saat masa kecilnya, bapaknya seorang pemain Kethoprak dan ibunya seorang ledhek kemudian naik pangkat menjadi sindhen wayang kulit, serta seringnya Pariyem ikut ibunya nyindhen dan duduk di belakang dhalang membuat Pariyem pintar bercerita di dunia pewayangan dan Kethoprak. Namun kepandaianya itu digunakan untuk membandingkan dengan kehidupannya yang sekarang.
Kedekatan Pariyem dengan neneknya yang merupakan orang ketiga yang mengasuhnya waktu kecil mempengaruhi sikap dan pandangan Pariyem tentang nilai kehidupan dan hubungannya dengan sesama maupun dengan sang pencipta. Di rumah Suryamenteramanpun kebiasaan Pariyem dalam mendengarkan dan mencuri-curi informasi dan berita dari berbagai sumber membuatnya bertambah pintar. Suatu kenyataan yang masuk akal yaitu bahwa belajar tidak hanya di sekolah, belajar juga bisa dari pengalaman dalam perjalanan hidup seseorang. Sangat disayangkan seorang Pariyem yang cerdas dan pintar tumbuh dewasa dan berkembang dalam pola pengasuhan yang kurang mendapat pengarahan dan tuntunan agama yang membuatnya sulit untuk membedakan pembenaran dan keburukan.
Pariyem bekerja di rumah Suryamentaraman dengan membawa luka dalam hati setelah Paidi Kliwon yang mengajarinya menikmati hubungan menceraikannya tanpa alasan. Kemudian di rumah Suryamentaraman bertemu dengan den Bagus Ario yang sedang beranjak dewasa dan mendapatkan sinyal-sinyal seksual yang ditanggapi Pariyem dengan kebanggaan. kemudian keduanya menyatu dalam ikatan asmara tanpa ada yang mengetahui tentang status mereka. Tanpa ada kegemparan seprti layaknya keluarga yang berantakan, semuanya berakhir dengan tenang seperti air yang mengalir, tenang seperti sungai.
Benarkah demikian, apakah pariyem bahagia. Sebuah pengakuan yang hanya berani dia sampaikan kepada Paimin yang mempunyai status sosial sama dan berharap mendapat tanggapan yang menyejukkan hatinya yang mengalami kegundahan, merana, pahit, kesal karena den Bagus Ario sudah memiliki kekasih yang sederajat dengannya. Pariyem harus berkaca pada dirinya sendiri dan nrima ing pandum bahwa dirinya hanya selir yang pantas sebagai biyung emban atau limbuk dan tidak berhak menuntut perlakuan istimewa karena Pariyem harus menjaga nama baik dan tidak ingin mempermalukan keluarga besar majikannya.

5. JUDUL : KEMARAU
KARYA : A.A. NAVIS

Sutan Duano merupakan orang yang berarti dan disegani banyak orang karena kebaikan hatinya. Ia dipercaya banyak orang serta ia juga suka menolong setiap orang yang kesulitan. Ia tinggal di surau, di daerah perkampungan. Ia merupakan pemimpin di kalangan petani untuk mengerjakan sawah.
Pada saat itu kemarau panjang melanda perkampungan itu sehingga para petani merasa putus asa. Sawah dan ladang mereka sangat kering dan cuaca panas sangat menyengat tubuh. Keadaan itu membuat mereka tidak lagi menggarap sawah mereka. Mereka hanya bermalas-malasan. Tidak seperti Sutan Duono, dia mengambil air dua kali sehari untuk mengaliri sawahnya agar padinya tetap tumbuh. Ia tidak menghiraukan panas matahari yang membakar tubuhnya. Ia berharap agar para petani desa mengikuti perbuatan yang ia lakukan. Ia juga memberikan pengarahan kepada semua orang agar mau mengikuti apa yang ia lakukan, tetapi tak satupun yang mau mendengarkannya.
Sutan Duano ingin mengubah pola pikir dan cara hidup penduduk desa itu. Berbagai usaha telah ia lakukan agar penduduk desa itu mengikuti apa yang dilakukannya. Namun, apa yang dilakukannya hanya sia-sia saja.
Pada saat Sutan Duano melakukan pekerjaannya mengairi sawah, ia dibantu oleh anak kecil yang bernama Acin. Acin merupakan anak seorang janda yang bernama Gundam. Melihat kejadian itu, penduduk desa mempergunjingkan dan memfitnah Sutan Duano. Penduduk mengira bahwa Sutan Duano mencoba mencari perhatian Gundam, ibu si bocah itu. Gunjingan itu semakin memanaskan telinga Sutan Duano, sampai di pengajian yang dipimpin olehnyapun ibu-ibu pengajian banyak mempersoalkan tentang gunjingan ini, tetapi Sutan Duano tidak menanggapinya. Ia tetap bersikap tenang, hingga akhirnya ia menerima telegram dari anaknya yang sudah lama ia sia-siakan yang bernama Masri. Masri meminta Sutan Duano untuk pergi ke Surabaya.
Sutan Duano sangat ingin bertemu dengan anaknya itu, karena sudah 20 tahun ia meninggalkan anak semata wayangnya, tetapi ia juga tidak mau meninggalkan desa itu, karena ia tidak mau meninggalkan Upik, si bocah yang masih banyak membutuhkan kasih sayang dan bimbingannya. Namun, bisikan hati dan dengan pertimbangan yang matang serta akibat adanya gunjingan dan fitnah yang tersebar di desa itu, akhirnya ia pun memutuskan untuk meninggalkan desa itu.
Penduduk desa sangat kehilangan atas kepergian Sutan Duano, apalagi sewaktu penduduk membuktikan bahwa apa yang disarankannya memberikan hasil. Semua penduduk merasa menyesal akibat salah sangka terhadap Sutan Duano.
Sesampainya Sutan Duano di Surabaya, ia sangat terkejut melihat kenyataan yang terjadi. Hatinya hancur ketika ia bertemu dengan mertua anaknya yang tidak lain adalah Iyah. Iyah merupakan mantan istri Sutan Duano. Ia sangat marah terhadap mantan istrinya itu, karena Iyah telah menikahkan dua orang yang bersaudara. Dia tidak menyangka Iyah tega melakukan ini semua. Sutan Duano ingin memberitahukan ini kepada Masri dan Arni, namun ditentang oleh Iyah. Iyah tidak mau Arni menjadi seorang janda seperti dirinya. Iyahpun berusaha menghalanginya dan memukul kepala Sutan Duano dengan sepotong kayu. Untung saja Arni segera muncul dan segera menghalangi ibunya dan menolong Sutan Duano yang bersimbah darah. Iyah merasa menyesal telah memukul mantan suaminya itu. Akhirnya Iyah memberitahukan masalah ini kepada Aini bahwa Sutan Duano adalah mantan suaminya. Betapa terkejut Arni mendengarnya. Kemudian Arni memberitahukan masalah ini kepada suaminya, sehingga mereka sepakat untuk berpisah.
Bertahun-tahun kemudian akhirnya Iyah menemui ajalnya di rumah sakit, tak lama setelah ia membukakan rahasia perkawinan Masri dan Arni. Ia meninggal dengan tenang. Kemudian Arni menikah dengan anak Haji Tumbijo, dan Masripun menikah dengan teman kerjanya. Sedangkan Sutan Duano kembali kedesa di tepi danau dan menikah dengan Gundam.

KAJIAN MAKNA
A. Makna Psikologi
Dalam novel kemarau ini menceritakan tingkahlaku penduduk yang hanya mengharapkan rezeki dari Allah SWT, tanpa mau berusaha terlebih dahulu. Mereka menganggap saran untuk menyirami sawah dengan air danau adalah perbuatan yang gila. Mereka yang mempunyai sawah yang luas hanya mementingkan dirinya sendiri. Para penduduk desa masih mengikuti nenek moyang mereka dulu yang hanya turun kesawah di musim hujan saja, bukan di musim kemarau, seperti pada kutipan ini :
”Ya. Aku tahu itu. Tapi menurut pengetahuanku yang hampir 60 tahun di dunia ini, tak pernah orang-orang dulu mengerjakan sawahnya 2 kali dalam setahun. Kenapa kita menyalahi apa yang telah dilakukan nenek moyang kita dulu. Nenek moyang kita dulu bukan orang bodoh. Mereka turun kesawah di musim hujan bukan di musim kemarau”.
Dari kutipan ini dapat kita lihat bahwa cara pandang dan pola pikir mereka masih sangat rendah. Mereka masih mengikuti cara pandang nenek moyang mereka dulu yang hanya memanfaatkan hujan saja untuk mengaliri sawah mereka. Untuk itu novel ini sangat membentu mengubah pola pikir masyarakat yang dulu ke masyarakat yang dapat berpikir untuk kedepannya.

B. Makna Sosial
Makna sosial yang terdapat dalam novel ini terletak pada kutipan-kutipan yang menyangkut masalah gotong royong dan tolong menolong diantara sesama warga, seperti pada kutipan berikut :
”Ia sudah punya sepanjang bendi, punya seekor sapi untuk membajak. Karenanya ia telah menjadi orang yang berarti, disegani oleh semua orang. Tapi bukan karena kayanya, melainkan karena kebaikan hatinya, dipercaya dan suka menolong setiap orang yang kesulitan. Lambat-lambat ia akan menjadi pemimpin di kalangan petani untuk mengerjakan sawah. Sapi dan bajaknya dipinjam dengan cuma-cuma. Sistem izin diusahakannya melenyapkannya dengan meminjamkan uangnya sendiri tanpa bunga. Pada suatu saat yang massak, didirikannya koperasi di kalangan mereka”.
Dari kutipan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa penduduk di dalam novel ini sangat mementingkan makna sosial, saling bantu membantu dan tolong menolong dalam mengembangkan masyarakatnya untuk menjadi lebih baik.

C. Makna Religius
Makna religius pada novel ini banyak mengungkit masalah-masalah ketabahan atas apa yang sudah diputuskan oleh Allah SWT dan penduduk atau kita harus dapat mengubah takdir itu dengan berusaha menggunakan seluruh kemampuan kita untuk mengubah takdir itu, bukan dengan menerimanya dengan pasrah tanpa mau berusaha seperti pada kutipan ini :
”Kalau Tuhan punya mau, memang tak seorangpun yang kuasa menghalanginya. Itu adalah takdirNya. Tapi ada dua macam takdir. Takdir yang disambut dengan berpangku tangan dan takdir yang diiringi dengan ikhtiar”.
Dalam kutipan ini dijelaskan dalam menjalankan kehidupan ini kita tidak boleh hanya berpangku tangan menerima semua apa yang sudah ditakdirkan, tetapi kita juga harus berikhtiar dan berusaha sesuai dengan kemampuan kita.

6. JUDUL : CANTING
PENGARANG : ARSWENDA ATMOWILOTO

Seorang pengusaha batik tradisional merek Canting di Solo yang bernama Raden Ngabehpi Setrokusumo yang merupakan keturunan Keraton kaya serta dihormati dan disegani memutuskan menikah dengan wanita yang bukan berasal dari keturunan keluarga Keraton, yang bernama Tuginem. Karena status ekonomi dan status sosial yang beda, hubungan Raden Ngabei dan Tugiyem tidak direstui oleh keluarga besar Raden Ngabei. Namun, Raden Ngabei tetap menikahi Tugiyem. Setelah menikah, ia dipanggil dengan nama ibu Bei. Ibu Bei membantu usaha batik yang didirikan oleh suaminya. Berkat kerja kerasnya, usaha batik merk canting milik mereka berkembang pesat.
Usaha canting ternyata mengalami kemajuan yang pesat. Khas karya batik tulisnya banyak digemari dan dikagumi oleh masyarakat kota Solo. Oleh Raden Ngabei dan Tugiyem, batik canting yang diproduksi dari perusahaan mereka dipasarkan di pasar Klewer. Tugiyem mengelola atau menekuni langsung usaha mereka. Walaupun Tugiyem telah menjadi seorang wanita karier, ia tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Dia tetap melayani suami dan semua anaknya dengan baik. Itulah sebabnya keenam anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang membanggakan. Wahyu Dewabrata menjadi dokter, Lintang Dewantri menjadi istri kolonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi insinyur, Wening Dewamurti menjadi dokter yang kemudian menjadi kontraktor yang sukses, serta si bungsu Subandini Dewaputri menjadi sarjana farmasi.
Karena teknologi makin lama makin modern dan banyak persaingan dari pengusaha lain, kesuksesan batik canting lama-kelamaan merosot. Batik canting mereka mulai mendapat saingan berat dari pabrik besar dan modern.
Melihat usaha yang dirintis oleh ibunya mulai menurun, Subandini Dewaputri mencoba mengambil alih usaha batik itu. Dengan penuh semangat ia berusaha melakukan persaingan dengan batik-batik keluaran pabrik-pabrik besar dan modern. Namun ia kalah bersaing. Penjualan batik mereka semakin merosot. Dia mulai frustasi dan akibatnya jatuh sakit. Katika sakit itulah timbul kesadaran dalam dirinya. Dia mulai memahami mengapa usaha batiknya tak dapat bersaing dengan produk-produk keluaran pabrik. Salah satu penyebabnya adalah masalah merk. Akhirnya dia memutuskan untuk mengubah merk canting menjadi Canting Daryono.
Keputusan mengubah merk canting menjadi Canting Daryono membuat usaha mereka lama-kelamaan mulai berkembang pesat. Usahanya mulai bisa bersaing dengan pabrik-pabrik besar di pasaran. Akibat kegigihannya mengembangkan usaha batik canting ini, akhirnya usahanya dapat dirintis kembali, dan batik merekapun mulai dikenal lagi. Semua kakak-kakaknya saling bantu membantu dalam usaha ini. Tidak hanya di dalam negeri, tapi usaha ini juga mulai dikenal di luar negeri.
Selama Subandini menangani perusahaan keluarganya, Hermawan pria pilihan hati Subandini setia menungguinya. Setelah perusahaan telah selesai ditandatangani, akhirnya Subandini menikah dengan Hermawan. Pernikahan tersebut dilaksanakan bertepatan dengan hari selamatan setahun meninggalnya Tugiyem (Bu Bei).

KAJIAN MAKNA
A. Makna kebudayaan
Dalam novel canting ini banyak sekali terdapat adat kebudayaan keraton. Novel ini banyak menceritakan adat kebiasaan, sikap, prilaku serta kehidupan dikeraton. Seperti mengadakan pertemuan setiap hari jumat keliwon, kebudayaan jawa tersebut dapat terlihat dari kutipan ini.
”Ide pertemuan setiap hari jumat keliwon, dimulai dari dalem Tumenggungan . kanjeng Raden Tumenggung Sosrodiningrat mengumpulkan kerabatnya setiap tiga puluh lima hari sekali, tepat hari jumat keliwon, untuk membicarakan kebudayaan jawa. Tadinya pertemuan itu bernama Ngrumpaka kebudayaan jawi, tetapi lalu disederhanakan atau dimasyarakatkan dengan bahasa yang tidak terlalu tinggi, yaitu nguri-uri kebudayaan jawa. Artinya yang terkandung sama, yaitu mengembangkan kebudayaan jawa…..”(canting :17)
Dari kutipan ini dapat terlihat bahwa kebudayaan jawa masih sangat kental dan dibutuhkan oleh masyarakat jawa. Kebudayaan jawa pada cerita ini masih selalu dikembangkan dan dibicarakan oleh orang-orang khususnya orang-orang keraton. Mereka masih mwnganggap kebudayaan jawa masih harus dikembangkan dan dibudayakan.
Pada novel canting ini kebanyakan wanitalah yang bekerja untuk kebutuhan hidup sehari-hari di pasar klewer. Seorang suami hanya suka menerima hasilnya saja, suami hanya duduk saja dirumah dan menerima uang dari hasil bekerja istrinya dipasar. Di pasar klewer yang paling banyak memenuhi pasar itu adalah wanit, para wanita selalu giat dalam memperdagangkan barang-barang itu. Dari sini dapat kita lihat bahwa wanita juga sama seperti pria, dapat bekerja sama seperti pria yang mencari nafkah untuk kehidupan keluarganya.

B. Makna Religius
Dari novel ini makna yang dapat kita ambil adalah tentang kesungguhan dan keuletan seorang perempuan untuk berbakti dan melayani suaminya dengan sungguh-sungguh dan setia. Padahal dalam cerita itu seorang suami yang istrinya sungguh-sungguh setia mempunyai wanita lain. Dari sini dapat kita lihat bahwa ketabahan seorang wanita itu sungguh besar, dan itulah yang diajarkan agama islam pada kita agar kita selalu tabah dalam menjalankan hidup.
Dalam novel ini juga masih terdapat adat istiadat yang masih sangat sering dilaksanakan yaitu dalam melaksanakan pertemuan keraton selalu ada minum-minuman keras dan perempuan, padahal semua itu adalah larangan allah SWT, wanita yang boleh digauli hanya seorang istri yang sah, tetapi pada cerita ini mereka (para keraton) sering berhubungan dengan wanita yang bukan istrinya.

7. JUDUL : MERAHNYA MERAH
PENGARANG : IWAN SIMATUPANG

SINOPSIS
Dalam suatu komunitas gelandangan disebuah kota besar mucul tokoh kilta dia disini adalh seorang laki-laki seoarag calon Rahip sebelum meletusnya revolusi fisik. Selama revolusi dia merupakan seoarang komandan kompi dan diakhir revolusi dia merupakan seorang algojo pemacung kepala penghianat-penghianat tertangkap. Kehadiran tokoh kita dalam komunitas gelandangan tersebut cukup dihormati dan dicintai oleh beberapa diantara penghuni komunitas itu terutama Maria. Maria dalam komunitas gelandangan itu dianggap sebagai ibu dari para ibu, dia dahulu bercita-cita menjadi seorang perawat karena dia takut darah dia batal menjadi perawat dan menjadi pelayan restoran katolik.Di tempat itu Maria diperkosa dan dia akhirnya keluar dari restoran itu. Sehinnga dia menjadi gelandangan sampai sekarang ini.
Tiba-tiba seorang yang terkenal Tokoh Kita, bergabung dengan sebuah kampong Gelandangan. Si Tokoh Kita mempunyai sejarah yang sangat panjang. Sebelim menjadi Gelandangan, yaitu sebelum revolusi, dia adalah calon rahib. Selama revolusi fisisk dia menjadi komandan kompi, sedangkan pada akhir revolusi dia menjadi algojo yang menghukum para penghianat revolusi. Setelah revolusi fisik berakhir dia menjadi pesien rumah sakit jiwa.
Kehadiran Tokoh kita di perkampungan Gelandangan tersebut sudah cukup mendapat perhatian dari para penghuni sebelumnya. Ada yang manerima kehadiranya dengan senang hati dan ada pula yang membenci kehadirannya akan tetapi, lama kelamaan si Tokoh kita menjadi disegani dan dihormati oleh para penghuni kampong gelandangan.
Orang yang paling tidak suka dengan Tokoh Kita dalam perkampungan gelandangan adalah si centang. Sejak kehadiran dalam perkampungan gelandangan, hubungan si Centeng dengan salah perempuan senior diperkampungan tersebut menjadi rengaang. Maria wanita yang dicintainya semakin akrab dengan tokoh kita. Si Centeng merasa cemburu dengan kehadairan Tokoh kita. Walaupun, si Centeng merupakan jagoan yang diantara gelandangan dia tidak berani mengganggu Tokoh kita. Dia takut Maria menjadi marah padanya. Karena itu si Centeng tidak berani menyindirnya.
Ternyata Maria juga mencintai Tokoh kita. Dia adalah wanita yang paling senior diamtara semua wanita yang ada di perkampunagan gelandangan. Hampir seluruh penghuni perkampugan gelandangan itu. Sebelum menjadi anggota perkampungan gelandangan itu. Dia dianggap sebagai ibunya kaum gelandangan. Hampir seluruh penghuni perkampungan itu merasa takut dan sangat menghormati karena Maria adalah wanita baik-baik. Dia ingin bercita-cita sebagai perawat dan bersekolah di perawat. Namun, karena takut dengan darah dia membatalkan cita-citanya. Gagal menjadi perawat dia bekerja sebagai sebagai pelayan di sebuah restoran katolik. Ketika bekerja di restoran tersebut dia mengalami nasib yang naas. Dia diperkosa oleh orang yang tidak diketahui identitasnya. Tak lama setelah kejadian itu tiba-tiba seorang pastor katolik mati gantung gantung diri dalam restoran itu. Maria merasa ketakutan dia melarikan diri dari restoran katolik itu. Dan kemudian dia bergabung dengan teman-teman gelandangannya dalam perkampungan gelandangan itu.
Semakin hari hubungan Tokoh kita dengan Maria semakin akarab. Namun, hubungan itu menjadi renggang karena Tokoh kita membawa Fifi masuk kedalam kelompok mereka. Maria merasa cemburu terhadap Fifi yang masih muda dan cantik. Dia cemburu karena Fifi makin akrab dengan si Tokoh kita.
Fifi adalah serang gadis yang baru berusia 14 tahun. Dia ditemukan oleh Tokoh kita di tepi jalanan. Pekerjaanya sebagai wanita tunasusila. Pekerjaan buruk itu terpaksa ia lakukan dia tidak mempunyai pelerjaan lainnya. Selain itu, dia juga pernah diperkosa oleh sekelompok laki-laki yang tak bermoral sehingga ia memutuskan untuk menjadi wanita tunasusila.
Pada suatu hari Fifi menghilang dari perkampungan gelandangan itu. Semua orang berusaha mencarinya. Akan tetapi usaha mereka selalu sia-sia. Mereka selalu pulang dengan tangan hampa. Gadis itu tidak berhasil ditemukan. Bahkan tubuhnya jejak kakinya pun tidak ditemuka. Orang yang merasa paling malu adalah Pak Centeng. Dai merasa malu karena dia selama ini belum pernah gagal dalam menunaikan tugasnya. Beberapa kali dia di tugaskan selalu berhasil menemukannya. Tapi untuk kali ini dia merasa sangat terhina karena dai tidak berhasik menemukan orang telah dia cari-cari selama ini.

Belum habis rara gelisah mereka kehilangan Fifi, tiba-tiba Tokoh kita menghilang dari perkampunagn itu. Mereka telah menyebar untuk mencari kedia orang itu. Namun, hasilnya juga sama mereka tidak menemukan keduia orang yang telah mereka cari. Pak Centeng seamkin merasa malu dan terhina. Tugas mencari orang hilang tidak membuahkan hasil.
Beberapa hari kemudian kampong gelandagan itu kembali geger sebab Maria pun ikut menghilang dari perkampungan itu. Seluruh penghuni perkampungan itu menjadi semakin kalang kabut. Semua kekuatan telah mereka kerahkan untuk mencari ketiga orang yang menghilang itu. Bahkan pihak keamanan pun juga ikut dikerahkan dalam pencarian mereka. Namun, seperta sebelumnya mereka selalu pulang dengan tangan kosong. Si Centeng semakin frustasi. Gelar jagoan yang disandangnya hendak dia lepaskan. Dia merasa malu menyandang gelar itu di mata teman-temannya yang sesama gelandangan itu dia merasa sudah tidak berguna lagi.
Di tengah-tengah kesedihan itu Tokoh kita muncul dalam perkampungan gelandangan. Berbagai pertanyaan mereka lontarkan kepada si Tokoh kita. Mereka juga menenyakan Fifi dan Maria. Sedangkan maria telah menjadi seorang biarawati untuk menebus dosa-dosanya. Karena Maria tealh membunuh Fifi karena cemburu dengan Fifi yang semakin dekat dengan Tokoh kita.
Pak Centeng merasa sangat marah mendengar cerita dari Tokoh kita karena dia beranggapan bahwa Tokoh kita masuk dalam komunitas mereka kehidupan kampong gelandangan aman-aman saja. Sebelum tokoh kita muncul Pak Centeng masih bisa bermesraan dengan Maria tetapi ketika Tokoh kita hadir cinta Maria beralih ketokohan kita pak Centeng mencabut goloknya keleher tokoh kita tanpa menghiraukan ancaman polisi yang baru datang tokoh kita meninggal dan polisi menembak kepala Pak Centeng. Akhirnya keduanya meninggal dunia dan dikubur dengan upacara militer yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi Negara.

KAJIAN MAKNA
A. Makna Psikologis
Pada novel ini terdapat banyak makna psikologis yakni ketika di restoran katolik Maria diperkosa dan dia akhirnya keluar dari restoran itu. Sehingga dia menjadi gelandangan sampai sekarang ini. Tak lama setelah kejadian itu tiba-tiba seorang pastor katolik mati gantung gantung diri dalam restoran itu. Maria merasa ketakutan dia melarikan diri dari restoran katolik itu. Dan kemudian dia bergabung dengan teman-teman gelandangannya dalam perkampungan gelandangan itu. Pekerjaan buruk Fifi sebagai wanita tunasusila terpaksa ia lakukan dia tidak mempunyai pelerjaan lainnya. Selain itu, dia juga pernah diperkosa oleh sekelompok laki-laki yang tak bermoral sehingga ia memutuskan untuk menjadi wanita tunasusila. Belum habis rara gelisah mereka kehilangan Fifi, tiba-tiba Tokoh kita menghilang dari perkampunagn itu. Mereka telah menyebar untuk mencari kedia orang itu. Namun, hasilnya juga sama mereka tidak menemukan keduia orang yang telah mereka cari. Pak Centeng seamkin merasa malu dan terhina. Tugas mencari orang hilang tidak membuahkan hasil.
Beberapa hari kemudian kampung gelandangn itu kembali geger sebab Maria pun ikut menghilang dari perkampungan itu. Seluruh penghuni perkampungan itu menjadi semakin kalang kabut. Semua kekuatan telah mereka kerahkan untuk mencari ketiga orang yang menghilang itu. Bahkan pihak keamanan pun juga ikut dikerahkan dalam pencarian mereka. Namun, seperti sebelumnya mereka selalu pulang dengan tangan kosong. Si Centeng semakin frustasi. Gelar jagoan yang disandangnya hendak dia lepaskan. Dia merasamalu menyandang gelar itu di mata teman-temannya yang sesam gelandangan itu dia merasa sudah tidak berguna lagi.

B. Makna Religius
Novel ini juga terdapat makna religius yakni ketikaMaria telah menjadi seorang biarawati untuk menebus dosa-dosanya karena Maria telah membunuh Fifi karena cemburu dengan Fifi yang semakin dekat dengan Tokoh kita.
C. Makna Kebudayaan
Makna kebudayaan pada novel ini ditunjukkan ketika upacara penguburan si Centeng dan tokoh aku dengan upacara kemiliteran.
D. Makna Sosial
Makna sosial ditunjukkan pada cerita – cerita tokoh pada novel yang status mereka yang pada tidak mampu dan untuk mencukupi kehidupan sehari – hari merrka bekerja menjadi tunasusila. Kampungnyapun semuanya warganya gelandangan sehingga ada julukan kampung gelandangan.

8. JUDUL BUKU : SAMAN
PENGARANG : AYU UTAMI

SINOPSIS
Laila bertemu dengan seorang pemuda bernam Sihar Sitomang. Dai adalah seorang insyinyur beklerja sebagai analisa kandungan minyak diperusahaan pertambangan minyak Seis Modyese. Teman yang sangat disayangi Sehar tewas dalam meledaknya katup peredam peledak yang berada dimulut sumur. Sihar merasa kecewa dan dendam terhadap Rosana karena Rosanalah yang menyebabkan terjadinya musibah itu.
Kemudain Laila memberi saran kepada Sihar supaya Rosana diadukan saja kepengadialn. Lalu Laila dan Sihar memendatangi seorang pengacara di Palembang pengacara itu adalah Saman. Laila dan Sihar meminta Saman untuk menyelesaikan masalahnya. Sihar pun merasa sangat gembira karena Saman berhasil memenagkan kasus mereka karena Saman memang seorang pengacara yang hebat dan pintar dalam menyelesaiakn suatu masalah.
Sihar dan Laila semakin dekat hubungannya. Mereka merupakan sepasang kekasih yang sama-sama saling mencintai. Karena rasa Laila yang besar terhadap Sihar akhirnya Laila pun menyerahkan keperawanannya kepada Sihar. Sihar dengan senang hati mendapatkan apa yang diinginkannya untuk memuaskan nafsunya.
Sudoyo menikah dengan Raden Ayu, pernikahan merekapun melahirkan seorang anak laki-laki bernama Wisanggeni. Wisanggeni tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan setelah Wisanggeni dewasa kemudian dia menjadi seorang pastur yanmg ramah. Pada suatu hari Wisanggeni hilang dibawa mobil rumah sakit ke suatu tempat dan semua orang-orang tidak mengetahuinya, orang-orang gereja pun mengira dia telah mati , setelah sekian lama Wisanggeni mengubah namanya menjadi Saman. Saman adalah seorang yang bekerja disebua LSM yang membantu orang-orang misksin dalm menyalesaikan suatu masalah. Tempat tinggal dia bersama keluarganya di daerah Prabumulih kota Minyak ditengah Sumatra selatan. Pada suatu saat dia dimintai tolong oleh seorang untuk membantunya. Guna menyelaesaikan masalah yang menelan korban jiwa oleh kecerobohan seorang pemimpin perusahaan yaitu Rasono. Dia dibantu oleh Yasmin dalam menangani kasus tersebut. Sebelum menggati nama menjadi Saman dia kenal dengan nama Wis.
Sihar pun menikah denganm wanita lain dan dia rela meninggalkan Laila kekasihnya yang telah dia renggut keperawanannya. Tetapi, walaupun Laila telah mengetahui bahwa Sihar telah menikah dengan wanita lain tapi Laila masih sangat mencintainya. Tetapi istri Sihar tidak mengetahui hubungan Sihar dengan Laila.
Sewaktu sekolah Saman mempunyai seorang teman wanita bernama Yasmin tetapi sekarang dia telah menikah. Saman dan Yasmin semakin akrab dan menjalin kasih mereka pun terlibat pergaulan bebas yang dilarang agama.

KAJIAN MAKNA

Kajian Makna Novel “ Saman” Karya Ayu Utami Tinjauan Feminisme
Dalam novel yang berjudul “Saman” ini diceritakan bahwa kehidupan mereka sangatlah bebas terbukti dengan tiga orang wanita yaitu Shakantala, Yasmin dan Laila. Mereka dibutaklan oleh perasaan cinta yang sangat besar padahal mereka dahulu sangat lugu, ramah, dan baik. Rasa cinta yang begitu besar dan nafsu mereka yang begitu besar pula akhirnya mereka terlibat pergaulan yang bebas yang sebenarnya dilarang agama.
Walaupun Yasmin telah mempunyai seorang suami dia tetap menjalin hubungan asmara denganm Saman. Dan Yasminpun menginginkan keturunan bayi dari Saman. Karena ia dan Saman telah melakukan hubngan seks layaknya suami istri. Laila pun juga pernah melakukan hubungan seks dengan Sihar kekasihnya yang sangat dia cintai tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi dari pergaulan bebasnya itu. Hal itupun tidak berbeda dengan Shakantala dia juga sangat mencintai kekasihnya dan juga rela menyerahkan keperawanannya kepada kekasihnnya. Demi rasa cintanya yang begitu besar terhadap kekasihnya itu sehingga dia rela melakukan perbuatan dosa itu.
Tokoh wanita dalam novel ini tidak dapat mengangkat harga diri seorang wanita, mereka terlalu lemah terhadap laki-laki. Merelakan harga dirinya dinijak-injak oleh kaum lelaki. Merekapun tidak memikirkan akibat yang telah mereka lakukan dari pergaulan bebas mereka. Merka hanya memikirkan kepuasan sesaat saja. Padahal mereka seharusnya sebagi seorang wanita modern yang peduli terhadap gerakan feminisme dia harus dapat menempatkan dirinya menjaga kesucian dan menjaga harga diri. Dalam novel Saman tokoh-tokoh wanitnya rela menjadi budak pemuas nafsu para lelaki. Perilaku mereka itu sungguh sangat amoral dan sangat mengiluti hawa nafsu mereka tanpa memikirkan dosa yang telah diperbuatnya. Feminisme sendiri adalah merupakan gerakan yang berusaha mengangkat harkat dan martabat wanita. Supaya bisa sejajar dengan kaum laki-laki supaya kaum wanita tidak dianggap rendah dan selalu dinijak-injak oleh kaum lelakidan supaya dihargai oleh kaum lelaki.

9. JUDUL BUKU : PARA PRIYAYI
PENGARANG : UMAR KAYAM

SINOPSIS
Dlam novel para priyayi menceritakan tentang seorang anak desa yang diangkat martabatnya menjadi seorang priyayi. Wage berasl dari Wanalawas yang menjadi cikal bakal Wanagalih. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ibunya berprofesi sebagai seorang pedagang tempe. Dia juga tinggal dengan nenek yang sudah pikun. Wage yang hanya anak desa yang hanya bisa main dan dia sangat berbakti pada neneknya. Dia bertugas hanya melayani neneknya untuk makan. Akan tetapi dia juga mengikuti ibunya untuk berjualan tempe, saat neneknya sudah meninggal Wage selalu mengikuti ibunya berjualan sesampainya di rumah Sastro Darsono, mereka selalu mempersilahkan untuk istirahat. Pada umur enam tahun Wage diminta keluarga Sastro Darsono menjadi salah satu bagian dari keluarganya. Disana Wage diubah namanya menjadi Latntip. Karena akan di sekolahkan oleh keluarga Darsono. Dan dia di latih menata meja membersihkan lantai dan sebagainya.
Sastrodarsono adalah yang berangkat menjadi keluarga priyayi karena ketekunan keluarga Sudarsono. Nama muda Sudarsono untuk menikahkan dia dan menyekolahkan dengan wanita yang pintar bernama Aisah, yaitu istri dari Sudarsono. Sastra darsono mempunyai tiga anak yang bernama Noegroho, Hardojo, dan seorang putri yang bernama Sumini. Selain itu, dia juga menyekolahkan keponakan-keponakanya yang salah satunya adalah ayah Lantip. Karena sebagai priyayi Jawa dia tidak boleh lupa dengan keluarganya. Maka sebab itu dia mengurus …., ayah Lantip dididik dengan baik. Karena sifatnya yang ugal-ugalan dan suka main perempua dia tidak menjadi apa-apa.
Setelah beberapa bulan kemudian ibunya meninggal karena makan jamur yang di cari di sawah. Kesedihan itu membuat Lantip mengetahui ayahnya yang sebenarnya. Ayah Lantip juga berasal dari keluarga Sastrodarsono. Akan tetapi dia orang tidak tahu diri. Dia tidak membuat nama keluarga Sastrodarsono bangga tetapi malah membuat iab dalam keluarga. Dan ketika keluarga Sastrodarsono membuat sekolah yang berada Wanawalas dia disuruh mengurusnya. Ketika itu ayah Lantip yang saling mencintai denagn paliyem telah berbuat hal yang sangat memalukan, sehinnga Paliyem akhirnya hamil. Tapi ketika Paliyem hamil dia malah meninggalkannya dan bergabung dengan gerombolan perampok. Untuk itulah dia didik dengan baik karena Sastrodarsono telah janji akan menanggung anak itu dengan baik.
Lantip dididik menjadi orang yang pintar dalam segala hal. Karena untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dia akan ikut dengan Hardoyo. Dan menjadi teman Harimurti. Lantip anak yang tahu diri walaupun dia anak harm dia akan tetap mengabdi pada keluarga itu dengan baik-baik. Karen adia juga telh dirawat dengan baik oleh keluargaitu dengan baik.
Pada saat Sastrodarsono sudah hampir meninggal. Dia menyuruh menebang pohon nagka yang trdapat di depan rumah itu kemudian untuk dibagikan. Tanpa sadar hal itu adalah salah satu pertanda Sasstrodarsosno akan meninggal dunia. Pada saat pemakaman Lantip memberikan pidato dengan baik dan tersusun rapi. Lantip adalah priyayi yang sebebarnya. Setelah pemakaman selesai dia berziarah kemakam ibunya bersama dengan Gus Har dan pacarnya.

KAJIAN MAKNA
A. Makna Sosial
Makna sosial yang dapat kita ambil dari novel ini adalah yang pertama seorang yang tidak mempunyai apa-apa dalam hidupnya bukan orang yang miskin. Seperti halnya Sudarsono dan Lantip yang berangkat dari seorang yang miskin. Menjadi orang yang terpandang dan di segani. Hanya satu yang dapat kita lakukan yaitu jika kita belajar dan berlatih untuk mewujudkan cita-cita.
B. Makna Kemanusian
Makna sosial yang terdapat pada novel ini adalah kita sebagai manusia tidak boleh melupakan orang-orang yang ada di sekitar kita, apalagi orang itu adalah keluarga kita sendiri. Hal itu dapat kita contoh dari sifat Sastrodarsono. Tidak pernah melupakan orang-orang yang menjadi saudaranya. Walaupun dia dititipi anak yang nakal tetapi dia juga tetap menjaga amanah itu. Dia tetap bertanggung jawab atas apa yang dilakukan anak itu.
Sastrodarsono selalu memcahakan masalah keluarganyadenagn musyawarahnya. Dari menikahkan putrinya yang bernama Sumini, memecahkan masalah Harjono karena mencintai Luluk yang berbeda agamadan bahkan saat dia akn pensiun karena tidak sepaham dengan pengajaran oleh orang-orang Nippon.
Semua nilai yang terkandungdalm novel ini merupakan suatu gambaran priyayi jjawa yang sebenarnya dengan penuh kesabaran, toleransi, dan kebersamaan serta keyakinan yang baik buat hidup kita menjadi lebih baik dan terarah dalam menjaga diri sendiri juga dalam menjaga hubungnan baik dengan seseorang di sekitar kita.

10. JUDUL :NOVEL NAYLA
PENGARANG :DJENAR MAHESA AYU

SINOPSIS
Nayla adalah seorang anak yang tinggal di rumah hanya dengan ibunya. Karena dia di tinggal pergi ayahnya. Ayahnya pergi meninggalkan Nayla dan Ibunya karena menikah lagi dengan perempuan lain.
Nayla sering mendapatkan perlakuan yang kasar dari Ibunya. Ibunya sering menyiksa Nayla. Hanya karna Nayla sering ngombol Ibunya tega menusuk vagina Nayla dengan peniti. Ibu Nayla sering jalan dengan banyak laki-laki. Sering kali Nayla di ajak ibunya jalan dengan cowok-cowoknya, kadang belanja, makan di Restoran. Ibu Nayla sering jalan dengan gonta-ganti cowok hanya ingin memanfaat laki-laki tersebut.
Suatu hari Nayla mendatangi rumah Ayahnya dan Nayla memilih tinggal dengan Ayahnya. Di rumah Ayahnya Nayla hidup bahagia karena Ayahnya sayang kepada Nayla, Ibu tirinya juga sayang kepada Nayla. Tetapi baru sebentar Nayla menikmati kebahagiaan hidup bersama Ayahnya, Ayahnya meninggalkan karna sakit yang di deritanya. Nayla sangat sedih atas kepergian Ayahnya, sampai-sampai dia sering tertawa-tawa seperti orang gila.
Juli adalah wanita pertama yang menawarkan persahabatan. Juli juga wanita yang suka sesama jenis, tapi bukan kelainan faktor genetic. Lama kelamaan mereka saling mencintai. Nayla dan Juli menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Nayla ditangkap dan dibawa ke rumah perawatan anak nakal dan narkotika. Ia berharap dijemput keluarganya, tetapi itu tidak mungkin Nayla pasrah. Ibu kandungannya saja tidak peduli dengan keadaannya, apalagi Ibu tirinya. Ibu tirinya justru yang memasukkannya ke rumah perawatan anak nakal dan narkotika. Ia tidak disukai teman-temannya karena menganggap Nayla sombong. Untunglah ada ibu Lina yang selalu menyayangi Nayla. Ibu Lina adalah satu-satunya pegawai di rumah perawatan anak nakal dan narkotika yang menyayangi Nayla.
Nayla mempunyai bakat menulis puisi dan cerpen. Dia mempunyai keturunan yang sama seperti ayahnya yang juga seorang penulis. Nayla mempunyai kekasih yang bernama Ben. Ia adalah sosok pemuda yang baik, pengertian dan setia. Tetapi Nayla malah egois dan seenaknya saja. Ia menatap langit yang tak berbintang dengan mata berkaca-kaca dan berkata haruskah Nayla putus dengan Ben?.
Ibu Nayla adalah orang yang kuat sekalipun hubungan dengan Om Indra putus. Ibu tidak jadi menikah dengan Om Indra, karena Om Indra menggauli pembantu dan akhirnya hamil. Ratu adalah ibu tiri Nayla yang lebih baik dan perhatian terhadapnya. Tetapi dia juga yang telah menjebloskan Nayla ke rumah perawatan anak nakal. Nayla sering bolos dan sering pulang malam. Nayla juga seorang penari, setiap malam minggu dihotel dan menerima tawaran kancan. Nayla merasa berhutang budi pada Juli. Karena selama ini Juli sangat baik kepadanya. Akhirnya Juli pergi maninggalkan Nayla, artinya meraka putus hubungan. Nayla frustasi sebentar ia menangis dan tertawa sendiri, orang menganggap bahwa Nayla sudah gila.
Nayla tidak bosen-bosennya menullis cerpen. Pada akhirnya karyanya dimuat juga. Ardan adalah sahabatnya yang dikenal ketika sedang interview salah satu stasiun radio Bandung. Merasa cocok sejak awal pertemuan dan kebetulaln saat itu Nayla ditawari seorang produser untuk menggarap dari bukunya.

KAJIAN MAKNA
A. Makna Psikologis
Pada novel Nayla terdapat makna psikologis yakni pada Nayla yang mempunyai takanan batin yang sangat dalam dan trauma akan perlakuan ibunya karena sering mendapat siksa fisik dan hati. Ia juga ingin memperoleh kasih sayang dari ayahnya walaupun hanya sebantar. Selain itu karena didikan Ibunya yang sangat mengekang dan sering menyiksanya, Nayla tumbuh menjadi anak remaja yang nakal. Karena la kerja menjadi penari di sebuah Diskotik. Karena lingkungannya yang seperti itu Nayla semakin menjadi anak yang tidak bermoral. Sering jalan atau kencan dengan laki-laki pengunjung Diskotik. Menyukai sesama jenis. Tidak mengerti agama sama sekali.
B. Makna Kemanusiaan
Makna kemanusiaan yang terdapat pada novel ini ditunjukkan ketika ada ibu Lina yang selalu menyayangi Nayla saat Ibu kandungannya tidak peduli dengan keadaannya, apalagi Ibu tirinya. Ibu tirinya justru yang memasukkannya ke rumah perawatan anak nakal dan narkotika. Ia tidak disukai teman-temannya karena menganggap Nayla sombong. Ibu Lina adalah satu-satunya pegawai di rumah perawatan anak nakal dan narkotika yang menyayangi Nayla.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s